MEDAN – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, turun langsung menemui masyarakat Kelurahan Tegal Sari III, Kecamatan Medan Area, Sabtu (7/11/2026). Melalui kegiatan gotong royong dan Sapa Warga, sejumlah persoalan lingkungan dan infrastruktur menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemko) Medan, mulai dari pembenahan drainase, penanganan genangan, perbaikan jalan, penerangan, hingga penguatan keamanan lingkungan.
Sebelum menggelar dialog bersama masyarakat di Gereja HKBP Pengembangan, Jalan Mamiyai, Rico bersama jajaran terlebih dahulu mengikuti kegiatan gotong royong membersihkan saluran drainase. Pembersihan dilakukan dengan mengangkat tumpukan sampah dan sedimentasi yang menghambat aliran air.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi mengerahkan alat berat guna membantu proses pengerukan saluran.
Dalam kegiatan Sapa Warga, Rico mendengarkan secara langsung berbagai keluhan dan aspirasi masyarakat. Persoalan yang disampaikan meliputi genangan air, penumpukan sampah, kerusakan jalan, keamanan lingkungan, hingga kebutuhan pelayanan sosial.
Rico didampingi Pj Sekretaris Daerah Kota Medan yang juga menjabat Inspektur Kota Medan, Erfin Fachrurrazi, Anggota DPRD Medan Afif Abdillah, sejumlah pimpinan perangkat daerah, serta Camat Medan Area Dedy Rustam Alamsyah Nasution.
Kehadiran para pimpinan perangkat daerah tersebut sengaja dilakukan agar setiap persoalan yang disampaikan warga dapat langsung dikoordinasikan dengan instansi terkait. Dengan demikian, penanganan aspirasi masyarakat dapat diarahkan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD).
Drainase dan Infrastruktur Jadi Perhatian
Salah satu persoalan utama yang disampaikan masyarakat adalah genangan air yang dapat meningkat dalam waktu relatif singkat, bahkan sekitar setengah jam ketika hujan turun.
Menanggapi keluhan tersebut, Rico menjelaskan bahwa Pemko Medan telah mengerahkan alat berat untuk melakukan pengerukan drainase di kawasan Tegal Sari III. Namun, menurutnya, pengerukan saja belum cukup untuk mengatasi persoalan genangan karena sejumlah saluran memiliki ukuran yang relatif sempit, yakni sekitar 40–50 sentimeter.
Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas saluran tidak lagi memadai ketika volume air meningkat saat hujan. Karena itu, diperlukan penanganan lebih menyeluruh melalui pembangunan drainase baru di sejumlah titik.
Pemko Medan juga merencanakan pembangunan saluran tambahan di kawasan lain untuk memperlancar aliran air sekaligus mengurangi risiko genangan.
Rico turut mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga fungsi drainase dengan tidak membuang sampah ke parit maupun gorong-gorong. Ia mengungkapkan bahwa produksi sampah di Kota Medan mencapai sekitar 1.600 ton setiap hari. Oleh sebab itu, penanganan sampah membutuhkan keseriusan pemerintah serta dukungan seluruh lapisan masyarakat.
Dinas Lingkungan Hidup juga diminta terus mengoptimalkan upaya pembenahan kebersihan kota agar persoalan sampah tidak semakin mengganggu lingkungan dan sistem drainase.
Selain drainase, warga menyampaikan keluhan mengenai kerusakan jalan menuju Kantor Lurah Tegal Sari III. Rico memastikan bahwa perbaikan jalan tersebut telah masuk dalam perencanaan pengerjaan tahun 2027.
Sementara itu, terkait jembatan penghubung Gang Santun menuju Gang Dame, Rico meminta Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan peninggian jembatan.
Aspirasi tersebut mendapat perhatian warga karena kondisi infrastruktur lingkungan berkaitan langsung dengan kelancaran aktivitas dan kenyamanan masyarakat sehari-hari.
Keamanan Lingkungan dan 10 Ribu Titik CCTV
Persoalan keamanan juga menjadi salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut. Pendeta Resort HKBP Pengembangan, RYNS Warjono Pasaribu, S.Sos., M.Div., mengungkapkan bahwa pihak gereja pernah mengalami pencurian satu unit keyboard dan tiga unit pendingin ruangan atau AC.
Atas kejadian tersebut, ia berharap sistem keamanan lingkungan (siskamling) dapat diperkuat. Pihak gereja bahkan menyatakan kesediaannya untuk membantu memenuhi kebutuhan pendukung agar kegiatan siskamling dapat berjalan dengan baik.
Menanggapi aspirasi itu, Rico meminta lurah segera berkoordinasi dengan masyarakat, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas untuk mengaktifkan kembali pos-pos keamanan lingkungan. Pemerintah juga meminta dilakukan pendataan jumlah pos kamling, kondisi fasilitas, serta kebutuhan pendukung agar bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan.
“Pak Lurah, tolong koordinasikan kepada warga dan juga kepada rekan-rekan Babinsa, Bhabinkamtibmas, bagaimana menciptakan siskamling yang baik. Tolong diaktifkan pos-pos kamlingnya. Titik pos kamlingnya ada berapa, benahi, minta datanya, apa kebutuhannya, nanti kita akan coba membantu,” ujar Rico.
Selain penguatan keamanan berbasis masyarakat, Rico menyampaikan bahwa Pemko Medan telah menganggarkan pengadaan 10.000 titik kamera pengawas atau CCTV untuk tahun mendatang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 500 titik direncanakan tersebar di setiap kecamatan.
Pemasangan CCTV tidak hanya difokuskan pada jalan-jalan utama, tetapi juga akan menjangkau jalan lingkungan dan kawasan permukiman.
“Jangan jalan besar saja yang kita pasang CCTV, tapi bagian kecil-bagian kecil jalan ini juga harus kita pantau,” katanya.
Penerangan Jalan dan Pemangkasan Pohon
Dalam dialog tersebut, warga juga menyampaikan kebutuhan penerangan jalan serta pemangkasan pohon yang terlalu rindang maupun mengalami pengeroposan. Kondisi pohon yang berpotensi membahayakan masyarakat dinilai perlu segera ditangani untuk mengurangi risiko kejadian yang tidak diinginkan.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Rico langsung menginstruksikan Dinas Perhubungan untuk memasang lampu penerangan di sejumlah titik yang dikeluhkan warga. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup diminta segera melakukan pemangkasan pohon yang dinilai berisiko.
Salah seorang warga Tegal Sari III, menyampaikan bahwa perhatian pemerintah terhadap persoalan drainase, penerangan jalan, dan keamanan lingkungan sangat dibutuhkan masyarakat.
“Persoalan seperti saluran air tersumbat, jalan yang rusak, dan lingkungan yang kurang terang memang perlu mendapat perhatian. Kami berharap tindak lanjut pemerintah bisa segera dirasakan sehingga lingkungan menjadi lebih nyaman dan aman,” ungkap warga tersebut.
Melalui kegiatan gotong royong dan Sapa Warga, Rico mendorong terbangunnya koordinasi yang lebih kuat antara perangkat daerah dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan. Ia berharap setiap aspirasi yang disampaikan dapat ditindaklanjuti secara konkret oleh instansi terkait sesuai kebutuhan dan kewenangannya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana bagi Pemko Medan untuk melihat langsung kondisi lingkungan serta mendengarkan kebutuhan masyarakat, sehingga kebijakan dan program pembangunan dapat lebih sesuai dengan persoalan yang dihadapi warga. (Red/SH)






















