Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas menyusul peningkatan jumlah titik panas (hotspot) tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional pada 6 September 2026.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, pada Minggu (6/9/2026) pukul 21.25 WIB terdeteksi 674 hotspot high confidence secara nasional. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 558 titik pada sehari sebelumnya.
Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat jumlah hotspot high confidence tertinggi, yakni 243 titik, disusul Kalimantan Barat (Kalbar) 138 titik, Sumatra Selatan 61 titik, Jambi 26 titik, Kalimantan Selatan 20 titik, dan Riau tujuh titik.
Peningkatan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi perhatian dalam penguatan operasi lapangan. Sementara itu, Sumatra Selatan menunjukkan perkembangan positif dengan penurunan 59 titik atau sekitar 49 persen, dari 120 titik pada 5 September menjadi 61 titik pada 6 September 2026. Riau juga mengalami penurunan.
Kemenhut menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Pengendalian karhutla dilakukan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta para pihak lainnya. Operasi mencakup patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan lokasi untuk mencegah api kembali menyala.
Selain operasi darat, pemerintah mengerahkan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada digunakan untuk operasi water bombing. Pengerahan armada dilakukan berdasarkan kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan.
OMC juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk membantu pembasahan lahan serta mendukung operasi pengendalian karhutla.
Pantau Kualitas Udara dan Jarak Pandang
Selain perkembangan hotspot, pemerintah terus memantau kualitas udara berbasis PM2,5, sebaran asap, kondisi cuaca, dan jarak pandang. Pada 6 September 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, pada sebagian wilayah terpantau kategori berbahaya.
Pemantauan BMKG terhadap cuaca penerbangan pada malam 6 September menunjukkan jarak pandang di sejumlah kota prioritas, yakni Pontianak sekitar dua kilometer dengan kondisi berasap, Palangka Raya sekitar delapan kilometer dan berawan, Banjarmasin sekitar sembilan kilometer dan cerah berawan, Palembang 10 kilometer atau lebih dan berawan, Jambi sekitar tujuh kilometer dan berawan, serta Pekanbaru sekitar delapan kilometer dan cerah berawan.
Kondisi Pontianak menjadi perhatian karena jarak pandang masih sekitar dua kilometer dengan kondisi berasap. Sementara itu, jarak pandang di kota-kota prioritas lainnya relatif lebih baik pada waktu pengamatan tersebut.
Kementerian Kehutanan bersama instansi terkait terus memantau hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, dan jarak pandang secara terpadu. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas operasi dan pengerahan sumber daya.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.
Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran dapat segera melapor melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.