JAKARTA – Universitas Paramadina menyelenggarakan Wisuda ke-45 dengan menghadirkan Dr. Sandiaga Salahuddin Uno sebagai orator ilmiah. Dalam kesempatan tersebut, Sandiaga menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi generasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam orasi ilmiahnya, Sandiaga menyoroti berbagai tantangan ketenagakerjaan yang masih dihadapi Indonesia. Persoalan tersebut meliputi tingginya tingkat pengangguran, jebakan kelas menengah (middle-income trap), pengangguran anak muda, hingga ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia usaha serta industri.
“Apakah mencari kerja sekarang gampang atau susah? Susah atau susah banget?” ujar Sandiaga dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (8/11/2026).
Ia juga mengangkat fenomena missing potential, yaitu potensi generasi muda yang belum sepenuhnya terserap dan dikembangkan secara produktif. Menurutnya, hampir 20 persen anak muda Indonesia masuk dalam kategori NEET, yakni kelompok yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.
“Hampir 20% dari anak-anak muda kita itu berada dalam kategori NEET. Tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Sandiaga, menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi generasi muda, termasuk para lulusan Universitas Paramadina, untuk mengambil peran lebih besar dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas bangsa.
Alumni Harus Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Salah satu pesan utama yang disampaikan Sandiaga adalah pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari jabatan, pencapaian pribadi, maupun materi, tetapi juga dari kontribusi positif yang diberikan kepada lingkungan dan masyarakat.
“Sebaik-baikknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Betul atau betul?” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gelar akademik yang diperoleh para wisudawan bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ilmu pengetahuan, nilai-nilai, dan kemampuan yang diperoleh selama kuliah harus diterapkan dalam kehidupan nyata serta memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Integritas sebagai Fondasi Kepemimpinan
Selain menekankan pentingnya kebermanfaatan, Sandiaga mengingatkan para lulusan agar menjadikan integritas sebagai fondasi utama dalam kehidupan dan kepemimpinan. Menurutnya, kemampuan akademik dan profesional harus berjalan seiring dengan karakter yang kuat.
“Integritas adalah landasan dari kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang mumpuni kalau integritas tidak diperbaiki,” tegasnya.
Pesan Character Over Competence menjadi pengingat bahwa kompetensi dan kecerdasan intelektual perlu didukung kejujuran, tanggung jawab, konsistensi, serta komitmen terhadap nilai-nilai moral. Ia juga mendorong para lulusan untuk memiliki pola pikir inovatif dalam menghadapi tantangan dan mencari jalan keluar dari berbagai persoalan.
“Mindset inovatif diperlukan untuk menghadapi tantangan dan mencari solusi, bukan sekadar mengeluh,” kata Sandiaga.
Entrepreneurial Mindset untuk Menghadapi Dunia Industri
Memasuki dunia kerja, para wisudawan juga diharapkan memiliki entrepreneurial mindset atau pola pikir kewirausahaan. Menurut Sandiaga, pola pikir tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh mereka yang ingin membangun usaha sendiri, tetapi juga oleh individu yang bekerja di perusahaan, organisasi, maupun institusi publik.
“Entrepreneurship is not a profession, tapi entrepreneurship is a mindset. Sebuah pola pikir,” ujarnya.
Semangat kewirausahaan mendorong seseorang untuk bersikap proaktif, membaca peluang, berani menghadapi tantangan, berorientasi pada solusi, serta menciptakan nilai tambah dalam setiap pekerjaan.
Sandiaga menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) dan penggerak inovasi.
“Mindset seorang pemenang adalah mindset inovasi,” ujarnya.
“Bukan menambah masalah dengan mencari pekerjaan, tapi kita memberikan solusi dengan mendorong terciptanya lapangan kerjaan,” tambahnya.
Semangat 4AS dan 3SI sebagai Bekal Masa Depan
Menutup orasi ilmiahnya, Sandiaga mengajak para wisudawan menerapkan semangat 4AS, yakni kerja keras, kerja keras, kerja keras, dan kerja keras. Ia juga mendorong para lulusan mengembangkan nilai 3SI, yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.
Menurutnya, kerja keras menjadi modal dasar untuk menghadapi persaingan dan berbagai tantangan. Inovasi diperlukan untuk melahirkan solusi serta terobosan baru, adaptasi menjadi kemampuan penting dalam menghadapi perubahan zaman, sedangkan kolaborasi membuka peluang untuk membangun kekuatan bersama.
Ketiga nilai tersebut diharapkan menjadi bekal generasi muda agar mampu bertahan, berkembang, dan bersaing di tengah dinamika perubahan dunia.
Universitas Paramadina Dorong Lulusan Berdampak
Melalui penyelenggaraan Wisuda ke-45, Universitas Paramadina kembali menegaskan komitmennya untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, jiwa kepemimpinan, serta kemampuan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan yang disampaikan Sandiaga Uno menjadi refleksi bahwa keberhasilan seorang lulusan tidak semata-mata ditentukan oleh posisi atau pencapaian karier. Nilai-nilai kehidupan, integritas, dan manfaat yang diberikan kepada sesama juga menjadi ukuran penting dalam perjalanan seseorang.
Dengan demikian, wisuda bukanlah akhir dari proses pembelajaran, melainkan awal pengabdian dan perjalanan untuk mengimplementasikan ilmu serta kemampuan yang telah diperoleh. Para lulusan diharapkan mampu mengambil peran dalam menjawab tantangan bangsa dan menjadi insan yang bermanfaat bagi Indonesia. (Red/Rls)





















