Wamen Haji dan Umrah Soroti Kesenjangan Literasi Digital Jemaah

Jakarta – Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan  minimnya literasi digital menjadi  tantangan antropologis yang memicu maraknya kasus penipuan terhadap calon jemaah haji di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan  oleh Dahnil, pada tayangan podcast yang dipandu oleh Tenaga Ahli Ditjen KPM Kemkomdigi, Latif Siregar, di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta, pada Senin (22/6/2026).

Dahnil menyatakan, di satu sisi terdapat kelompok jemaah dengan literasi digital yang sangat tinggi, namun di sisi lain masih banyak jemaah yang sangat minim pemahamannya terhadap teknologi digital. Akibatnya, mereka rentan menjadi korban eksploitasi oknum tidak bertanggung jawab. “Tidak sedikit dari jemaah haji kita yang minim dengan literasi digital, namun di sisi lain ada kelompok jemaah yang literasi digitalnya tinggi,” ujar mantan anggota DPR tersebut.

Wamen Dahnil menyatakan,  Kementerian Haji dan Umrah tengah memprioritaskan transformasi dan perbaikan menyeluruh terhadap sistem layanan haji.

Selain mitigasi di sektor digital, regulasi ketat mengenai standarisasi kesehatan dan kemampuan  (isthithaah) jemaah juga akan menjadi fokus utama ke depan.

Langkah itu diambil mengingat beratnya medan dan beban fisik selama pelaksanaan ibadah di tanah suci. “Saat ini kami fokus transformasi perbaikan layanan haji dan ke depan kami akan sangat ketat terhadap soal isthithaah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dahnil mengatakan  sekitar 95 persen dari total rangkaian ibadah haji merupakan aktivitas fisik yang didominasi oleh berjalan kaki.

Oleh karena itu, ketahanan fisik yang prima menjadi syarat mutlak yang tidak dapat ditawar.

Ia juga memberikan catatan menarik bahwa jemaah dengan latar belakang profesi tertentu, seperti petani, cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik selama berada di Arab Saudi. “Rata-rata petani yang sehat selama ibadah haji,” kata Dahnil. (Red)