Pidie, Aceh – Kisah ini diceritakan oleh dua orang pemuda yang selamat ketika gempa Aceh yang berkekuatan 6,5 pada skala Richter pada hari Rabu (7/12/2016). Walaupun tubuhnya terhimpit beton masjid yang ambruk, tapi atas kehendak Allah, mereka bisa selamat. 

Kedua orang itu Safrial (23) dan Mustajabah (28), keduanya hampir setiap hari tidur di masjid yang menjadi kebanggaan bagi Gampong Kayoe Jatoe yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat ibukota kabupaten, Meureudu.

“Seperti biasanya saya bersama teman saya, Mustajabah tidur di masjid pada Selasa (6/12/2016) malam,” ujar Safrial sembari menunjukkan posisi dirinya saat tertimpa bangunan masjid itu.

“Saya berdua tidur di pojokan masjid, itu lapak saya tidur di masjid. Tidak ada firasat sama sekali akan tertimpa musibah tersebut. Seusai mengaji pada tengah malam, kami pun beristirahat,” ujar Safrial lagi.

Menurut Safrial, tidur malam itu benar-benar lelap karena pada siang harinya, mereka ke sawah. Sama sekali tidak ada firasat apapun. Saat gempa, Safrial terbangun ketika merasakan goyangan gempa yang teramat kencang dan gerakannya naik turun, berbeda halnya dengan peristiwa gempa tektonik pada 2004 yang berujung dengan tsunami dimana gerakan gempa yang terasa oleh warga, secara mendatar.

Ketika itu, Safrial memanggil rekannya itu, “Mus..Mus, dimana?,” tanyanya dalam kegelapan ruangan masjid itu.

Dirinya baru menyadari jika rekannya sudah terjaga sebelumnya dan Safrial menyuruh rekannya untuk segera ke luar meninggalkan masjid. “Cepat ke luar,” kata Safrial, mengutip omongan rekannya Mustajab.

“Kau saja yang ke luar dari masjid, biarlah saya tetap di masjid ini. Ini gempa,” timpal pemuda berusia 23 tahun yang dalam pikirannya bahwa masjidlah menjadi tempat yang paling aman. 

Ternyata, dalam hitungan detik seusai guncangan gempa itu dan Mustajab yang hendak ke luar masjid. Dirinya mendengar suara keras dari atap. Belum juga mencapai pintu masjid, atap masjid yang terbuat dari coran beton itu untuk menyangga kubah berwarna hijau itu, sudah jatuh.

“saat itu, saya dalam posisi tiarap sambil beristighfar. Brukkk..brukkk… atap beton itu runtuh. Sayapun terus menyebut-nyebut nama asma Allah dan meminta Mustajab mengikuti doa-doanya itu,” ujarnya.

Dalam keadaan gelap gulita itu, Safrial dan Mustajab terjebak dalam lorong sempit antara beton atap masjid dan lantai. Diapun memerintahkan rekannya untuk segera berdiri dan ke luar dari masjid. Tapi, Saat mencoba bangkit, kepalanya terantuk beton yang telah menutupi tubuhnya.

“Saya pun mencoba meraba dengan tangan dalam posisi tiarap itu, saya baru sadar kami benar-benar sudah tertutup beton. Semuanya gelap gulita,” ujarnya.

Satu-satunya jalan yang dilakukan adalah meminta tolong kepada warga. Beberapa kali dirinya meneriakkan permintaan tolong namun sekeliling tetap sepi. Sekitar lima menit, saya bertahan di ruangan sempit itu. Akhirnya sejumlah warga ada yang mendengar dan mencoba mengeluarkan saya dan Mus dari celah-celah itu.

“Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan umur panjang, saya berhasil dikeluarkan dari ruangan. Tubuh Mustajab sendiri untuk dikeluarkan terhitung sulit karena posisinya berada di celah sempit,” katanya.

Bagian pinggang Mustajab diketahui patah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Saat ini, dia dirawat di RSUD Sigli. \

Safrial mengaku sampai sekarang masih trauma akan kejadian yang paling menyeramkan seumur hidupnya. Contohnya setiap ada gempa kecil yang sesekali masih menggoyang tempat tinggalnya. Ia pasti terperanjat. Kendati demikian, ia menyebutkan semuanya adalah cobaan dari Allah SWT dan kita harus siap menghadapinya.

“Itu cobaan dari Allah SWT kepada umatnya,” ujar Safrial.

Safrial bersama warga lainnya berharap dibangun kembali masjid itu agar memudahkan warga dalam beribadah. Dalam musibah bencana gempa bumi tektonik kali ini memang tergolong unik karena mayoritas masjid di daerah itu rusak. Keadaan berbeda dengan saat musibah besar tsunami pada 2004. (Ant/A1)