Aceh – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperluas akses pasar digital serta menghadirkan dukungan pengembangan usaha, pemasaran, dan layanan logistik untuk mempercepat pemulihan usaha pelaku UMKM terdampak bencana di Provinsi Aceh.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Fasilitasi Landing Page UMKM Sumatera Bangkit Bersama dalam rangkaian Klinik UMKM Bangkit di Banda Aceh, Selasa (13/10/2026). Selain itu, Kementerian UMKM berkolaborasi dengan J&T Express melalui program Jawara Lokal yang diselenggarakan sehari sebelumnya, Senin (12/10/2026).

Asisten Deputi Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM, Ari Anindiya, mengatakan pemulihan usaha pascabencana tidak cukup hanya dengan mengembalikan kemampuan produksi. Pelaku UMKM juga membutuhkan perluasan akses pasar agar dapat kembali memperoleh pendapatan dan membangun usaha yang berkelanjutan.

“Bagi pengusaha UMKM terdampak bencana, tantangannya bukan hanya bagaimana kembali berproduksi, tetapi juga bagaimana produk mereka kembali dikenal konsumen dan memiliki akses pasar yang lebih luas,” kata Ari.

Menurutnya, melalui Klinik UMKM Bangkit, Kementerian UMKM menghadirkan pendampingan praktis yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha. Pendampingan tersebut terutama diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital guna memperluas jangkauan konsumen.

Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah fasilitasi landing page khusus UMKM Sumatera yang terintegrasi dengan ekosistem lokapasar (marketplace). Fasilitas ini membantu pelaku UMKM membangun toko digital, menampilkan produk secara lebih menarik, serta menjangkau konsumen di luar wilayah pemasaran sebelumnya.

Pemanfaatan teknologi digital diharapkan tidak hanya meningkatkan visibilitas produk, tetapi juga membuka peluang transaksi yang lebih luas. Dengan demikian, pelaku UMKM dapat mempercepat pemulihan pendapatan dan kembali mengembangkan usahanya setelah terdampak bencana.

“Kami ingin digitalisasi memberikan hasil nyata bagi pengusaha UMKM. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar harus semakin mudah ditemukan konsumen melalui kanal digital, sehingga peluang transaksi dan peningkatan penjualan semakin terbuka,” ujar Ari.

Ari menjelaskan, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, pengembangan landing page bersama berbagai lokapasar telah melibatkan lebih dari 4.000 UMKM dengan capaian penjualan lebih dari 45 juta produk.

Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi ekosistem perdagangan digital dalam membantu pelaku UMKM memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan transaksi, dan membangun kembali kegiatan usaha setelah terdampak bencana.

“Capaian ini menunjukkan besarnya peluang pasar digital bagi UMKM. Karena itu, kami ingin semakin banyak pengusaha UMKM di Aceh memanfaatkan ekosistem digital untuk memperluas pasar dan mempercepat pemulihan usaha,” katanya.

Fasilitasi pemasaran digital tersebut menyasar pelaku UMKM di Kota Banda Aceh serta wilayah koordinasi Aceh 5, yang meliputi Kabupaten Aceh Tamiang, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Gayo Lues, Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Singkil, dan Kabupaten Aceh Tenggara.

Selain memperluas akses pasar melalui teknologi digital, Kementerian UMKM juga menghadirkan dukungan pengembangan usaha dan layanan logistik melalui kolaborasi dengan J&T Express dalam program Jawara Lokal.

Melalui program tersebut, pelaku UMKM yang terpilih berdasarkan proses kurasi bersama Kementerian UMKM dan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Aceh memperoleh dana pengembangan usaha masing-masing sebesar Rp15 juta. Mereka juga mendapatkan potongan ongkos kirim sebesar 30 persen, akses layanan VIP J&T Express, dukungan promosi, serta pendampingan logistik.

Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengiriman dan memperluas jangkauan distribusi produk UMKM. Aceh menjadi wilayah ketiga dari lima wilayah penyelenggaraan program Jawara Lokal, setelah sebelumnya dilaksanakan di Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat.

Ari menegaskan, akses pasar digital dan layanan logistik merupakan dua kebutuhan yang saling melengkapi. Kemudahan konsumen dalam menemukan produk melalui platform digital harus diimbangi dengan kemampuan pelaku UMKM memenuhi pesanan dan mengirimkan barang secara efisien.

“Produk UMKM harus semakin mudah ditemukan konsumen, tetapi juga perlu didukung layanan pengiriman yang memadai. Karena itu, kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan platform digital menjadi penting agar pengusaha UMKM tidak hanya bangkit, tetapi juga semakin berdaya saing,” kata Ari.

Manfaat dukungan tersebut dirasakan Silfia Safriani, pelaku usaha Keuneubah Endatu asal Kabupaten Pidie Jaya, yang terpilih sebagai salah satu penerima manfaat program Jawara Lokal.

Silfia menceritakan bahwa banjir bandang pada akhir November 2025 sempat menghentikan seluruh kegiatan usahanya. Bencana tersebut membuatnya harus merintis kembali usaha dari awal setelah kehilangan kesempatan untuk berproduksi dan menjalankan kegiatan perdagangan seperti sebelumnya.

Dengan dukungan berbagai pihak, Silfia mulai membangun kembali usahanya pada Februari 2026. Ia secara bertahap memulihkan kegiatan produksi sekaligus memanfaatkan pemasaran digital untuk menjangkau kembali konsumen.

“Alhamdulillah, kami bisa terpilih. Dampak bencana membuat kami harus memulai usaha lagi dari nol,” kata Silfia dengan haru.

Bagi Silfia, bantuan pengembangan usaha dan perluasan akses pemasaran menjadi kesempatan penting untuk membangun kembali kepercayaan diri sekaligus meningkatkan kemampuan usahanya dalam memenuhi permintaan pasar.

Ia mengungkapkan, pemasaran melalui kanal digital memberikan perubahan signifikan terhadap penjualan produknya. Jika sebelumnya ia hanya mampu menjual sekitar satu kotak per hari, kini penjualannya dapat mencapai 100 kotak.

“Penjualan kami sekarang banyak lewat online. Dulu sehari paling satu kotak, sekarang bisa 100 kotak,” ujarnya.

Pengalaman Silfia menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi pascabencana tidak hanya bergantung pada tersedianya kembali sarana produksi, tetapi juga pada kemampuan pelaku UMKM menemukan peluang pasar, memperoleh dukungan usaha, dan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen.

Kementerian UMKM berharap sinergi melalui Klinik UMKM Bangkit dan program Jawara Lokal dapat mempercepat pemulihan usaha, memperluas jangkauan pemasaran, serta membangun ekosistem bisnis yang lebih tangguh bagi pelaku UMKM di Aceh.

Melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan platform digital, pelaku UMKM terdampak bencana diharapkan tidak hanya mampu kembali menjalankan usaha, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Kementerian UMKM untuk memastikan pemulihan ekonomi pascabencana berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, pelaku UMKM diharapkan kembali menjadi penggerak perekonomian daerah sekaligus berkontribusi terhadap penguatan ketahanan ekonomi nasional. (Red)