JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengajak seluruh pejabat yang baru dilantik di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk membangun birokrasi yang ramah, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. Ia menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah untuk menghadirkan kemudahan dan solusi, bukan menciptakan jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam pelantikan 162 pejabat Kemendikdasmen pada Rabu (14/10/2026). Pelantikan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan organisasi sekaligus penguatan kinerja birokrasi dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan pendidikan di Indonesia.

Sebanyak 162 pejabat yang dilantik terdiri atas satu Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, yakni Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Abdullah Faqih; satu Pejabat Fungsional Ahli Utama, Abdul Gani; 46 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama atau pejabat eselon II; 69 pejabat administrator; serta 45 pejabat pengawas.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti mengucapkan selamat kepada para pejabat yang menerima amanah baru. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah berkontribusi terhadap berbagai capaian Kemendikdasmen selama dua tahun terakhir.

Menurutnya, keberhasilan kementerian bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan buah dari kolaborasi, dedikasi, dan kebersamaan seluruh jajaran. Karena itu, rotasi, mutasi, dan promosi jabatan harus dipandang sebagai bagian dari proses pengembangan organisasi untuk meningkatkan kinerja serta memperkuat pelayanan di bidang pendidikan.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pejabat yang mendapatkan amanah baru harus mampu menerjemahkan tanggung jawab tersebut ke dalam kinerja nyata. Pelayanan yang baik, kata dia, perlu didukung budaya kerja yang sehat, kepemimpinan yang tangguh, serta kemampuan membangun kerja sama di lingkungan organisasi.

Tiga Pesan Utama untuk Pejabat Kemendikdasmen
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menyampaikan tiga pesan utama kepada para pejabat yang dilantik. Pesan pertama adalah memperkuat budaya ramah dan santun agar tidak sekadar menjadi program atau slogan, tetapi tumbuh menjadi karakter setiap insan pendidikan.

Budaya tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui sikap responsif, akuntabel, dan adaptif, disertai semangat melayani serta kemampuan membangun hubungan kerja yang harmonis. Dengan demikian, aparatur di lingkungan Kemendikdasmen diharapkan mampu memberikan pelayanan yang profesional sekaligus memberikan rasa nyaman kepada masyarakat.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah jabatan. Setiap pejabat harus mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, menjadi teladan di lingkungan kerja maupun masyarakat, serta terus meningkatkan kapasitas diri untuk menghadapi berbagai tantangan.

Abdul Mu’ti turut menekankan pentingnya membangun hubungan antarsesama berdasarkan prinsip asah, asih, dan asuh. Nilai tersebut diharapkan menjadi landasan dalam membangun lingkungan kerja yang saling mendukung, menghargai, dan mendorong peningkatan kemampuan setiap individu.

Pemimpin Harus Adaptif, Bukan Rapuh Menghadapi Perubahan
Pesan kedua yang disampaikan Mendikdasmen adalah pentingnya menjadi pemimpin yang agile, bukan fragile. Menurutnya, pemimpin yang adaptif harus memiliki visi yang jelas, kecerdasan, ketangkasan, serta ketangguhan dalam menghadapi perubahan.

Kemampuan beradaptasi menjadi penting karena dunia pendidikan terus menghadapi perkembangan dan tantangan yang membutuhkan respons cepat serta solusi yang tepat. Para pejabat dituntut tidak hanya menjalankan rutinitas administratif, tetapi juga mampu menemukan terobosan untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Abdul Mu’ti menilai kemampuan mencari solusi di tengah keterbatasan merupakan salah satu bekal penting bagi seorang pemimpin. Selain itu, ketahanan mental juga diperlukan agar pejabat mampu menghadapi tekanan pekerjaan, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan tetap menjaga kualitas pelayanan.

Dengan kepemimpinan yang tangkas dan tangguh, jajaran Kemendikdasmen diharapkan mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan sekaligus menjaga keberlangsungan program-program pendidikan yang telah berjalan.

Perkuat Kolaborasi dan Hilangkan Birokrasi yang Mempersulit
Pesan ketiga adalah memperkuat kolaborasi untuk menjaga sekaligus meningkatkan capaian kementerian. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kinerja yang baik tidak dapat dipertahankan tanpa kerja bersama, kemitraan yang kuat, dan kesediaan untuk saling mendukung.

Kolaborasi tersebut perlu dibangun di seluruh lini organisasi agar pelaksanaan tugas tidak terhambat oleh sekat birokrasi maupun kepentingan sektoral. Setiap pejabat diharapkan mampu membangun komunikasi yang efektif, menyelaraskan langkah, serta mengutamakan tujuan bersama dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Ia pun mengingatkan bahwa birokrasi seharusnya menjadi sarana untuk mempermudah pelayanan, bukan justru menambah kerumitan bagi masyarakat.

“Mari kita bangun birokrasi yang tidak birokratis. Mari menjadi aparatur negara yang melayani masyarakat dan memudahkan semua urusan,” imbuhnya.

Abdul Mu’ti kembali menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Kedudukan sebagai pejabat tidak boleh dijadikan alasan untuk menciptakan jarak dengan masyarakat, apalagi bersikap elitis atau mempersulit urusan orang lain.

Menurutnya, seorang pejabat memang menjadi bagian dari kelompok pemimpin, tetapi tetap harus menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat. Prinsip tersebut perlu tercermin dalam sikap, keputusan, dan cara aparatur memberikan pelayanan kepada publik.

Apresiasi untuk Keluarga Pejabat
Menutup sambutannya, Abdul Mu’ti menyampaikan terima kasih kepada keluarga para pejabat atas dukungan yang diberikan selama mereka menjalankan tugas. Ia mengakui bahwa tanggung jawab pekerjaan terkadang menuntut pejabat bekerja di berbagai daerah dengan tantangan akses dan keterbatasan fasilitas.

Dukungan keluarga menjadi salah satu hal penting yang memungkinkan para pejabat menjalankan amanah dan tanggung jawabnya. Karena itu, apresiasi kepada keluarga juga menjadi bagian dari penghargaan atas dedikasi para aparatur dalam menjalankan tugas pemerintahan.

Melalui pelantikan tersebut, seluruh pejabat Kemendikdasmen diharapkan semakin memperkuat komitmen untuk bekerja dengan integritas, mengedepankan kolaborasi, dan menghadirkan kepemimpinan yang adaptif.

Pada akhirnya, birokrasi pendidikan diharapkan semakin dekat dengan masyarakat, mampu memberikan pelayanan yang mudah dan responsif, serta menghasilkan dampak nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia. (Red)