LEBONG – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Lebong terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui pembangunan gedung Catheterization Laboratory (Cathlab) Single Plane. Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi penunjang utama pelayanan penyakit jantung dan pembuluh darah sehingga masyarakat dapat memperoleh penanganan medis spesialistik tanpa harus selalu dirujuk ke luar daerah.
Pembangunan gedung Cathlab ini dibenarkan Direktur RSUD Kabupaten Lebong, Meinoffiandi Leswin, melalui Kepala Seksi Data, Teknologi Informasi, dan Akreditasi RSUD Lebong, Cherly Juniarti, saat diwawancarai pada Senin (2/11/2026).
Cherly menjelaskan, pembangunan fasilitas tersebut merupakan langkah strategis untuk menghadirkan pelayanan kedokteran jantung yang modern, aman, dan memadai di Kabupaten Lebong. Dengan tersedianya fasilitas tersebut, diharapkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan spesialistik semakin mudah dan berkualitas.
“Gedung ini dibangun agar Kabupaten Lebong memiliki fasilitas pelayanan kedokteran jantung yang modern, aman, dan memadai. Harapannya, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik tanpa harus selalu keluar daerah,” ungkap Cherly.
Cathlab merupakan laboratorium medis khusus yang digunakan untuk melakukan tindakan kateterisasi jantung dan pembuluh darah. Melalui teknologi tersebut, tenaga medis dapat memeriksa kondisi pembuluh darah, mendeteksi penyempitan maupun penyumbatan, serta melakukan tindakan medis tertentu sesuai indikasi dan kebutuhan pasien.
Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi pembangunan, pekerjaan tersebut merupakan Belanja Modal Bangunan Gedung Cathlab (Single Plane) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) RSUD Lebong.
Proyek ini memiliki nilai anggaran sebesar Rp2,291 miliar. Anggaran tersebut tidak hanya dialokasikan untuk pembangunan fisik gedung, tetapi juga mencakup pengadaan sarana dan prasarana pendukung agar fasilitas dapat beroperasi secara optimal sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan.
“Anggaran ini bukan hanya untuk pembangunan fisik gedung, tetapi juga termasuk pengadaan sarana dan prasarana pendukung lainnya agar fasilitas pelayanan ini nantinya dapat berfungsi sebagaimana mestinya,” jelas Jojo selaku kepala pelaksana pembangunan.
Jojo menyatakan optimistis pekerjaan pembangunan dapat diselesaikan sesuai target yang telah ditetapkan. Berdasarkan kontrak tertanggal 31 Juli 2026, proyek tersebut memiliki masa pelaksanaan selama 150 hari kalender.
Pekerjaan dilaksanakan oleh kontraktor CV Surya Nusa Bhaktiindo dengan pengawasan dari konsultan CV Cipta Wahana Konsultan. Pihak pelaksana berharap pembangunan fasilitas tersebut dapat rampung sesuai jadwal sehingga mulai mendukung pelayanan kesehatan masyarakat pada awal 2027.
Pengembangan Cathlab juga menjadi bagian dari peta jalan atau roadmap peningkatan pelayanan kesehatan RSUD Lebong secara menyeluruh. Selain memperkuat layanan jantung dan pembuluh darah, rumah sakit tersebut tengah mempersiapkan pengembangan layanan prioritas KJSU-KIA.
Layanan KJSU-KIA mencakup penanganan kanker, jantung dan pembuluh darah, stroke, uronefrologi, serta kesehatan ibu dan anak. Pengembangan berbagai layanan prioritas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan rumah sakit dalam menangani beragam kebutuhan kesehatan masyarakat.
RSUD Lebong juga merencanakan penyediaan layanan Computed Tomography Scan (CT Scan) untuk menunjang pemeriksaan dan penegakan diagnosis. Fasilitas ini diharapkan membantu tenaga medis memperoleh gambaran kondisi organ tubuh pasien secara lebih mendalam, termasuk dalam pemeriksaan kasus kanker.
Pihak RSUD Lebong menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lebong atas dukungan terhadap pengembangan fasilitas dan pelayanan kesehatan tersebut. Dukungan pemerintah daerah dinilai menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kapasitas rumah sakit agar mampu memberikan pelayanan yang semakin lengkap.
Dengan hadirnya gedung Cathlab, RSUD Lebong berharap kapasitas penanganan kasus darurat jantung dapat meningkat, proses diagnosis menjadi lebih cepat, serta kebutuhan masyarakat untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan ke luar daerah dapat berkurang. Selain mendekatkan akses pelayanan spesialistik, fasilitas ini diharapkan turut meringankan beban biaya dan perjalanan pasien beserta keluarganya. (Adv)

















