KEPULAUAN RIAU – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggelar Workshop Perumusan “Rukun Budaye Kite” sebagai langkah konkret untuk mengangkat kearifan lokal menjadi nilai bersama dalam memperkuat kerukunan umat beragama. Kegiatan ini diharapkan melahirkan strategi berkelanjutan untuk menjaga keharmonisan masyarakat di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Provinsi Kepulauan Riau meningkat dari 67,11 pada periode 2021–2025 menjadi 83,68 pada 2025. Capaian tersebut menempatkan Kepri dalam kelompok provinsi dengan tingkat kerukunan yang tinggi secara nasional dan menjadi salah satu landasan pengembangan gagasan “Rukun Budaye Kite”.
Pemilihan kata kite, yang berarti kita, memiliki makna penting dalam menegaskan bahwa kerukunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok agama tertentu, melainkan kewajiban bersama seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama, etnis, maupun kelompok sosial.
Workshop yang didanai melalui Dana Hibah FKUB Provinsi Kepri Tahun 2026 ini melibatkan sekitar 100 peserta dari berbagai unsur masyarakat. Peserta terdiri atas perwakilan pemerintah daerah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepri, pengurus FKUB kabupaten/kota, pemuka agama, budayawan dari Lembaga Adat Melayu (LAM), organisasi kepemudaan, akademisi, insan media, serta kreator konten yang bergerak dalam isu kerukunan.
Pertemuan lintas sektor tersebut dirancang sebagai ruang dialog dan musyawarah untuk menyamakan persepsi sekaligus merumuskan model edukasi kerukunan yang berkelanjutan. Hasil pembahasan diharapkan menjadi rekomendasi kebijakan strategis bagi pemerintah daerah, khususnya dalam lingkungan pendidikan dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, S.E., M.M., hadir memberikan sambutan utama sekaligus membuka workshop secara resmi. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya mengelola keberagaman sebagai kekuatan daerah, sekaligus memastikan setiap masyarakat memperoleh ruang yang setara untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya.
Gubernur juga menyoroti tantangan di ruang digital, terutama penyebaran berita bohong atau hoaks dan ujaran kebencian yang berpotensi memicu konflik serta merusak persatuan masyarakat.
Dalam pernyataan imajiner yang dirumuskan berdasarkan substansi sambutan tersebut, Ansar Ahmad menegaskan bahwa kerukunan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kerukunan tidak cukup hanya menjadi slogan atau kegiatan seremonial. Kerukunan harus menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Melalui semangat ‘Rukun Budaye Kite’, kita ingin memastikan bahwa perbedaan bukan menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk membangun Kepulauan Riau yang aman, damai, dan sejahtera,” ujar Gubernur kepri, Ansar Ahmad, Rabu (21/10/2026).
Ia juga menekankan pentingnya peran seluruh elemen masyarakat dalam membangun ruang informasi yang sehat. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan memilah informasi sebelum menyebarkannya, terutama ketika berhadapan dengan konten yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman antarkelompok.
“Setiap orang memiliki tanggung jawab menjaga suasana yang kondusif, termasuk ketika menggunakan media sosial. Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya justru memecah belah masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, pendidik, pemuda, dan insan media harus bersama-sama mencerdaskan publik,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Kepri, menurut substansi sambutan tersebut, memberikan perhatian terhadap tindak lanjut workshop agar gagasan “Rukun Budaye Kite” tidak berhenti pada perumusan konsep, tetapi berkembang menjadi gerakan yang luas dan berkelanjutan.
Kedamaian Menjadi Modal Pembangunan dan Investasi
Ansar turut mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas daerah mengingat posisi strategis Kepulauan Riau di jalur perlintasan internasional. Kepri memiliki peran penting sebagai pintu gerbang Indonesia sekaligus wilayah yang menyimpan potensi ekonomi besar, khususnya di sektor kelautan dan perikanan.
Meskipun memiliki potensi pertambangan yang tidak sebesar sejumlah daerah lain, seperti Kalimantan, Kepri mempunyai kekayaan laut yang dapat dikembangkan melalui investasi, peningkatan nilai tambah, dan hilirisasi sektor kelautan serta perikanan.
Karena itu, situasi daerah yang aman dan damai dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kepercayaan investor.
“Potensi ekonomi yang kita miliki harus dikelola dengan baik. Namun, semua itu membutuhkan kondisi daerah yang aman, masyarakat yang rukun, dan kepercayaan yang terjaga. Kedamaian merupakan modal penting agar pembangunan dapat berjalan dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,” jelas Gubernur.
Upaya menjaga kerukunan tersebut sejalan dengan harapan agar Kepulauan Riau terus memperkuat posisinya sebagai daerah yang memiliki iklim sosial kondusif. Dalam paparan kegiatan, capaian kerukunan juga dikaitkan dengan perkembangan ekonomi Kepri yang disebut mencatat pertumbuhan tertinggi di Sumatra serta tren penurunan angka kemiskinan.
FKUB Dorong Kearifan Lokal Menjadi Praktik Nyata
Ketua Pelaksana Workshop, H. Abu Sufyan, S.Ag., M.Pd.I., menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada pengkajian frasa “Rukun Budaye Kite” agar dapat dikembangkan menjadi nilai bersama yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
“Slogan tersebut tidak sekadar menjadi identitas kegiatan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi perilaku nyata yang mencerminkan sikap saling menghormati, toleransi, dan kepedulian terhadap sesame,” ujar Abu Sofyan.
Konsep tersebut diharapkan menjadi kearifan lokal yang hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat Kepulauan Riau, baik dalam lingkungan keluarga, pendidikan, kehidupan sosial, maupun interaksi antarumat beragama.
Rangkaian kegiatan dipandu oleh Popy Nugraha Yanti dan dimulai dengan registrasi peserta serta tamu undangan. Acara pembukaan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lantunan Selawat Busyro, serta pembacaan doa yang dipimpin K.H. Imran Effendi Hasibuan, M.A.
Ketua Panitia H. Abu Sufyan kemudian menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Pembukaan juga dimeriahkan dengan pemutaran video kaleidoskop “Rukun Budaye Kite” dan penyerahan hadiah kepada para pemenang Sayembara Konten Kerukunan.
Rekomendasi Bersama untuk Menjaga Harmoni Kepri
Workshop tersebut ditutup pada sore hari melalui perumusan bersama dan penandatanganan dokumen rekomendasi “Rukun Budaye Kite”. Dokumen ini menjadi bentuk komitmen para pemangku kepentingan untuk memperkuat harmoni sosial dan menjaga kerukunan umat beragama di Kepulauan Riau.
Melalui rekomendasi tersebut, gagasan “Rukun Budaye Kite” diharapkan dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program edukasi, penguatan peran tokoh agama dan tokoh adat, peningkatan literasi digital, serta kegiatan sosial yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
Kolaborasi pemerintah, FKUB, lembaga adat, institusi pendidikan, organisasi kepemudaan, media, dan masyarakat luas menjadi faktor penting agar nilai toleransi tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan secara konsisten.
Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai landasan bersama, Kepulauan Riau diharapkan mampu mempertahankan keharmonisan di tengah keberagaman sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung pembangunan, investasi, dan kesejahteraan masyarakat. (Red/Jnd)





























