SAHABAT RAKYAT, Jakarta – Ancaman kepunahan bahasa daerah di Indonesia masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah timur yang memiliki keragaman bahasa tinggi tetapi jumlah penutur relatif terbatas. Pemerintah pun memperkuat langkah revitalisasi melalui pendidikan, dokumentasi digital, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI).
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin, mengungkapkan bahwa hasil kajian vitalitas bahasa daerah menunjukkan potensi kepunahan nyata di sejumlah wilayah.
“Di wilayah timur jumlah bahasa daerah sangat banyak, tetapi penuturnya sedikit. Dari kajian tahun 2016, tercatat sudah ada lima bahasa daerah yang tidak lagi memiliki penutur asli karena tidak diwariskan kepada generasi muda,” ujar Hafidz dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melalui Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senin (25/5/2026).
Namun, menurut Hafidz, persoalan itu tidak hanya terjadi di kawasan timur Indonesia. Di wilayah lain pun jumlah penutur bahasa daerah terus berkurang sehingga membutuhkan intervensi yang lebih sistematis. Kondisi tersebut menjadi alarm penting bagi seluruh pemangku kepentingan agar pelestarian bahasa tidak berhenti pada dokumentasi semata.
Karena itu, Badan Bahasa mendorong revitalisasi melalui pembelajaran bahasa daerah di kelas awal serta penguatan ruang ekspresi generasi muda melalui Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional.
“Ketika generasi muda tumbuh senang dan tidak malu menggunakan bahasa daerah, maka bahasa itu akan tetap lestari,” katanya.
Selain pembelajaran, Badan Bahasa juga mempercepat transformasi digital kebahasaan agar bahasa daerah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Hafidz menjelaskan, berbagai kamus bahasa daerah yang telah disusun Balai dan Kantor Bahasa kini menjadi fondasi penting bagi pengembangan AI berbasis bahasa Nusantara.
“Kamus-kamus itu dapat diakses secara digital dan menjadi sumber data yang nantinya digunakan sebagai input pengembangan kecerdasan artifisial,” ujarnya.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan akademisi, komunitas, dan penyelenggara pendidikan untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahasa daerah.
Beberapa daerah bahkan telah menunjukkan kemajuan melalui kamus digital dan platform daring, seperti di Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan.
Menurut Hafidz, kemitraan seperti itu akan terus diperluas agar bahasa daerah tidak tertinggal dalam ekosistem digital.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menempatkan pelestarian bahasa sebagai bagian dari strategi sejarah dan kebudayaan daerah.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki posisi penting dalam sejarah bahasa Indonesia karena menjadi pusat perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi salah satu fondasi bahasa persatuan.
“Pulau Penyengat pernah memberikan kontribusi besar dalam melahirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,” ujar Ansar.
Ia menjelaskan, sejak abad ke-19 kawasan itu telah menjadi pusat literasi dan percetakan yang terhubung dengan Temasek atau Singapura.
Pulau Penyengat bahkan dikenal sebagai Bustanul Katibin atau perkampungan para penulis yang memartabatkan bahasa Melayu sebagai bahasa surat-menyurat dan pemerintahan.
Dari kawasan itulah lahir karya dan pemikiran Raja Ali Haji, sastrawan dan pahlawan nasional yang menulis Gurindam Dua Belas serta meletakkan dasar tata bahasa Melayu modern yang kemudian berkontribusi pada lahirnya bahasa Indonesia.
Ansar menyebut warisan tersebut kini tengah diperkuat melalui pembangunan monumen dan kawasan sejarah kebahasaan di Kepulauan Riau. Menurutnya, pembangunan itu tidak hanya diarahkan sebagai destinasi wisata, tetapi juga ruang pembelajaran budaya dan penguatan karakter generasi muda melalui naskah serta sastra lama.
“Anak-anak perlu mengenal naskah lama dan sastra klasik karena di sana ada nilai-nilai karakter dan peradaban,” katanya.
Ansar juga menyinggung pengakuan internasional terhadap Raja Ali Haji. Patung penulis Gurindam Dua Belas itu, kata dia, bahkan dipasang bersama tokoh sastra dunia lain di Turkmenistan.
Saat promosi pariwisata Bintan di New York, lanjut Ansar, publik internasional justru banyak menanyakan Pulau Penyengat dan Raja Ali Haji. Di sisi lain, Badan Bahasa terus memperluas pengembangan korpus digital bahasa daerah sebagai basis penguatan AI.
Hafidz menjelaskan bahwa dalam dua tahun terakhir pemerintah mulai membangun korpus besar bahasa daerah Indonesia. Namun pekerjaan itu tidak sederhana karena sebagian besar bahasa daerah di Indonesia masih berupa bahasa lisan.
“Dari 718 bahasa daerah, saat ini baru beberapa bahasa besar yang memiliki sumber tertulis dan mulai dibangun korpusnya,” jelasnya.
Ia juga menambahklan, korpus tersebut nantinya menjadi bahan dasar pengembangan berbagai aplikasi digital serta optimalisasi AI berbasis bahasa daerah. Melalui langkah itu, pemerintah ingin memastikan bahasa daerah tidak hanya bertahan di ruang budaya, tetapi juga hadir dan berkembang dalam lanskap teknologi masa depan.
FTBIN 2026 pun menegaskan bahwa pelestarian bahasa bukan semata menjaga masa lalu, melainkan menyiapkan identitas bangsa agar tetap hidup di tengah transformasi digital global. (Red)
































