PEKANBARU – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin, mengajak kalangan santri untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu upaya mengatasi kemiskinan serta memperkuat daya saing Indonesia. Santri diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam membangun bangsa yang mandiri, maju, dan unggul di tengah persaingan global.
Pesan tersebut disampaikan Gus Muhaimin saat membuka peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru, Riau, Kamis (22/10/2026). Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk dari lingkungan pesantren, menjadi bagian penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.
Dalam sambutannya, Muhaimin menyoroti masih adanya sekitar 23 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda pesantren.
Ia menegaskan bahwa santri perlu terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan sektor pembangunan lainnya.
“Kita harus terus membangun ilmu pengetahuan dan teknologi agar kita terus mempersiapkan diri menjadi bangsa yang unggul, menjadi generasi emas yang siap bersaing dan tidak kalah, bahkan menang dibanding bangsa-bangsa lainnya,” ujar Muhaimin.
Selain menekankan pentingnya penguasaan teknologi, Muhaimin mengingatkan perlunya memperkuat kemandirian nasional di tengah dinamika geopolitik, persaingan ekonomi dunia, serta berbagai persoalan kemanusiaan global. Menurutnya, bangsa Indonesia perlu membangun kemampuan sendiri agar tidak terus bergantung pada negara lain.
Dalam konteks tersebut, nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren, seperti kejujuran, ketangguhan, kedisiplinan, dan keteguhan prinsip, dinilai menjadi modal penting bagi santri untuk menghadapi tantangan.
“Santri insyaallah pasti jujur, santri insyaallah pasti tangguh, dan santri insyaallah tidak mudah goyah oleh berbagai tantangan,” ucapnya.
Dalam amanatnya, Muhaimin juga menggarisbawahi tiga prinsip yang perlu diterapkan santri dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, mengambil peran aktif dalam menjaga persatuan umat Islam sekaligus memperkuat keutuhan bangsa. Kedua, terus meningkatkan kualitas diri melalui proses belajar, pengembangan potensi, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Ketiga, menjadikan nilai-nilai keteladanan yang dicontohkan kiai, ulama, dan santri sebagai pedoman dalam berbagai bidang kehidupan. Ketiga prinsip tersebut, menurutnya, dapat menjadi landasan bagi santri untuk menghadapi keterbatasan dan mengatasi ketertinggalan.
“Dengan tiga komitmen ini, kita akan terus menerobos berbagai belenggu keterbatasan, menolak dan mengatasi segala bentuk ketertinggalan,” katanya.
Muhaimin turut mengingatkan para santri agar mempersiapkan masa depan sejak dini melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu dan menjalankan ajaran agama. Ia berharap para santri mampu menjaga keselarasan antara hati, pikiran, dan perbuatan sehingga nilai-nilai Islam tercermin dalam sikap serta tindakan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa makna santri tidak terbatas pada mereka yang sedang menempuh pendidikan di pesantren. Semangat kesantrian juga dapat diwujudkan oleh anak bangsa yang berkiprah di berbagai bidang, mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik.
“Santri memiliki makna yang luas bagi seluruh eksponen anak-anak bangsa yang hari ini berkiprah di berbagai lini kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan berbagai bidang-bidang dalam keperluan membangun bangsa,” tuturnya.
Melalui peringatan Hari Santri Nasional 2026, penguatan pendidikan, penguasaan teknologi, dan pembentukan karakter diharapkan semakin mendapat perhatian. Dengan perpaduan ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan semangat kemandirian, santri diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi kemiskinan dan mendorong kemajuan Indonesia. (Red/Asy)





























