Jakarta – Direktur Institut Urusan Internasional di Renmin University of China Wang Yiwei mengatakanm berdasarkan analisis Bloomberg, “Belt and Road Initiative” (BRI) diprediksi akan menyumbang 80 persen pertumbuhan ekonomi global dan menciptakan tiga miliar lebih kelas menengah baru di dunia pada 2050.
“Dalam dekade mendatang, Belt and Road Initiative akan menciptakan perdagangan senilai 2,5 triliun dolar AS,” ujar Yiwei.
Pria yang juga mantan diplomat di Misi China untuk Uni Eropa pada 2008-2011 itu, menuturkan BRI akan memberikan manfaat di antaranya pembangunan ekonomi dan meningkatakan kesejahteraan masyarakat kawasan.
Yiwei yang juga Direktur Pusat Studi Eropa di Renmin University of China menjelaskan setelah krisis keuangan global, maka diperlukan kekuatan motor penggerak untuk pertumbuhan ekonomi sehingga tidak hanya mengandalkan pada gelembung ekonomi dan bantuan modal namun lebih pada ketahanan untuk mendorong peningkatan ekonomi.
Dia menyatakan, diperlukan perubahan untuk fokus pada sejumlah hal di antaranya ekonomi, jalan, infrastruktur dan investasi yang menguntungkan semua orang tidak hanya orang kaya namun yang miskin berubah menjadi semakin meningkat kesejahteraannya.
“BRI juga fokus menjembatani kesenjangan antara kaya dan miskin,” kata Yiwei yang memiliki ketertarikan penelitian termasuk tentang studi “Belt and Road”, integrasi Eropa, diplomasi publik, kebijakan luar negeri Tiongkok dan hubungan Tiongkok-Uni Eropa.
Profesor yang meluncurkan buku terbarunya berjudul “China Connects the World: What Behind the Belt and Road Initiative” pada 2017 itu, mengatakan BRI akan berkontribusi terhadap kekayaan, perdamaian, dan stabilitas bangsa-bangsa.
Untuk itu, dia mengatakan Tiongkok dan negara-negara yang dilalui inisiatif sabuk dan jalan tersebut saling berkolaborasi membangun ekonomi kawasan. “Ini adalah proyek ekonomi yang membawa manfaat bagi semua,” katanya lagi.
Dia mengatakan pula, Tiongkok mengemukakan inisiatif tersebut dan mengajak negara-negara lain untuk ikut dalam mewujudkan inisiatif tersebut.
“Belt and Road Initiative menyoroti kepada sinergi dari strategi, misalnya Indonesia memiliki rencana sendiri untuk pembangunan infrastruktur dan ekonomi, sementara Tiongkok bekerja bersama-sama dan berkonsultasi. Misalnya, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini tidak hanya menjadi pekerjaan Tiongkok, melainkan Indonesia dan Tiongkok bekerja sama untuk melakukan itu, dan juga bersama-sama dengan para pemangku kepentingan lainnya,” katanya pula.
Inisiatif tersebut mengacu pada Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt) dan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (21st Century Maritime Silk Road).
“BRI akan menghubungkan proyek-proyek ke dalam jalur-jalur, dan jalur-jalur akan tumbuh menjadi sabuk, zona, dan kekuatan-kekuatan ekonomi kemakmuran,” ujar Yiwei.
Selain itu, BRI akan mendorong transportasi yang dapat memotong hambatan menuju kemakmuran, sehingga memperluas pasar yang mendatangkan pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, BRI mewujudkan interkoneksi dalam transportasi di udara, darat, dan laut, pipa minyak dan gas, dan telekomunikasi yang mencakup 65 negara dan wilayah.
Sebelumnya, digagas oleh Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping pada 2013, BRI menawarkan sebuah upaya untuk memperluas peluang bagi pembangunan dan kesejahteraan bersama melalui kerja sama yang saling menguntungkan.
Tiongkok berharap BRI bisa dipahami sebagai strategi kerja sama regional untuk kawasan Eurasia dan Afrika, bukan sekadar proyek konektivitas yang justru lebih dikenal dengan istilah “One Belt One Road” (OBOR).
“Saya ingin menggarisbawahi bahwa strategi ini tidak hanya mencakup One Belt atau One Road saja, tetapi merupakan platform kerja sama regional,” kata peneliti senior Akademi China untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Ekonomi Zhang Jianping.
Sebagai model baru kerja sama internasional dan globalisasi inklusif, BRI mengusung konektivitas sebagai kata kunci dalam berbagai sektor seperti perdagangan, pembangunan infrastruktur serta relasi antarmanusia.
“Ini adalah kombinasi strategi Barat dan Timur, bahkan lebih baik daripada perjanjian perdagangan bebas yang terlalu Barat dan jauh dari kawasan kita,” kata Jianping. (Ant)

































