SUMATERA UTARA – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution meminta penataan Kampung Kreatif Nou Berkah di Kota Gunungsitoli tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur pariwisata. Ia menegaskan, perbaikan rumah warga miskin dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di bantaran Sungai Nou harus menjadi bagian nyata dari program yang diusulkan dengan anggaran Rp50 miliar tersebut.
Pesan itu disampaikan Bobby saat memberikan evaluasi terhadap proposal pembangunan Kampung Kreatif Nou Berkah yang dipaparkan Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli di kediaman sementara Gubernur Sumut, Kota Gunungsitoli, Rabu (28/10/2026) malam.
Dalam pertemuan tersebut, Bobby meminta Pemerintah Kota (Pemko) Gunungsitoli memastikan data lapangan akurat dan sesuai dengan kondisi permukiman masyarakat. Menurutnya, penataan kawasan wisata harus berjalan seiring dengan pembenahan rumah warga, terutama keluarga yang masih tinggal di hunian tidak layak.
“Jangan sampai kita keluar anggaran Rp50 miliar untuk tempat wisata, tapi rumah warga di belakangnya tetap reyot dan tidak terintervensi. Warga sudah semangat, mereka harus mendapatkan dampak langsung pembangunan pada tempat tinggal mereka,” ujar Bobby.
Bobby juga menyoroti kejelasan legalitas alas hak tanah yang ditempati warga di Lingkungan I Kelurahan Hilir dan Lingkungan III Kelurahan Pasar. Selain itu, ia meminta pemerintah kota memastikan jumlah rumah yang akan mendapat bantuan atau penanganan dari total 410 kepala keluarga (KK) yang tercatat tinggal di kawasan tersebut.
Ia turut mempertanyakan visualisasi rencana pembangunan yang dinilai belum menggambarkan seluruh kondisi permukiman secara jelas. Dalam perencanaan itu, terdapat titik yang semestinya menunjukkan rumah warga, tetapi bangunannya tidak terlihat dalam gambar.
“Saya lihat ada titik yang harusnya rumah-rumah warga hari ini ada, tapi ketika visualisasi perencanaan dibangun, rumah-rumahnya hilang. Ini perlu diperjelas, apakah memang benar ada penggusuran atau hanya kesalahan sudut pandang (positioning view) dalam visualisasi,” tegas Bobby.
Menurutnya, kejelasan tersebut penting agar pelaksanaan pembangunan tidak menimbulkan persoalan baru, terutama menyangkut keberadaan rumah warga dan kepastian hak atas tanah. Karena itu, Pemko Gunungsitoli diminta melakukan verifikasi sebelum menetapkan rencana penataan kawasan secara final.
Bobby juga mendorong alokasi anggaran khusus untuk memperbaiki rumah warga. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam pertemuan, sebanyak 76,1 persen dari total 1.756 jiwa penduduk di bantaran Sungai Nou masuk kategori miskin ekstrem atau desil 1. Rata-rata pendapatan keluarga di kawasan tersebut disebut hanya sekitar Rp800.000 per bulan.
Ia meminta penanganan rumah tidak layak huni dimasukkan secara konkret dalam rencana kerja, baik melalui skema hibah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun dukungan APBD Kota Gunungsitoli. Dengan demikian, program penataan kawasan kumuh tidak berhenti pada pembenahan tampilan lingkungan, tetapi juga menjawab persoalan sosial dan kebutuhan dasar masyarakat.
Pemko Gunungsitoli Usulkan Kawasan Wisata Berbasis Budaya Nias
Sebelumnya, Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli menjelaskan bahwa kawasan yang diusulkan sebagai penerima program Kampung Kreatif Sumut Berkah meliputi bantaran Sungai Nou di Lingkungan I Kelurahan Hilir dan Lingkungan III Kelurahan Pasar, Kecamatan Gunungsitoli.
Lokasi tersebut berada di pusat pelayanan kota, sekitar 0,5 hingga 1,5 kilometer dari pusat kota. Posisi strategis itu dinilai berpotensi dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui konsep pariwisata tepi air atau waterfront, dengan tetap memperkuat identitas budaya Nias.
