Jakarta – Bencana alam tidak berhenti ketika gempa, banjir, atau longsor berakhir. Perubahan lingkungan, buruknya sanitasi, munculnya habitat baru bagi vektor, hingga meningkatnya interaksi manusia dengan hewan dapat membuka peluang penyebaran penyakit.

Kondisi itu mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pendekatan One Health sebagai strategi mendeteksi dan mengendalikan ancaman penyakit tular vektor dan zoonosis sejak dini, terutama pada situasi pascabencana.

Pendekatan tersebut dibahas dalam Webinar Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis bertema “Strategi Mitigasi Terpadu: One Health untuk Menghadapi Bencana dan Zoonosis” yang digelar Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan BRIN.

Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Wahyu Pudji Nugraheni mengatakan risiko penyakit setelah bencana berkaitan erat dengan perubahan iklim, lingkungan, mobilitas penduduk, serta perubahan pola interaksi manusia, hewan, dan lingkungan. “Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Sehingga pencegahan dan pengendalian penyakit membutuhkan surveillance, riset, kesiapsiagaan, dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Wahyu, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (24/8/2026).

Menurut dia, perubahan ekosistem dan sanitasi pascabencana dapat memengaruhi distribusi vektor sekaligus menciptakan kondisi yang mendukung penularan penyakit. Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup dilakukan setelah kasus muncul, tetapi perlu dibangun melalui surveilans dan riset yang mampu membaca perubahan risiko sejak awal.

Dalam konteks tersebut, BRIN berperan menyediakan basis pengetahuan dan bukti ilmiah untuk mendukung penguatan surveilans, mitigasi, serta respons kesehatan masyarakat. Hasil riset diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan di lapangan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan, studi mengenai dinamika penularan penyakit tular vektor dan zoonosis (PTVZ) penting untuk membaca perubahan risiko infeksi setelah bencana alam. Gangguan sanitasi, perubahan lingkungan, terbentuknya habitat vektor, serta meningkatnya interaksi manusia, hewan, dan lingkungan dapat menjadi kombinasi yang meningkatkan peluang penyebaran penyakit.

Dengan dukungan data dan riset, perubahan tersebut dapat dipantau untuk mengidentifikasi potensi ancaman lebih awal. Langkah ini memungkinkan pemerintah dan pemangku kepentingan menyiapkan mitigasi sebelum peningkatan kasus berkembang menjadi wabah. Perspektif tersebut diperkuat Alghazali dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan yang membahas kebijakan nasional dan strategi penguatan ketahanan krisis kesehatan berbasis One Health.

Sementara T. Maulana dari Universitas Syiah Kuala Aceh membahas penguatan surveilans penyakit tular vektor dalam situasi pascabencana. Adapun Sutarno dari Direktorat Mitigasi Bencana, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, memaparkan strategi mitigasi bencana berbasis One Health untuk meningkatkan ketahanan masyarakat.

Webinar juga menjadi ruang kolaborasi antara peneliti, pemerintah, akademisi, praktisi kesehatan, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan lain. Kolaborasi dibutuhkan karena ancaman penyakit pascabencana berada pada persimpangan antara persoalan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kondisi lingkungan.

Ketua Umum Perkumpulan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI) Suwito mengingatkan, wilayah pengungsian menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian vektor.

Kondisi lingkungan setelah bencana dapat memicu peningkatan populasi nyamuk, lalat, dan tikus yang berpotensi meningkatkan risiko penularan sejumlah penyakit. Karena itu, pengendalian vektor perlu dilakukan secara preventif dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekaligus hasil pemantauan di lapangan.

Suwito mencontohkan pengendalian vektor di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang menurutnya turut berkontribusi dalam pengendalian malaria di kawasan inti pusat pemerintahan. “Strategi mitigasi terpadu One Health untuk menghadapi bencana dan zoonosis ini merupakan bagian penting yang perlu kita persiapkan karena potensi untuk bencana maupun wabah di Indonesia juga relatif besar,” ujar Suwito.

Perlunya Integrasi Antardata Penelitian, Survelains, dan Kebijakan

Penerapan One Health, lanjutnya, tidak hanya membutuhkan teknologi pengendalian vektor, tetapi juga integrasi surveilans, pertukaran data, penelitian, serta pengambilan keputusan berbasis bukti.

BRIN menilai penguatan jejaring lintas sektor menjadi kunci agar pengetahuan dan data dapat diterjemahkan menjadi langkah mitigasi yang konkret. Dengan demikian, respons terhadap ancaman penyakit tidak semata-mata bersifat reaktif ketika jumlah kasus telah meningkat.

Komitmen tersebut sekaligus menempatkan riset sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan bencana. Informasi mengenai perubahan lingkungan dan dinamika vektor dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan prioritas intervensi, terutama di wilayah yang terdampak bencana.

Webinar yang dimoderatori Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Mara Ipa itu ditutup Ketua Kelompok Riset Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis BRIN Beni Ernawan selaku pelaksana kegiatan.

Ke depan, BRIN akan memperkuat riset, diseminasi pengetahuan, dan jejaring kolaborasi untuk mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti. Upaya tersebut diarahkan pada penguatan surveilans terpadu, kesiapsiagaan bencana, serta pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis di Indonesia.

Dengan pendekatan One Health, kesiapsiagaan tidak lagi hanya berfokus pada penanganan orang yang sakit, tetapi membaca hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan sebelum ancaman berkembang menjadi krisis kesehatan.