JAWA TENGAH – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Tengah terus memperkuat kompetensi calon pekerja migran Indonesia (CPMI) melalui Program SMK Go Global Tahun 2026. Salah satu langkah konkret dilakukan dengan membuka pelatihan peningkatan kapasitas bagi CPMI yang berfokus pada keterampilan welder atau juru las di Solo Technopark, Surakarta, Rabu (14/10/2026).
Program pelatihan tersebut diikuti oleh 40 peserta yang akan memperoleh pembekalan keterampilan teknis dan sertifikasi sesuai bidang yang dipelajari. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempersiapkan calon pekerja migran yang kompeten, memenuhi standar kerja, serta mampu bersaing untuk mengisi peluang kerja di pasar internasional.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri, khususnya di bidang pengelasan. Selain meningkatkan kemampuan teknis, program ini juga diarahkan untuk memperkuat kesiapan peserta sebelum memasuki proses penempatan kerja di luar negeri.
Pembukaan pelatihan dihadiri Kepala BP3MI Jawa Tengah Dewi Ariani, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Surakarta Pramutedy Sukoco, perwakilan Tim Kelembagaan BP3MI Jawa Tengah, perwakilan Bank Jateng, perwakilan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI) PT Dila Fadil, serta sejumlah pemangku kepentingan yang mendukung pelaksanaan program peningkatan kapasitas CPMI.
Dalam sambutannya, Kepala BP3MI Jawa Tengah Dewi Ariani menjelaskan bahwa Program SMK Go Global merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang memiliki kompetensi dan daya saing di tingkat internasional.
Program tersebut sejalan dengan arahan Presiden untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja melalui peningkatan keterampilan, pelatihan, dan sertifikasi kompetensi. Upaya itu juga mencakup penguatan kemampuan bahasa asing yang disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan penempatan.
Menurut Dewi, pelatihan dan sertifikasi merupakan kesempatan penting bagi para peserta untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus memperbesar peluang memasuki pasar kerja global. Karena itu, setiap peserta diharapkan mengikuti seluruh tahapan pelatihan dengan serius agar keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Program SMK Go Global ini menjadi salah satu upaya untuk mempersiapkan calon pekerja migran Indonesia agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja global. Saya berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, serta berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan dan memperoleh sertifikasi kompetensi sebagai bekal bekerja secara profesional,” ujarnya.
Dewi menegaskan bahwa kompetensi teknis menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing calon pekerja migran. Dengan keterampilan yang sesuai standar, peserta diharapkan lebih siap memenuhi persyaratan perusahaan dan menjalankan pekerjaan secara profesional.
Namun, ia mengingatkan bahwa persiapan bekerja ke luar negeri tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan. Calon pekerja migran juga perlu memahami negara tujuan, jenis pekerjaan yang akan dilamar, persyaratan administrasi, serta biaya penempatan yang harus dipersiapkan.
Menurutnya, pemahaman terhadap seluruh tahapan penempatan sangat penting agar peserta dapat mengambil keputusan secara matang dan terhindar dari informasi yang tidak benar. Persiapan yang baik juga membantu calon pekerja migran memahami hak dan kewajibannya sebelum berangkat bekerja ke luar negeri.
“Selain meningkatkan keterampilan, peserta perlu mencari informasi yang benar mengenai negara tujuan, jenis pekerjaan, persyaratan, dan biaya penempatan. Jangan hanya berorientasi pada keinginan untuk segera bekerja ke luar negeri, tetapi persiapkan diri dengan kompetensi, kemampuan bahasa, sikap kerja, serta pemahaman mengenai prosedur penempatan yang resmi. Dengan persiapan yang baik, peluang kerja dapat dimanfaatkan secara lebih terarah dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Sementara itu, Untung Priyo dari Solo Technopark menyampaikan laporan pelaksanaan pembukaan Program SMK Go Global melalui pelatihan dan sertifikasi welder. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar, tetapi juga mampu meningkatkan kemampuan praktik sebagai bekal memasuki dunia kerja, termasuk peluang kerja di luar negeri,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan pembukaan juga diisi dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKSS) oleh Kepala BP3MI Jawa Tengah bersama pihak Solo Technopark. Penandatanganan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan kerja sama antarpihak dalam mendukung peningkatan kompetensi calon pekerja migran Indonesia.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat penyelenggaraan pelatihan yang terarah, sekaligus memastikan materi pembelajaran memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia kerja. Sinergi antara lembaga pemerintah dan lembaga pelatihan juga menjadi faktor penting dalam membangun sistem penyiapan tenaga kerja yang lebih efektif.
Pelatihan welder di Solo Technopark dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan di bidang pengelasan. Peserta diharapkan tidak hanya menguasai keterampilan praktik, tetapi juga memahami pentingnya kedisiplinan, ketelitian, tanggung jawab, dan keselamatan kerja dalam menjalankan profesinya.
Keterampilan pengelasan membutuhkan kemampuan teknis yang memadai serta kepatuhan terhadap prosedur kerja. Oleh karena itu, pembekalan yang terstruktur diharapkan dapat membantu peserta meningkatkan kesiapan menghadapi tuntutan pekerjaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Sertifikasi kompetensi juga menjadi bagian penting dalam proses peningkatan kualitas calon pekerja migran. Melalui sertifikasi yang sesuai dengan bidang dan standar yang dipersyaratkan, peserta diharapkan memiliki bukti kemampuan yang dapat mendukung proses seleksi kerja.
Meski demikian, sertifikasi perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap kebutuhan perusahaan, ketentuan negara tujuan, kemampuan komunikasi, serta pemenuhan seluruh persyaratan penempatan yang berlaku. Dengan persiapan yang menyeluruh, calon pekerja migran diharapkan dapat menjalani proses penempatan secara lebih aman dan bertanggung jawab.
BP3MI Jawa Tengah terus mendorong penguatan kolaborasi dengan lembaga pelatihan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas akses pelatihan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan memasuki pasar kerja internasional.
Melalui Program SMK Go Global Tahun 2026, peningkatan kompetensi diharapkan menjadi fondasi bagi calon pekerja migran Indonesia untuk memperoleh peluang kerja yang lebih luas. Program ini juga diharapkan mendukung terciptanya pekerja migran yang terampil, profesional, memahami prosedur penempatan resmi, dan mampu bersaing di tingkat global.
Dengan pembekalan keterampilan, sertifikasi, dan persiapan yang matang, para peserta diharapkan dapat memanfaatkan peluang kerja internasional secara optimal sekaligus membawa nama baik Indonesia melalui kinerja yang profesional. (Red)

































