Menantu Nurhadi Hidup Mewah dan Jual Perumahan Fiktif

Jakarta, Sahabat rakyat.com – Rahmat Santoso sebagai saksi dalam persidangan mengatakan Rezky Herbianto selaku menantu dari mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi punya gaya hidup mewah dan menjual perumahan fiktif.

“Setahu saya orang tua Rezky yang laki-laki sudah meninggal. Sebelum menikah, dia sudah ada Ferrari, dia beli Ferrari, tadinya ada Mercy, atau apa hanya saya tidak begitu mengikuti, cuma ada beberapa teman mengatakan dia sewa (Ferrari),” kata saksi Rahmat Santoso di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu.

Rahmat adalah adik ipar Nurhadi dan adik kandung dari istri Nurhadi, Tin Zuraida.

Rahmat menjadi saksi untuk dua terdakwa, yaitu mantan Sekretaris MA Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyanto yang didakwa menerima suap sejumlah Rp45,726 miliar dari Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) 2014—2016 Hiendra Soenjoto dan gratifikasi senilai Rp37,287 miliar dari sejumlah pihak pada periode 2014—2017.

Rezky diketahui menikah dengan Rizki Aulia Rahmi, anak Nurhadi dan Tin Zuraida.

“Saya bacakan keterangan Saudara di BAP No. 24, Saudara menjelaskan saat kuliah Lia (Aulia) tinggal dengan ibu saya yang disewa Tin Zuraida, dan ibu saya mau tinggal di situ karena diminta Nurhadi dan Tin untuk menemani Lia yang sedang kuliah di Unair,” katanya.

Kendaraan Lamborghini dan Ferrari milik Rezky diparkir di rumah regency 21 Surabaya.

“Ketika ditanya ibu saya kepada Nurhadi kenapa Rezky memiliki kendaraan itu, padahal kerjaannya tidak jelas dan tidak jelas asal usul pembeliannya, Nurhadi seperti membela Rezky, dengan mengatakan ‘Rezky adalah pengusaha sukses dan memiliki usaha perumahan di Bali dengan nama The Cliff yang belakangan fiktif’, betul?” tanya jaksa penuntut umum KPK Wawan Yunarwanto.

“Iya belakangan setelah saya ketahui saya tanya bekas anak buah saya yang bantu Nurhadi, yaitu Waskito, ‘Itu The Cliff bagaimana ceritanya?’ dijawab ‘Tidak ada oom’. Saya juga tidak pernah mengecek perumahan itu dan hanya dikasih brosurnya nilainya beberapa miliar,” jawab Rahmat.

Rahmat juga mengetahui Rezky membuka showroom mobil di Surabaya dan memiliki kantor di Jalan Bawean Surabaya. Padahal, Rahmat menilai Rezky tidak bisa bekerja dengan baik.

“Bu Tin pernah meminta agar mengajari Rezky bekerja di perusahaan outsourcing security milik saya tetapi ternyata tidak sesuai harapan karena banyak tagihan macet,” ungkap Rahmat.

Akibat ulah Rezky, banyak satpam tidak mendapat gaji 2—3 bulan karena keterlambatan penagihan pembayaran oleh Rezky kepada perusahaan penyewa tenaga keamanan.

“Akhirnya Rezky buka kantor sendiri di Jalan Bawean. Awalnya dia katakan kantor itu dibeli tapi ternyata belakangan diketahui rumah itu sewa setelah ada ibu yang mengadu kepada saya karena sewanya sudah tidak dibayar berapa bulan,” kata Rahmat.(Ant)