PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau terus mendorong transformasi praktik keperawatan sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. Peran tenaga perawat kini tidak hanya berfokus pada pelayanan pengobatan, tetapi juga mencakup upaya promotif, preventif, edukasi kesehatan, hingga pengendalian penyakit di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan transformasi praktik keperawatan perlu berjalan seiring dengan arah kebijakan pembangunan kesehatan nasional, khususnya dalam mendukung enam pilar Transformasi Kesehatan Indonesia. Salah satu fokus utamanya adalah penguatan pelayanan kesehatan primer dan pelayanan kesehatan rujukan.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Konferensi Keperawatan Universitas Riau yang digelar di Hotel Royal Asnof, Rabu (4/11/2026). Menurut Zulkifli, pelayanan kesehatan primer merupakan fondasi penting dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
“Penguatan layanan primer menjadi salah satu prioritas karena pelayanan kesehatan tingkat pertama merupakan fondasi utama dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, peran tenaga keperawatan dalam pelayanan kesehatan primer semakin penting, terutama melalui pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 2,5 juta masyarakat telah terdata melalui program tersebut di Provinsi Riau.
Dari hasil pemeriksaan kesehatan, hipertensi menjadi salah satu penyakit dengan angka temuan tertinggi. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular melalui edukasi, pemeriksaan rutin, serta pendampingan kesehatan secara berkelanjutan.
“Di sinilah perawat memiliki peran strategis, baik melalui kegiatan penelitian, edukasi, promosi kesehatan, maupun tindakan preventif di tengah masyarakat. Perawat tidak hanya bertugas memberikan pelayanan ketika seseorang jatuh sakit, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun kesadaran masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya secara mandiri,” jelasnya.
Zulkifli menambahkan, edukasi kesehatan keluarga merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah risiko penyakit dan komplikasi. Melalui pemahaman mengenai pola hidup sehat, pengendalian faktor risiko, serta deteksi dini, keluarga diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam menjaga kesehatan setiap anggotanya.
Ia mencontohkan penanganan pasien hipertensi yang dapat dilakukan secara optimal di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Upaya tersebut meliputi pemberian pengobatan secara teratur, pemantauan tekanan darah, serta edukasi mengenai perubahan gaya hidup.
Penanganan sejak dini dinilai penting untuk mengurangi risiko komplikasi serius, seperti stroke. Dengan pengelolaan yang tepat di tingkat pertama, kondisi pasien diharapkan tetap terkendali sehingga tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang membutuhkan perawatan lanjutan di rumah sakit.
“Harapannya, masyarakat yang sehat tidak menjadi sakit, sementara masyarakat yang sakit dapat kembali sehat. Penyakit seperti hipertensi harus bisa dikelola sejak awal di layanan primer sehingga tidak berkembang menjadi komplikasi yang membutuhkan perawatan di rumah sakit,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Zulkifli menyampaikan bahwa penguatan pelayanan kesehatan primer harus didukung ketersediaan sumber daya manusia kesehatan yang memadai, pemerataan tenaga kesehatan, serta peningkatan cakupan program imunisasi.
Provinsi Riau saat ini memiliki 172 kecamatan dan 1.862 desa dengan dukungan 244 Puskesmas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 146 Puskesmas telah dilengkapi fasilitas rawat inap. Keberadaan fasilitas kesehatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas akses pelayanan bagi masyarakat di berbagai wilayah.
“Kedepannya, kapasitas pelayanan Puskesmas akan terus diperkuat melalui program revitalisasi yang didukung pemerintah pusat. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas infrastruktur, fasilitas, serta kapasitas sumber daya manusia kesehatan, termasuk tenaga keperawatan profesional,” sebut Zulkifli.
Ia berharap, penguatan fasilitas kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga keperawatan, dan optimalisasi pelayanan kesehatan primer dapat membuat sistem pelayanan kesehatan di Provinsi Riau semakin terintegrasi dengan layanan rujukan.
“Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pelayanan dan penanganan kesehatan secara optimal sejak tingkat pertama, sehingga tidak semua kasus penyakit harus berakhir di rumah sakit,” terangnya.
Melalui transformasi praktik keperawatan yang berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Riau berharap kualitas pelayanan kesehatan semakin meningkat. Selain itu, masyarakat diharapkan semakin sadar dan mandiri dalam menjaga kesehatan, sehingga upaya pencegahan penyakit dapat berjalan lebih efektif dan derajat kesehatan masyarakat terus membaik. (Red/AP)

















