BENGKULU – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu merehabilitasi kawasan bersejarah Kampung Cina mendapat sambutan positif dari warga etnis Tionghoa yang telah lama menetap di kawasan tersebut. Program ini diharapkan mampu menghidupkan kembali kawasan bersejarah yang kini dinilai semakin sepi dari kunjungan masyarakat.
Dukungan tersebut muncul seiring dimulainya pembenahan fisik sejumlah bangunan tua di Kampung Cina. Penataan kawasan, termasuk pengecatan bangunan, dinilai dapat memperbaiki tampilan lingkungan sekaligus menjadi langkah awal untuk menarik kembali minat masyarakat berkunjung.
Chandra Setiawan (63), warga etnis Tionghoa yang telah lama tinggal di kawasan tersebut, menyatakan dukungannya terhadap langkah Wali Kota Bengkulu dalam membenahi Kampung Cina. Menurutnya, kawasan itu membutuhkan perhatian agar kembali ramai dan memiliki daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan.
“Kami sangat mendukung itu. Karena apa? Kampung Cina sepi pengunjung sekarang. Kalau ada Wali Kota pembenahan di sini, pasti ramai dia,” ujar Chandra saat ditemui di kediamannya, Selasa (20/10/2026).
Selain pembenahan bangunan, Chandra juga menyambut baik rencana pemerintah menggelar pentas seni dan pagelaran budaya secara rutin setiap bulan. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi daya tarik tambahan sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal keberagaman budaya yang tumbuh di Kota Bengkulu.
Ia menyebutkan, warga Tionghoa yang berada di sekitar kawasan Kampung Cina juga mendukung rencana tersebut. Chandra mencontohkan keberadaan kantor dan rumah Harapan Kasih (HK) di dekat wihara sebagai bagian dari lingkungan masyarakat yang mendukung upaya menghidupkan kembali kawasan itu.
“Sangat mendukung, karena kan di sini ada kantor HK (Harapan Kasih), rumah HK di sana samping wihara itu. Mereka kan semua warga Tionghoa, sangat mendukung,” tambahnya.
Dukungan serupa disampaikan L. Iskandar (74), warga etnis Tionghoa kelahiran Bengkulu. Ia menilai rencana revitalisasi Kampung Cina merupakan langkah positif untuk mengembalikan daya tarik kawasan yang memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari perjalanan perkembangan Kota Bengkulu.
Meski demikian, Iskandar berharap pembenahan tidak hanya berfokus pada bangunan, tetapi juga mencakup penataan pedagang yang beraktivitas di kawasan tersebut. Menurutnya, pengaturan yang baik diperlukan agar lingkungan tetap bersih, tertib, dan nyaman bagi pengunjung.
Penataan pedagang dinilai penting untuk mendukung keberhasilan program revitalisasi. Dengan lingkungan yang lebih teratur, pengunjung diharapkan dapat menikmati kawasan bersejarah tersebut tanpa terganggu oleh persoalan kebersihan maupun ketertiban.
Terkait rencana pentas budaya bulanan, Iskandar menyatakan terbuka terhadap berbagai bentuk kesenian yang akan ditampilkan. Ia mendukung pertunjukan seni dan tari tradisional Tionghoa maupun kesenian khas Bengkulu serta daerah lainnya.
“Boleh, pentas budaya boleh, apa saja boleh. Seni-seni bagus, tari-tarian Bengkulu, tari-tarian dari berbagai daerah itu datang boleh. Tergantung pada pemerintah. Pemerintah kata yes, ya yes. Kami sangat terbuka,” pungkas Iskandar.
Kampung Cina merupakan salah satu kawasan bersejarah yang menyimpan jejak panjang akulturasi budaya di Kota Bengkulu. Keberadaan bangunan tua, rumah ibadah, serta kehidupan masyarakat yang beragam menjadikan kawasan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Melalui rencana rehabilitasi bangunan, penataan lingkungan, dan penyelenggaraan kegiatan budaya secara berkala, masyarakat berharap Kampung Cina dapat kembali menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi. Upaya tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang bagi pelaku usaha setempat serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dukungan warga menjadi modal penting bagi Pemkot Bengkulu untuk mewujudkan revitalisasi yang tidak hanya memperindah kawasan, tetapi juga menjaga nilai sejarah, memperkuat keberagaman budaya, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Red/AAP)




























