Jakarta – Berbagai catatan menyebut olahraga tenis telah ada di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda dibawa orang-orang eropa. Meski secara historis sudah cukup lama bercokol di Tanah Air, tenis belumlah sepopuler sepak bola atau bulu tangkis yang dianggap lebih merakyat di kalangan masyarakat.

Secara prestasi, tenis juga masih belum bisa memberikan medali prestisius pada pesta olahraga multicabang dunia, olimpiade seperti cabang bulu tangkis, panahan, atau angkat besi.

Tetapi, jika berbicara soal persaingan di Asia, tenis Tanah Air boleh dibilang sangat membanggakan. Di level Asia, tenis Tanah Air masuk dalam jajaran tiga besar paling berprestasi dalam klasemen abadi Asian Games dengan total meraih 15 medali emas yang hanya kalah dari Jepang (27 emas) dan Korea Selatan (16).

Bahkan negara dengan tradisi kuat tenis, India, kalah dari Indonesia dengan hanya mengoleksi enam emas. Di beberapa edisi Asian Games bahkan kerap kali tenis menyumbang emas yang terbanyak untuk Merah Putih, melebihi cabang andalan bulu tangkis. Seperti di Asian Games Bangkok 1966, kontingen Indonesia total meraih lima medali emas yang terdiri, dua dari badminton dan tiga dari tenis yang diraih oleh Lany Kaligis (tunggal putri), Lita Liem/Lany Kaligis (ganda putri), dan Lany Kaligis, Lita Liem, Mien Suhadi (beregu).

Pada 1982 dalam Asian Games IX di New Delhi, India, bulu tangkis dan tenis berbagi peran seimbang untuk menyelamatkan muka Indonesia dengan masing-masing menyumbang dua emas. Kala itu, dua emas tenis Indonesia disumbang oleh Yustedjo Tarik (tunggal putra) dan kuartet Yustedjo Tarik, Hadiman, Tintus Arianto Wibowo, dan Wailan Walalangi (beregu).

Di Asian Games 1990, ganda putri Yayuk Basuki/Suzanna Wibowo dan ditambah ganda campuran Yayuk/Suharyadi membuat kontingen Garuda pulang dengan tiga emas. Dua dari tenis, dan satu lagi dari pukulan-pukulan petinju Pino Bahari.

Tenis terakhir kali menyumbang emas di Asian Games 2002 di Busan melalui tim putri yang terdiri dari Angelique Widjaja, Wynne Prakusya, Liza Andriyani, dan Wukirasih Sawondari.

Setelah itu, seiring dengan bertambahnya waktu, seakan-akan tenis Indonesia kehilangan pemain-pemain cemerlangnya yang turut membawa nama Indonesia tenggelam di kancah dunia tenis Asia.

Salah satu legenda tenis Indonesia, Yustedjo Tarik, menilai kurangnya “dukungan” pada para atlet merupakan penyebab stagnannya prestasi tenis Indonesia hingga tertinggal dari negara-negara lainnya.

“Pertama, lapangannya ada, tapi tidak yang mencukupi, minimal 10 dalam satu lokasi? di Jakarta sebagai ibu kota negara saja sekarang sudah tidak ada,” kata Tedjo.

“Yang tak kalah penting adalah sponsorship yang menjadi hal klasik namun jadi kendala utama dalam hal ini yang cukup menyebabkan prestasi tenis kita jalan di tempat,” lanjutnya.

Dengan tidak adanya dukungan tersebut, intensitas pertandingan para pemain menjadi sangat kurang yang akhirnya banyak pemain berprestasi di level junior yang sulit berprestasi di level senior, walau sebenarnya Indonesia memiliki “raw material” dunia tenis yang mumpuni untuk maju.

Idealnya, para pemain sejak beranjak dari junior tiap tiga bulan penuh memiliki jadwal pertandingan yang diselingi satu bulan penggodokan kembali di tanah air demi meningkatkan mutu permainannya.

Hal itu diamini oleh mantan petenis putri nasional Angelique Widjaja yang sempat mencicipi bercokol di peringkat 55 dunia putri yang melihat jumlah turnamen yang dijalankan petenis tanah air jauh dari cukup meski saat ini sudah ada turnamen internasional di Indonesia, termasuk 6 turnamen Mens Futures dan 2 turnamen Womens Circuit.

“Petenis Indonesia yang ingin terjun ke profesional harus berkomitmen menambah pengalaman bertanding di luar negeri dan terus-menerus mendongkrak peringkatnya, tidak bisa hanya mengandalkan turnamen yang ada di dalam negeri,” kata peraih medali emas tunggal putri Asian Games 2002 itu.

Legenda hidup tenis Thailand Tamarine Tanusagarn yang semasa jayanya menjadi saingan berat Yayuk Basuki di kawasan Asia Tenggara bahkan Asia mengungkapkan manajemen tenis yang baik. “Banyak subjeknya untuk jadi profesional. Kamu harus punya sponsor yang bagus, manajer yang bagus, orang tua yang mendukungmu dan terakhir adalah komitmen dirimu sendiri,” kata Tamarine dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Dari sederet petenis tanah air, saat ini yang aktif disponsori untuk tur luar negeri salah satunya ada nama Christopher Rungkat, sedangkan lebih banyak yang sulit mendapatkan sponsor.

Yustedjo Tarik menilai ada jalan lain yang bisa dilakukan, yakni melibatkan peran aktif federasi tenis dalam negeri (PELTI). “Federasi sebenarnya juga bisa aktif terlibat dengan mempromosikan pemain-pemainnya dalam mencari sponsor kalau perlu bantu sampai uang sakunya,” tutur Tedjo.

Dia menilai sponsor juga masih banyak yang mau turut serta untuk membantu para petenis Tanah Air meraih tempat prestisius dalam tenis.

“Karena para pelaku bisnis itu juga mengerti apa yang akan mereka dapat di kemudian hari ketika pemain tersebut menjadi profesional dan menjalani turnamen dengan hadiah yang tinggi. Sekarang tinggal tanya semua pemangku kepentingan apakah berniat atau tidak memajukan tenis ini,” ujar Tedjo yang saat ini tergabung dalam Barisan Atlet Tenis Veteran Indonesia (Baveti) itu menambahkan. (Ant)