JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan kinerja positif hingga kuartal III 2026 dengan membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun. Angka tersebut tumbuh 11,6 persen secara tahunan (year on year/YoY) dan menjadi capaian tertinggi perseroan untuk periode kuartal III sepanjang sejarah.
Kinerja tersebut mencerminkan ketahanan fundamental BNI di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan margin industri perbankan. Pertumbuhan ditopang oleh ekspansi kredit yang terukur, penguatan dana murah, peningkatan pendapatan, serta pengelolaan risiko yang disiplin.
Hingga September 2026, penyaluran kredit BNI tumbuh 22,2 persen secara tahunan menjadi Rp992,5 triliun. Pertumbuhan tersebut tersebar di seluruh segmen bisnis. Sementara itu, dana murah atau current account savings account (CASA) meningkat 19,6 persen menjadi Rp733,7 triliun.
Di tengah tantangan industri, BNI juga membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6 persen secara tahunan menjadi Rp16,1 triliun. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 13,6 persen menjadi Rp33,2 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income tumbuh 8,3 persen menjadi Rp13,9 triliun.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil konsistensi perusahaan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.
“Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis.
Digitalisasi Dorong Transaksi dan Dana Murah
Transformasi layanan digital menjadi salah satu penopang pertumbuhan bisnis BNI. Hingga September 2026, aplikasi wondr by BNI telah memiliki 16,6 juta pengguna, meningkat 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai transaksinya mencapai Rp1.774 triliun atau tumbuh 25 persen secara tahunan.
Sementara itu, platform perbankan digital untuk bisnis, BNIdirect, mencatat nilai transaksi sebesar Rp9.324 triliun, meningkat 16 persen secara tahunan. Jumlah penggunanya mencapai 293 ribu atau tumbuh 19 persen.
Penguatan kanal digital tersebut berjalan beriringan dengan transformasi jaringan cabang melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment). Program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, serta penghimpunan dana murah.
Putrama menyampaikan bahwa integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, dan memperkuat hubungan dengan nasabah dari berbagai segmen.
Ekspansi Kredit Diimbangi Pengelolaan Risiko
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan bahwa ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit atau underwriting yang disiplin. Strategi tersebut turut mendorong peningkatan pangsa pasar kredit BNI sebesar 113 basis poin menjadi 10,6 persen.
Dari sisi pendanaan, pertumbuhan CASA mencapai 19,6 persen menjadi Rp733,7 triliun. Hingga September 2026, dana giro BNI tumbuh 25,9 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8 persen berdasarkan data Agustus 2026.
Pangsa pasar giro BNI meningkat 120 basis poin menjadi 13,2 persen. Sementara itu, pangsa pasar tabungan naik 10 basis poin menjadi 9,2 persen, didukung pertumbuhan tabungan sebesar 11,6 persen secara tahunan.
Meski demikian, tekanan margin masih menjadi tantangan. Rasio net interest margin (NIM) BNI turun 30 basis poin menjadi 3,5 persen, terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit dari 7,3 persen menjadi 6,9 persen. Adapun biaya dana atau cost of fund (CoF) relatif terkendali dan turun dari 2,83 persen menjadi 2,77 persen, didukung peningkatan dana murah.
Paolo menegaskan bahwa pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan pendanaan menjadi bagian penting untuk menjaga keseimbangan ekspansi bisnis dan profitabilitas.
Dari sisi risiko, Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menyampaikan bahwa kualitas aset perseroan terus membaik. Rasio loan at risk (LaR) turun dari 10,4 persen menjadi 7,8 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik dari 2,0 persen menjadi 1,9 persen.
BNI juga menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 3,5 persen. Sementara itu, rasio cakupan pencadangan terhadap NPL (NPL coverage ratio) tercatat sebesar 193,3 persen.
David menjelaskan bahwa pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan setelah kredit disalurkan. Upaya tersebut turut didukung penguatan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi potensi peningkatan risiko.
Likuiditas dan Permodalan Tetap Kuat
Selain mencatatkan pertumbuhan bisnis, BNI mempertahankan fondasi likuiditas dan permodalan yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,9 persen, Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 143,4 persen, serta Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 128,4 persen.
Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 19,2 persen. Posisi tersebut memberikan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi sekaligus mengantisipasi berbagai potensi risiko.
Penguatan fundamental dan transformasi bisnis BNI juga sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. Agenda tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi perusahaan serta perekonomian nasional.
Memasuki kuartal IV 2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, penyaluran kredit secara selektif, pengelolaan risiko yang disiplin, serta transformasi digital dan jaringan cabang.
Melalui strategi tersebut, BNI berupaya menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan sekaligus memperkuat kontribusi terhadap pembiayaan sektor produktif dan pembangunan ekonomi nasional. (Adv)






























