OKU TIMUR – Di tengah musim kemarau dan ancaman El Niño, lahan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, mulai menunjukkan potensi produktivitas yang menjanjikan. Hasil pengambilan sampel ubinan di Desa Campang Tiga Ulu, Kecamatan Cempaka, tercatat setara dengan 7,76 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Capaian ini menjadi salah satu indikator potensi lahan sawah baru dalam mendukung peningkatan produksi pangan daerah.
Bupati OKU Timur, Ir. H. Lanosin, M.T., M.M., menghadiri Panen Raya Indeks Pertanaman (IP) 200 di lokasi program CSR Tahun Anggaran 2025 di Desa Campang Tiga Ulu, Rabu (28/10/2026). Panen dilaksanakan pada lahan seluas 3 hektare dari total 97,12 hektare lahan program di desa tersebut. Padi yang dibudidayakan menggunakan varietas Inpari 47 dan Inpari 49.
Dalam kesempatan itu, Lanosin menyampaikan bahwa ketahanan sektor pertanian di tengah kondisi cuaca yang menantang merupakan hasil kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta sinergi berbagai pihak. Menurutnya, produktivitas pertanian harus terus dijaga dan ditingkatkan agar mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Di tengah musim kemarau dan ancaman El Niño, alhamdulillah sektor pertanian OKU Timur tetap mampu menunjukkan ketahanannya. Ini menjadi bukti bahwa melalui kerja keras petani, dukungan pemerintah, dan sinergi seluruh pihak, produktivitas pertanian harus terus kita jaga dan tingkatkan,” ujar Lanosin.
Ia menjelaskan, program cetak sawah merupakan salah satu upaya untuk mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Bupati juga mendorong agar hasil produksi pertanian daerah dicatat secara terukur oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga kontribusi OKU Timur terhadap produksi pangan nasional dapat tergambarkan secara akurat.
Sebagai bentuk dukungan terhadap petani, pemerintah menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta pompa air. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi dan memperluas akses pengairan, terutama bagi lahan yang belum terjangkau jaringan irigasi.
Selain itu, pemerintah daerah terus mendorong upaya pengelolaan sumber daya air, termasuk rencana pembangunan sodetan di wilayah pesisir Komering. Infrastruktur tersebut direncanakan untuk mendukung penanganan banjir sekaligus melindungi lahan pertanian dari dampak genangan.
“Cempaka bisa, maka wilayah lain juga harus bisa! Mari kita tularkan semangat, inovasi, dan keberhasilan ini agar semakin banyak wilayah mampu meningkatkan indeks pertanaman, produktivitas, dan kesejahteraan petani,” tegasnya.
Kepala Dinas Pertanian OKU Timur, Niswaturrohmah, S.T.P., M.E.P., menjelaskan bahwa pada 2025 Kabupaten OKU Timur memperoleh alokasi program cetak sawah dari Kementerian Pertanian. Berdasarkan hasil Survei Investigasi dan Desain (SID), luas lahan yang disurvei mencapai 6.149,97 hektare. Dari jumlah tersebut, konstruksi telah terealisasi pada lahan seluas 4.930,56 hektare, sedangkan 1.219,41 hektare lainnya belum memasuki tahap konstruksi.
Ia berharap program tersebut dapat dilanjutkan pada 2026 atau 2027 agar seluruh lahan yang telah melalui tahapan survei dapat dibangun menjadi sawah. Keberlanjutan program dinilai penting untuk memenuhi harapan petani sekaligus memperluas areal tanam di OKU Timur.
Dari total lahan yang telah dikonstruksi, kegiatan penanaman dan panen padi sudah dilaksanakan pada areal seluas 3.253,81 hektare. Hasil ubinan sebesar 7,76 ton GKP per hektare di Desa Campang Tiga Ulu menjadi capaian yang menggembirakan bagi pengembangan lahan sawah baru. Meski demikian, pengelolaan dan optimalisasi lahan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga produktivitas.
Dukungan sarana pertanian yang diserahkan meliputi 200 unit pompa air berukuran 3 inci dan 38 unit rice transplanter dari pemerintah pusat, serta 22 unit sumur bor dangkal dan dalam dari pemerintah daerah. Bantuan ini diharapkan menunjang kebutuhan pengairan dan kegiatan budidaya, dengan tetap disertai pendampingan serta pengelolaan lahan yang konsisten.
Seorang warga yang berprofesi sebagai petani menyambut baik pengembangan sawah baru dan bantuan sarana pertanian tersebut.
“Kami berharap lahan yang sudah dicetak bisa terus produktif, terutama saat musim kemarau. Bantuan pompa air dan alat pertanian sangat dibutuhkan agar pekerjaan lebih mudah dan hasil panen semakin baik,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).
Pengembangan program cetak sawah di OKU Timur tidak hanya berorientasi pada penambahan luas lahan, tetapi juga memastikan lahan baru dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi pemerintah dan petani, lahan tersebut diharapkan menjadi sumber peningkatan produksi pangan sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. (Red/Ynd)






























