RANGKASBITUNG – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) memperkuat kualitas pendidikan dasar melalui program BISA PandAI Numerasi, sebuah inisiatif untuk meningkatkan kompetensi guru dan kemampuan numerasi siswa, khususnya di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Program ini mengintegrasikan pelatihan tenaga pendidik, penyediaan sarana pembelajaran, serta penerapan metode belajar matematika dan sains yang interaktif, aplikatif, dan menyenangkan.
Penguatan numerasi menjadi salah satu fondasi penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Berdasarkan Rapor Pendidikan Indonesia 2025, proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum numerasi meningkat dari 39,04 persen pada 2022 menjadi 52,48 persen pada 2024. Meski menunjukkan kemajuan, data tersebut mengindikasikan bahwa hampir separuh siswa masih belum mencapai kompetensi minimum numerasi.
Kondisi ini menegaskan pentingnya penguatan kemampuan dasar sejak dini melalui pembelajaran yang membantu siswa memahami konsep secara bertahap. Numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berhitung, tetapi juga menjadi dasar untuk berpikir logis, menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan memahami perkembangan teknologi.
Menjawab kebutuhan tersebut, TelkomGroup menghadirkan BISA PandAI Numerasi melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dalam payung Bersama Jadi BISA. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman belajar siswa sekolah dasar, terutama di wilayah yang membutuhkan dukungan akses pendidikan berkualitas.
BISA PandAI Numerasi menggabungkan penguatan kompetensi guru, penyediaan perangkat pembelajaran numerasi dan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), serta penerapan metode pembelajaran yang interaktif dan mudah dipahami. Melalui pendekatan tersebut, guru didorong menghadirkan kegiatan belajar yang lebih partisipatif agar siswa semakin tertarik mempelajari matematika dan sains.
Peluncuran program atau kick-off BISA PandAI Numerasi dilaksanakan secara hibrida pada 12 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di Plasa Telkom Rangkasbitung dan terhubung secara daring dengan tenaga pendidik di wilayah sasaran, termasuk melalui Plasa Telkom Tual.
Program ini menjangkau tiga wilayah, yakni Kabupaten Lebak, Provinsi Banten; Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat; serta Kota Tual, Maluku. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung oleh 38 guru di Kabupaten Lebak, sementara para tenaga pendidik dari Kabupaten Lombok Utara dan Kota Tual mengikuti kegiatan secara daring.
Pelaksanaan di tiga daerah tersebut merupakan bagian dari upaya TelkomGroup untuk memperluas pemerataan kesempatan belajar dan memperkuat peran guru sebagai penggerak peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
Acara peluncuran turut dihadiri Direktur Human Capital Management Telkom, Willy Saelan; Senior General Manager Social Responsibility Telkom Indonesia, Hery Susanto; Prof. Yohanes Surya selaku pencetus metode GASING; serta Prof. Malia Dinia Husni Rahiem, M.A., Ph.D., selaku Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang STEM. Hadir pula Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Rangkasbitung, Rahmat, S.STP., yang mewakili pemerintah daerah setempat.
Dalam pelaksanaannya, BISA PandAI Numerasi dirancang melalui tahapan terintegrasi selama kurang lebih tiga bulan, mulai dari persiapan program hingga pengembangan guru champion atau guru perintis yang dapat berbagi praktik baik.
Tahap awal dimulai melalui kegiatan pre-launch untuk memperkenalkan program sekaligus membangun antusiasme terhadap pembelajaran numerasi dan STEM. Selanjutnya, guru mengikuti kegiatan teacher capacity building selama tiga minggu melalui pelatihan Training of Trainers (ToT). Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang interaktif, aplikatif, dan mudah dipahami siswa.
Setelah pelatihan, program memasuki tahap implementasi di kelas selama dua bulan, yakni pada minggu keempat hingga minggu kesebelas. Pada tahap ini, guru menerapkan metode yang telah dipelajari secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar dengan dukungan perangkat pembelajaran numerasi dan STEM.
Guru dan siswa juga didorong mengeksplorasi proyek sederhana, mendokumentasikan perkembangan pembelajaran, serta mempraktikkan pemecahan masalah. Pendekatan ini diharapkan membantu siswa memahami konsep matematika dan sains melalui pengalaman nyata, bukan sekadar menghafal rumus atau menyelesaikan soal.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan STEM Challenge Day pada minggu kedua belas. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi guru dan siswa untuk menampilkan hasil pembelajaran, kreativitas, serta solusi yang dikembangkan melalui pendekatan STEM.
Mulai minggu ketiga belas, program memasuki tahap Teacher Champion yang berfokus pada berbagi praktik baik, penguatan kompetensi, dan penyebarluasan inspirasi pembelajaran. Tahap ini diharapkan mendorong guru untuk terus mengembangkan metode belajar yang efektif sehingga manfaat program dapat meluas ke lingkungan sekolah lainnya.
Untuk mendukung penerapan pembelajaran tersebut, TelkomGroup menyediakan perangkat laboratorium atau lab kit STEM bagi sekolah-sekolah peserta. Sarana ini memungkinkan siswa mempelajari konsep numerasi dan STEM melalui aktivitas yang lebih praktis dan aplikatif.
Setelah memperoleh penguatan fondasi matematika dasar, siswa juga didorong mengikuti STEM Challenge Project. Kegiatan tersebut dirancang untuk mengasah kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan memecahkan masalah berbasis sains dan teknologi.
Melalui implementasi di Kabupaten Lebak, Kabupaten Lombok Utara, dan Kota Tual, TelkomGroup menargetkan penguatan kapasitas tenaga pendidik sekaligus perluasan pengalaman belajar siswa. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah sekolah peserta atau perangkat yang disalurkan, tetapi juga dari optimalisasi pemanfaatan sarana, peningkatan kompetensi guru, dan perkembangan kemampuan numerasi siswa.
Karena itu, pendampingan pelaksanaan dan evaluasi dampak menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan efektif serta memberikan manfaat berkelanjutan.
Direktur Human Capital Management (CHCO) TelkomGroup, Willy Saelan, mengatakan penguatan numerasi dan STEM merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Sebagai Perusahaan Digital, Telkom Indonesia berkomitmen untuk menghadirkan solusi yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Melalui BISA PandAI Numerasi, kami tidak hanya mendukung penyediaan perangkat pembelajaran, tetapi juga memperkuat kapasitas guru dan mendorong pemanfaatan teknologi melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif dan aplikatif.
“Kami meyakini bahwa penguatan numerasi sejak dini merupakan fondasi penting bagi anak-anak Indonesia untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan potensi mereka dalam menghadapi masa depan digital. Melalui kolaborasi dan evaluasi dampak yang berkelanjutan, kami berharap program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk bagi siswa di wilayah 3T,” ujar Willy.
Inisiatif BISA PandAI Numerasi merupakan bagian dari pelaksanaan TJSL TelkomGroup melalui pilar pendidikan BISA PandAI. Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 atau Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pemerataan akses terhadap pendidikan yang inklusif dan bermutu.
Melalui penguatan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi, penyediaan sarana pembelajaran, dan penerapan pendekatan STEM, TelkomGroup berupaya memperluas kesempatan belajar bagi siswa di berbagai daerah.
Sejalan dengan semangat Bersama Jadi BISA, TelkomGroup menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan inisiatif pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Melalui BISA PandAI Numerasi, perusahaan berharap semakin banyak anak Indonesia memiliki kesempatan memperkuat kemampuan numerasi, mengembangkan kreativitas, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu berinovasi serta berkarya pada masa depan. (Adv)































