JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, membahas perkembangan persiapan pengembangan industri semikonduktor dan chip nasional atau Chip Merah Putih. Pembahasan tersebut mencakup kesiapan ekosistem desain chip, penguatan riset, kebutuhan sumber daya manusia, serta penyusunan kerangka kebijakan untuk mendukung pengembangan industri strategis tersebut.
Pembahasan berlangsung dalam Rapat Pembahasan Tindak Lanjut Pengembangan Industri Semikonduktor dan Chip Nasional bersama Direktur Digital Business Perum Peruri, Edwin Purwandesi, pada Jumat (30/10/2026). Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan pengembangan Chip Merah Putih berjalan secara terarah, terukur, dan didukung fondasi yang kuat.
Dalam pertemuan tersebut, Brian menekankan pentingnya memastikan setiap tahapan pengembangan industri chip nasional memiliki perencanaan yang jelas. Pembahasan kali ini juga menindaklanjuti pertemuan sebelumnya dengan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), terkait rencana pengembangan industri semikonduktor di Indonesia.
“Dari pertemuan terakhir, sudah disampaikan kesiapan dari BP BUMN untuk mengajukan izin prakarsa. Hari ini kita akan mendengar perkembangan terbaru dan mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu dilengkapi. Target sebelumnya adalah 11 November, paling tidak prosesnya sudah mulai masuk tahap harmonisasi,” ujar Brian dalam keterangan tertulis.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya penyelesaian tahapan persiapan, termasuk kelengkapan substansi dan aspek regulasi, agar program pengembangan chip nasional dapat memasuki proses berikutnya sesuai rencana. Koordinasi antarlembaga juga diperlukan untuk memastikan pembagian peran dan dukungan pemerintah terhadap program tersebut berjalan secara efektif.
Dalam rapat itu, Edwin Purwandesi memaparkan perkembangan ekosistem desain chip yang telah disiapkan Perum Peruri bersama sejumlah mitra. Salah satu fondasi yang telah tersedia adalah sandbox, yakni lingkungan pengembangan dan pengujian desain chip yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan riset serta pengembangan teknologi.
Fasilitas tersebut sebelumnya telah digunakan dalam kegiatan hackathon yang diikuti 98 tim dari 41 perguruan tinggi, dengan melibatkan 338 mahasiswa. Partisipasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keterlibatan perguruan tinggi dan mahasiswa dalam pengembangan kemampuan desain chip nasional.
Selain menyiapkan lingkungan pengembangan desain, Peruri juga mengarahkan pengembangan pada sejumlah jenis chip dengan mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomi. Peta jalan yang disusun mencakup tahapan pengembangan desain hingga kemungkinan berlanjut ke proses fabrikasi.
Perencanaan tersebut turut memperhitungkan kebutuhan sumber daya manusia dan pengembangan talenta. Ketersediaan tenaga ahli menjadi salah satu aspek penting karena industri semikonduktor membutuhkan kompetensi khusus, mulai dari perancangan chip hingga penguasaan teknologi pendukungnya.
Dari sisi riset, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, menyampaikan bahwa kementerian tengah mendukung penelitian di bidang semikonduktor melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi.
Salah satu program riset yang dibahas memiliki target penyelesaian pada Mei 2028. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat kemampuan desain chip nasional sekaligus mendukung pengembangan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Penguatan riset melalui perguruan tinggi dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem semikonduktor yang berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan penelitian dengan arah pengembangan teknologi serta kebutuhan industri nasional.
Rapat tersebut juga membahas perlunya kerangka kebijakan dan koordinasi antarlembaga yang jelas. Pembahasan meliputi urgensi keterlibatan pemerintah, peran badan usaha milik negara (BUMN), serta kemungkinan penyusunan instrumen kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan program Chip Merah Putih.
Selain aspek kelembagaan, kepastian hukum dan kesiapan substansi informasi yang akan disampaikan kepada publik juga menjadi perhatian. Hal ini diperlukan agar komunikasi mengenai perkembangan program selaras dengan tahapan persiapan yang telah dicapai dan tidak menimbulkan kesalahpahaman mengenai kesiapan industri chip nasional.
Melalui koordinasi lintas pemangku kepentingan, Kemdiktisaintek mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas riset, meningkatkan ketersediaan talenta teknologi, serta membangun fondasi bagi pengembangan industri semikonduktor dalam negeri.
Pengembangan Chip Merah Putih menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan sains dan teknologi nasional agar Indonesia memiliki kapasitas yang semakin baik dalam mengembangkan teknologi strategis. Dengan perencanaan yang terarah, dukungan riset, kesiapan sumber daya manusia, dan kerangka kebijakan yang memadai, program ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap penguatan industri teknologi nasional. (Red/DP)



























