SAHABAT RAKYAT, Lumajang — Pendidikan kebangsaan sejak usia dini dinilai semakin penting di tengah perkembangan era digital yang menghadirkan arus informasi tanpa batas. Penguatan karakter kebangsaan dianggap menjadi langkah strategis untuk menjaga persatuan dan kohesi sosial di tengah meningkatnya potensi disinformasi di media digital.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan wawasan kebangsaan bagi siswa kelas 5 SD Negeri Wates Kulon 02, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, pada Senin (18/5/2026). Materi yang diberikan menitikberatkan pada pemahaman nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi hidup dalam keberagaman.
Komandan Kodim 0821 Lumajang, Letkol Arh Anton Subhandi, mengatakan bahwa pendidikan kebangsaan di tingkat sekolah dasar menjadi investasi penting untuk menjaga persatuan bangsa pada masa mendatang.
“Anak-anak sekarang tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat cepat. Mereka menerima banyak informasi setiap hari. Karena itu, pendidikan kebangsaan harus ditanamkan sejak dini agar mereka memiliki filter nilai, mampu menghargai perbedaan, dan tetap menjaga persatuan,” ujarnya.
Menurut Anton, perkembangan teknologi digital membawa manfaat besar bagi dunia pendidikan, namun juga menghadirkan tantangan baru. Informasi yang belum terverifikasi, konten provokatif, hingga narasi yang berpotensi memecah belah dinilai mudah diakses anak-anak.
Ia menilai tanpa fondasi karakter yang kuat, generasi muda berisiko menerima informasi secara mentah tanpa kemampuan memilah isi dan dampaknya.
Babinsa Wates Kulon Koramil 0821-06/Ranuyoso, Kopka Sudarmono, mengatakan bahwa kegiatan tersebut, para siswa diajak memahami bahwa perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama.
“Sebagai generasi penerus bangsa, adik-adik harus bangga menjadi anak Indonesia. Walaupun berbeda-beda, kita tetap satu tujuan, yaitu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Sudarmono.
Kepala SD Negeri Wates Kulon 02, Muhammad Syamroni, menilai bahwa kegiatan tersebut memperkuat pendidikan karakter yang selama ini menjadi perhatian sekolah.
Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan sikap dan karakter peserta didik.
“Pemahaman kebangsaan akan menjadi bekal penting bagi siswa untuk tumbuh sebagai warga negara yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Penguatan wawasan kebangsaan di lingkungan sekolah dinilai menjadi benteng sosial dalam menghadapi pengaruh disinformasi, intoleransi, dan konflik berbasis perbedaan di era digital. Pendidikan karakter pun dianggap penting agar perkembangan teknologi berjalan seiring dengan kedewasaan sosial generasi muda. (red)

