Berdasarkan data demografi Pemko Gunungsitoli, kawasan itu dihuni 1.756 jiwa atau 410 KK. Lebih dari 80 persen warga bergantung pada bantuan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), serta Penerima Bantuan Iuran (PBI/PBIK). Selain itu, seluruh warga disebut bergantung pada pemanfaatan kawasan sempadan sungai.
Kondisi infrastruktur dasar juga masih terbatas, khususnya dalam hal sanitasi, pengelolaan sampah, dan ketersediaan rumah layak huni.
Sowa’a berharap bantaran Sungai Nou dapat dipertimbangkan sebagai penerima program Kampung Kreatif Sumut Berkah. Program tersebut diharapkan menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru yang memperkuat identitas budaya Nias sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan ekonomi dan sosial Kota Gunungsitoli maupun Provinsi Sumatera Utara secara berkelanjutan.
Dalam rancangan program itu, Pemko Gunungsitoli turut merencanakan perubahan dan pengembangan mata pencaharian masyarakat. Nelayan diarahkan menjadi pemasok bahan baku kuliner boga bahari, operator wisata, hingga pengelola dermaga mini.
Pedagang asongan akan didorong menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kreatif yang memiliki legalitas usaha. Sementara itu, ibu rumah tangga akan diberdayakan melalui PKK dan Karang Taruna untuk menghasilkan produk kuliner serta kerajinan atau anyaman khas Nias.
Adapun pekerja lepas direncanakan mendapatkan pelatihan agar dapat menjadi tenaga profesional di bidang pariwisata dan pengelolaan kawasan. Melalui langkah tersebut, pemerintah kota berharap masyarakat setempat tidak hanya menjadi penghuni kawasan wisata, tetapi juga pelaku utama kegiatan ekonomi yang berkembang di dalamnya.
Usulan Anggaran Rp50 Miliar
Dalam pemaparannya, Sowa’a merinci sejumlah komponen pembangunan yang diusulkan. Stabilisasi bantaran dan resapan terpadu membutuhkan anggaran Rp18,5 miliar atau 37 persen dari total usulan. Pembangunan kawasan waterfront tepi sungai dianggarkan Rp15 miliar.
Selanjutnya, pembangunan kampung mural dan identitas visual Nias diusulkan sebesar Rp3,5 miliar. Pengelolaan sampah berbasis komunitas juga dialokasikan Rp3,5 miliar. Sementara itu, aktivasi ekonomi berbasis rumah warga membutuhkan Rp7,5 miliar dan pengembangan wisata air serta kuliner bersungai sebesar Rp5 miliar.
Dengan demikian, total anggaran yang diusulkan untuk program Kampung Kreatif Nou Berkah mencapai Rp50 miliar.
Pemko Gunungsitoli juga memproyeksikan program tersebut menghasilkan efek berganda atau multiplier effect fiskal sebesar 2,1 hingga 2,8 kali. Dalam kurun waktu lima tahun, perputaran ekonomi diperkirakan mencapai Rp105 miliar hingga Rp140 miliar.
Warga Berharap Penataan Membawa Perubahan Nyata
Rencana penataan bantaran Sungai Nou diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar dan kondisi hunian yang belum layak.
Warga setempat menyampaikan harapan agar program tersebut tidak hanya memperindah kawasan, tetapi juga memperhatikan kondisi rumah masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kami tentu berharap kawasan ini menjadi lebih baik. Namun, yang paling penting bagi warga adalah rumah yang layak, sanitasi yang memadai, dan lingkungan yang bersih. Kalau kawasan wisata berkembang, masyarakat yang tinggal di sini juga harus ikut merasakan manfaatnya,” ungkap warga tersebut, Kamis (29/10/2026).
Evaluasi yang disampaikan Gubernur Bobby Nasution menegaskan pentingnya menyelaraskan pembangunan infrastruktur, pengembangan pariwisata, dan penanganan kemiskinan. Dengan perencanaan yang akurat, anggaran yang tepat sasaran, serta keterlibatan masyarakat, Kampung Kreatif Nou Berkah diharapkan dapat berkembang menjadi kawasan wisata berbasis budaya Nias sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga bantaran Sungai Nou. (Red/Hen)





























