Beranda Daerah

BPS Catat Ekonomi NTB Melaju 7,39 Persen, Sektor Tambang dan Smelter Jadi Penggerak

NTB – Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat pertumbuhan positif sebesar 7,39 persen pada Triwulan III-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja sektor pertambangan dan penggalian menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi daerah, seiring optimalisasi operasional smelter serta berlanjutnya produksi tambang konsentrat tembaga.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, menyampaikan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku pada Triwulan III-2026 mencapai Rp56,50 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp31,06 triliun.

Dalam keterangannya pada Jumat (6/11/2026), Wahyudin menjelaskan bahwa secara triwulanan, perekonomian NTB tumbuh sebesar 3,90 persen dibandingkan Triwulan II-2026. Adapun secara tahunan atau year-on-year (yoy), pertumbuhan mencapai 7,39 persen.

“Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tumbuh 7,39 persen pada Triwulan III-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi sejak Triwulan I hingga Triwulan III-2026 mencapai 9,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Dari sisi produksi, sektor pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan sebesar 30,23 persen secara tahunan. Sementara itu, industri pengolahan menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi secara triwulanan, yakni mencapai 55,79 persen.

Menurut Wahyudin, capaian tersebut terutama ditopang oleh optimalisasi operasional smelter dan berlanjutnya siklus produksi tambang konsentrat tembaga. Peningkatan aktivitas industri pengolahan logam juga memberikan penguatan terhadap kontribusi ekspor dalam struktur perekonomian NTB.

“Kinerja tersebut terutama ditopang optimalisasi operasional smelter dan berlanjutnya siklus produksi tambang konsentrat tembaga. Peningkatan aktivitas industri pengolahan logam turut memperkuat kontribusi ekspor terhadap perekonomian NTB,” ujar Wahyudin.

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan sebesar 31,37 persen secara tahunan. Bahkan, secara kumulatif, pertumbuhan ekspor NTB mencapai 53,05 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan dan industri pengolahan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sepanjang Triwulan III-2026.

Wahyudin menjelaskan, berdasarkan data BPS, perkembangan perekonomian NTB tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai PDRB. Pertumbuhan juga terlihat dari kinerja sektor-sektor produksi serta peningkatan aktivitas ekspor.

Di tengah capaian tersebut, kondisi perekonomian NTB turut diikuti perkembangan positif pada sejumlah indikator sosial. Perbaikan kondisi ketenagakerjaan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat menjadi bagian penting dalam menggambarkan kemajuan pembangunan daerah.

“Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,03 persen. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB meningkat menjadi 74,73 atau masuk kategori tinggi,” imbuhnya.

Capaian pertumbuhan ekonomi, peningkatan ekspor, serta perbaikan sejumlah indikator sosial tersebut menjadi gambaran perkembangan pembangunan di Provinsi NTB. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetap perlu diiringi dengan pemerataan kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap berkelanjutan. Penguatan sektor-sektor produktif, peningkatan nilai tambah industri, serta optimalisasi potensi daerah menjadi langkah penting untuk mempertahankan kinerja perekonomian.

Selain itu, pemerataan manfaat pembangunan juga perlu menjadi perhatian agar pertumbuhan yang dicapai tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah NTB.

Dengan dukungan sektor pertambangan, industri pengolahan, dan ekspor, NTB memiliki peluang untuk terus memperkuat fondasi ekonominya. Pada saat yang sama, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan kesempatan kerja, dan pemerataan kesejahteraan perlu berjalan seiring agar pertumbuhan ekonomi memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. (Red/AH)