Foto: Istimewa

Tokyo – Universitas Hirosaki dan Perhimpunan Bedah Jepang mengumumkan keberhasilan pelaksanaan operasi terhadap lima pasien kanker usus menggunakan teknologi robotik yang dikendalikan dari jarak jauh. Prosedur tersebut telah dilakukan sejak Agustus dan menjadi bagian dari upaya Jepang mengatasi kekurangan dokter serta ketimpangan distribusi tenaga medis di berbagai wilayah.

Operasi tersebut dilaksanakan oleh dokter dari Rumah Sakit Universitas Hirosaki dan Rumah Sakit Umum Tsugaru. Kedua rumah sakit tersebut berada di Prefektur Aomori, wilayah timur laut Jepang.

Menurut Universitas Hirosaki dan Perhimpunan Bedah Jepang, prosedur ini merupakan penerapan klinis pertama di Jepang yang melibatkan dokter di lokasi berbeda untuk melakukan operasi menggunakan sistem robotik yang sama.

Dalam pelaksanaannya, seorang dokter mengoperasikan robot bedah bernama hinotori yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang, Medicaroid Corp. Dokter lain yang berada di lokasi berbeda turut membantu dengan mengendalikan sistem robotik yang sama dari jarak jauh.

Teknologi ini memungkinkan para dokter bekerja sama dalam prosedur pembedahan tanpa harus berada di ruang operasi yang sama. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasien terhadap layanan bedah, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan tenaga medis spesialis.

Pengembangan operasi robotik jarak jauh menjadi salah satu upaya Jepang untuk menjawab persoalan kekurangan dokter dan ketidakmerataan distribusi tenaga kesehatan. Selama ini, perbedaan ketersediaan tenaga medis antardaerah dapat menyulitkan pasien dalam memperoleh layanan kesehatan yang memadai.

Melalui teknologi tersebut, dokter spesialis di suatu wilayah diharapkan dapat membantu pelaksanaan operasi di rumah sakit lain tanpa harus melakukan perjalanan secara fisik. Dengan demikian, kolaborasi antardokter dapat dilakukan secara lebih fleksibel, sekaligus membuka peluang peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di daerah.

Meski lima operasi telah berhasil dilaksanakan, Universitas Hirosaki dan Perhimpunan Bedah Jepang masih akan melanjutkan pengujian untuk memastikan keamanan dan kelayakan metode tersebut sebelum diterapkan secara lebih luas.

Kedua lembaga itu berencana melaksanakan beberapa operasi tambahan menggunakan metode serupa hingga Maret. Tahapan tersebut diperlukan untuk mengumpulkan bukti mengenai keamanan prosedur sebelum mengajukan persetujuan kepada regulator terkait penggunaan peralatan yang dibutuhkan.

Selain memperoleh persetujuan regulator, kedua lembaga tersebut juga berupaya agar prosedur operasi robotik jarak jauh dapat masuk dalam cakupan program asuransi kesehatan nasional Jepang. Langkah ini dinilai penting agar teknologi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan pasien tanpa menimbulkan beban biaya tambahan yang memberatkan.

Masaki Mori, profesor Universitas Tokai sekaligus ketua komite promosi bedah jarak jauh di Perhimpunan Bedah Jepang, menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan teknologi ini adalah mengurangi kesenjangan layanan bedah antarwilayah.

Dalam konferensi pers di Universitas Hirosaki, Mori menegaskan pentingnya menghadirkan akses pelayanan bedah yang lebih merata bagi masyarakat, terlepas dari lokasi tempat tinggal mereka.

Ia juga menyampaikan harapan agar operasi robotik jarak jauh dapat diterapkan secara komersial dalam waktu sekitar dua tahun. Jika pengembangan dan proses persetujuan berjalan sesuai rencana, teknologi tersebut berpotensi menjadi salah satu solusi untuk memperluas jangkauan layanan bedah spesialis di Jepang.

Universitas Hirosaki dan Perhimpunan Bedah Jepang berharap penerapan teknologi ini dapat diperluas ke berbagai wilayah di negara tersebut. Dengan semakin luasnya akses terhadap operasi jarak jauh, pasien diharapkan tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan.

Selain mengurangi kesulitan perjalanan, penerapan sistem ini juga diharapkan dapat mencegah munculnya biaya tambahan bagi pasien. Pada akhirnya, pengembangan operasi robotik jarak jauh diharapkan mendukung pemerataan layanan kesehatan, meningkatkan akses terhadap dokter spesialis, serta memperkuat kualitas pelayanan medis bagi masyarakat Jepang. (Red)