PEKANBARU – Pengalaman panjang dalam birokrasi pemerintahan dapat menjadi sumber pembelajaran berharga bagi mahasiswa, terutama ketika teori akademik dihadapkan pada kompleksitas persoalan di lapangan. Pertemuan antara pengalaman praktis dan pemikiran akademik dinilai penting untuk memperluas perspektif mahasiswa dalam memahami penyelenggaraan pemerintahan dan proses pengambilan kebijakan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, Syahrial Abdi, mengatakan kehadirannya di lingkungan akademik bukan untuk menempatkan diri sebagai pemangku kebijakan yang memberikan penilaian, melainkan berbagi pengalaman selama menjalankan berbagai penugasan di lingkungan pemerintahan daerah.
“Jujur, saya bersyukur. Ini bukan berarti saya memiliki keahlian atau kemampuan akademik yang sangat tinggi, melainkan saya hadir untuk berbagi pengalaman yang pernah dilakukan sepanjang karier di birokrasi di berbagai lingkup organisasi pemerintahan,” kata Syahrial Abdi di Pekanbaru, Sabtu (17/10/2026).
Menurutnya, pengalaman birokrasi memiliki nilai tersendiri apabila dipertemukan dengan teori yang telah dipelajari mahasiswa di bangku kuliah. Berbagai persoalan pemerintahan yang dihadapi secara langsung dapat menjadi contoh konkret untuk membantu mahasiswa memahami penerapan konsep akademik dalam situasi nyata.
Syahrial mengaku bersyukur karena selama perjalanan kariernya memperoleh kesempatan menduduki berbagai posisi dan menjalankan beragam penugasan. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk memahami persoalan pemerintahan dari sejumlah sudut pandang, sesuai dengan karakter organisasi dan tanggung jawab yang dijalankan.
“Saya bersyukur pernah ditugaskan oleh para pimpinan di berbagai posisi, sehingga saya dapat memahami ragam permasalahan dari berbagai sudut pandang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keberagaman pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam memahami bahwa persoalan pemerintahan tidak selalu dapat diselesaikan melalui satu pendekatan. Setiap organisasi memiliki karakteristik, tantangan, kepentingan, dan dinamika tersendiri sehingga membutuhkan cara pandang serta strategi penyelesaian yang sesuai.
Oleh karena itu, pengalaman birokrasi yang dibagikannya kepada mahasiswa pascasarjana diharapkan dapat menjadi bahan kajian dan analisis akademik. Mahasiswa tidak hanya menerima pengalaman praktis sebagai pengetahuan, tetapi juga memiliki ruang untuk mengujinya melalui teori, kajian ilmiah, dan perspektif kritis yang dipelajari selama menempuh pendidikan.
Syahrial menilai, proses pembelajaran akan lebih bermakna apabila mahasiswa mampu melihat hubungan antara materi perkuliahan dan realitas penyelenggaraan pemerintahan. Dengan demikian, mahasiswa dapat memahami bahwa penerapan kebijakan di lapangan melibatkan berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan secara menyeluruh.
“Jadi, proses pembelajaran akan menjadi lebih baik ketika kita mampu melihat hubungan antara apa yang dipelajari di ruang kuliah dengan realitas penyelenggaraan pemerintahan. Pengalaman lapangan dapat menjadi bahan kita untuk memahami mengapa sebuah kebijakan berjalan efektif, menghadapi hambatan, atau bahkan membutuhkan evaluasi,” ungkapnya.
Melalui pertukaran pengalaman antara praktisi pemerintahan dan kalangan akademisi, mahasiswa diharapkan semakin memahami dinamika birokrasi serta mampu mengembangkan pemikiran kritis dalam menganalisis kebijakan publik. Pengalaman lapangan dan teori akademik pun dapat saling melengkapi sebagai bekal untuk memahami tantangan penyelenggaraan pemerintahan secara lebih komprehensif. (Red/Asy)




























