JAKARTA – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menantang Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) untuk terlibat langsung dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pembangunan desa. Ia mengajak GMH membina desa melalui kolaborasi program pemberdayaan agar tidak ada lagi desa berstatus sangat tertinggal maupun tertinggal.
Menurut Yandri, desa memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan untuk mendorong kemajuan wilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.
Ajakan tersebut disampaikan Yandri saat memberikan sambutan pada pembukaan GMH National Leadership Academy 2026 bertema Generasi Pemimpin Persatuan Indonesia di Operational Room Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
“Saya tantang dari GMH untuk punya desa binaan. Kita kolaborasi dengan berbagai program dan potensi desa. Kita punya desa wisata, desa tematik, desa ekspor, dan ini harus kita kerja sama karena kita superteam, bukan superman,” kata Yandri dalam keterangan tertulis.
Ia menjelaskan, tantangan tersebut diberikan karena GMH memiliki sumber daya mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam serta prinsip dan nilai yang dapat menjadi modal penting dalam pembangunan masyarakat. Namun, nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi warga desa.
Yandri menyoroti sejumlah nilai yang menjadi landasan gerakan mahasiswa, salah satunya spiritualisme. Menurutnya, spiritualisme tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga harus tercermin dalam kepedulian terhadap alam dan lingkungan, termasuk upaya menjaga hutan serta tidak melakukan pembakaran lahan.
Selain itu, terdapat nilai intelektualisme yang menuntut mahasiswa tidak sekadar mengidentifikasi persoalan, tetapi juga mampu menawarkan solusi. Mahasiswa diharapkan menggunakan pengetahuan dan kemampuan akademiknya untuk membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Yandri juga menekankan pentingnya keaktifan mahasiswa dalam kegiatan sosial. Generasi muda, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi pengamat, tetapi harus terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendorong perubahan. Keaktifan tersebut juga perlu diperluas dengan menggerakkan dan memberdayakan orang-orang di sekitarnya.
Nilai pemberdayaan dan pengabdian turut menjadi perhatian. Indonesia membutuhkan generasi muda yang bersedia mencurahkan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk kepentingan masyarakat, bukan semata-mata mengejar kepentingan pribadi.
Karena itu, Yandri meminta GMH menerjemahkan prinsip-prinsip tersebut melalui pendampingan langsung kepada masyarakat desa. Ia menegaskan bahwa dakwah dan pengabdian akan lebih bermakna apabila diwujudkan dalam tindakan nyata yang mendorong perubahan sosial dan peningkatan kesejahteraan.
“Kami tunggu aksinya. Dakwah tidak cukup dengan kata-kata, tetapi harus bilhal (dengan tindakan) agar desa bangkit, tidak lagi ada kemiskinan,” tutur Yandri.
Ia menyatakan, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal siap bekerja sama dengan GMH untuk mengembangkan berbagai potensi desa. Bentuk kolaborasi tersebut antara lain melalui pengembangan desa ekspor, desa wisata, dan desa tematik sesuai dengan karakteristik serta keunggulan masing-masing wilayah.
“Kami siap lahir batin bekerja sama dengan GMH. Tinggal mau atau tidak mewujudkan desa ekspor, desa wisata, desa tematik. Kita ingin desa bangkit, bukan hanya sebagai objek, tetapi subjek, maka lahirlah Asta Cita ke-6. Karena kalau ekonomi merata, pasti kemiskinan akan turun,” imbuhnya.
Yandri menambahkan, kolaborasi dengan berbagai mitra terus diperkuat untuk mendukung agenda pembangunan desa. Kerja sama tersebut tidak hanya melibatkan kementerian dan lembaga pemerintah, tetapi juga organisasi kemasyarakatan, kalangan akademisi, mahasiswa, serta berbagai unsur yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan desa.
Kemitraan itu diarahkan untuk mewujudkan desa ekspor, desa wisata, desa tematik, serta sembilan poin lainnya dalam agenda aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia.
GMH dinilai memiliki peluang untuk berkontribusi melalui keterlibatan mahasiswa dari berbagai jurusan dan program studi. Dengan dukungan keahlian yang beragam, mahasiswa diharapkan dapat membantu mengidentifikasi potensi lokal, menyusun solusi atas persoalan masyarakat, serta memberikan pemberdayaan dan pendampingan secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, pembangunan desa diharapkan tidak hanya berfokus pada pemanfaatan potensi ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian masyarakat. Keterlibatan aktif mahasiswa menjadi salah satu langkah untuk mendorong pemerataan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan warga, dan mempercepat pengentasan kemiskinan di perdesaan. (Red/Rls)




























