JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat infrastruktur sumber daya air untuk mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sebanyak 53 Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dibangun pada 2025 memiliki potensi layanan untuk mendukung pengairan lahan pertanian seluas 1.307,94 hektare.

Keberadaan jaringan irigasi tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian, terutama ketika musim kemarau tiba dan ketersediaan air permukaan mengalami keterbatasan. Infrastruktur ini menjadi salah satu alternatif penyediaan air untuk mendukung keberlangsungan kegiatan pertanian di daerah yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi pangan nasional tersebut.

Ketersediaan air merupakan faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian. Pasokan air yang memadai diperlukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman, menjaga keberlangsungan musim tanam, serta membantu petani menghadapi perubahan kondisi cuaca. Karena itu, pembangunan jaringan irigasi air tanah menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat dukungan infrastruktur bagi sektor pertanian.

Meski demikian, pemanfaatan jaringan irigasi air tanah perlu disesuaikan dengan ketersediaan sumber air tanah dan kondisi infrastruktur di lapangan. Pengelolaan yang tepat diperlukan agar air dapat dimanfaatkan secara efisien dan menjangkau lahan pertanian sesuai kebutuhan.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, pembangunan infrastruktur irigasi harus diikuti dengan pengelolaan air yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh petani. Menurutnya, efisiensi penggunaan air menjadi hal penting untuk memastikan ketersediaan air dapat mendukung kegiatan pertanian secara berkelanjutan.

Selain itu, pembangunan jaringan irigasi tersier perlu dipercepat agar distribusi air dari jaringan utama dapat menjangkau lahan pertanian secara lebih efektif. Dengan jaringan distribusi yang memadai, potensi air yang tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan mengurangi pemborosan selama penyaluran.

“Air ini harus kita hemat dan kelola dengan baik. Saya minta agar jaringan tersier segera dibangun, sehingga air tidak terbuang dan bisa menjangkau lebih banyak sawah secara efisien,” kata Menteri Dody.

Dari total 53 JIAT yang dibangun di Kabupaten Indramayu, sebanyak 26 unit merupakan bagian dari program reguler Kementerian PU. Jaringan tersebut memiliki panjang keseluruhan 23,74 kilometer dengan potensi layanan untuk lahan pertanian seluas 523,69 hektare.

Sementara itu, 27 unit JIAT lainnya dibangun melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025. Infrastruktur yang berasal dari program tersebut memiliki panjang jaringan 37,85 kilometer dan potensi layanan seluas 784,25 hektare.

Jika digabungkan, kedua program tersebut menghasilkan 53 unit jaringan irigasi air tanah dengan panjang keseluruhan mencapai 61,59 kilometer. Infrastruktur itu memiliki potensi layanan untuk mendukung pengairan lahan pertanian seluas 1.307,94 hektare.

Pembangunan jaringan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat penyediaan air bagi sektor pertanian, khususnya di wilayah yang membutuhkan dukungan sumber air alternatif. Dengan adanya JIAT, petani diharapkan memiliki pilihan tambahan untuk memenuhi kebutuhan pengairan ketika pasokan air permukaan tidak mencukupi.

Indramayu menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan dukungan infrastruktur irigasi untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian. Ketersediaan jaringan pengairan yang memadai diharapkan dapat membantu petani mengelola lahan secara lebih optimal, terutama saat menghadapi periode dengan curah hujan rendah.

Pembangunan 53 JIAT tersebut dilaksanakan oleh Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung pada 2025. Pelaksanaan pembangunan ini merupakan bagian dari program pengembangan infrastruktur sumber daya air untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.

Kementerian PU terus mendorong pembangunan dan penguatan infrastruktur irigasi sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Upaya tersebut juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam mendukung pembangunan sektor pertanian dan memperkuat ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Ke depan, optimalisasi pemanfaatan jaringan irigasi air tanah diharapkan tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga didukung pengelolaan air yang efisien, pemeliharaan jaringan secara berkelanjutan, serta pembangunan saluran tersier yang memadai. Dengan langkah tersebut, potensi layanan 1.307,94 hektare lahan pertanian di Indramayu diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi petani dan mendukung keberlanjutan produksi pangan nasional. (Adv)