Percepat Transisi Energi, Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Simpan BBM

SAHABAT RAKYAT, Yogyakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkomitmen mempercepat transisi, dan swasembada energi nasional guna menjamin aksesibilitas masyarakat terhadap sumber daya energi.

Langkah strategis itu mencakup peningkatan kapasitas penyimpanan energi minimal hingga 30 hari serta target penghentian impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang diproyeksikan mulai berlaku pada tahun 2026 mendatang.

Koordinator Komunikasi dan Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM, Dian Lorensa, mengatakan  penguatan infrastruktur energi sangat krusial untuk meningkatkan ketahanan energi.

“Kapasitas kilang minyak akan ditingkatkan sehingga ketahanan energi makin tinggi,” ujar Dian dalam acara Gaskeun Camp di Kota Yogyakarta, Selasa (12/5/2026).

Dian mengatakan,  pemerintah tengah menjalankan sejumlah upaya konkret untuk mewujudkan kedaulatan energi, di antaranya melalui pembatasan konsumsi energi fosil, akselerasi konversi kendaraan listrik, serta optimalisasi penggunaan energi terbarukan.

Ia menekankan,  langkah itu diambil di tengah ketidakpastian global akibat krisis politik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi dan memicu kenaikan harga minyak dunia.

Meskipun menghadapi tantangan global, Dian menyatakan  Indonesia memiliki fundamental yang kuat dalam menghadapi krisis energi karena ketersediaan cadangan batubara yang melimpah.

Selain itu, pemerintah juga fokus pada pengembangan bahan bakar nabati (BBN) melalui implementasi mandatori biofuel.

“Kementerian ESDM juga menyiapkan langkah-langkah konkret pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk penguatan pemanfaatan B50,” katanya.

Pesan edukasi mengenai kemandirian energi tersebut disampaikan dalam kegiatan Gaskeun Camp yang diselenggarakan oleh Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

Mengusung tema “Gen Z Mandiri Energi: Jurus Jitu Berdaulat di Era Digital”, acara itu dihadiri ratusan perwakilan mahasiswa dan masyarakat Yogyakarta, termasuk mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD), sebagai upaya strategis dalam meningkatkan literasi energi. (Red)