Jakarta – Banyak anak di Indonesia yang sudah telanjur terbiasa mengonsumsi susu kental manis sebagai minuman sehari-hari. Kebiasaan yang terbentuk sejak usia dini ini tidak mudah diubah karena telah menjadi bagian dari pola konsumsi keluarga.
Padahal, kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula secara rutin dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada anak, mulai dari kelebihan berat badan dan obesitas, kerusakan gigi, hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular di kemudian hari.
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Qolbu Insan Mulia Batang, dr. Osa Endiputra, M.Sc., Sp.G.K., AIFO-K, mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memahami bahwa susu kental manis bukanlah susu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
Menurutnya, kandungan gula dalam produk tersebut jauh lebih dominan dibandingkan kandungan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.
“Susu kental manis tahu ya? Yang dulu kalengan, sekarang ada sasetan itu. Susu kental manis tuh bukan susu ya, Bu. Hati-hati, susu kental manis itu bukan susu, itu gula. Gula bentuknya cair kental,” kata dr. Osa dikutip dari media sosial dr. Osa, Minggu (2/8/2026).
Kental Manis bukan Susu
Seperti diketahui, pemerintah sendiri sudah menegaskan kental manis bukan susu dan tidak dapat dijadikan pengganti susu untuk anak. Hal itu dijelaskan melalui Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Badan POM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang menegaskan kental manis tidak boleh dipromosikan sebagai susu.
dr. Osa menyebut dampak dari kebiasaan tersebut membaut anak-anak ketagihan kesulitan lepas dari kebiasaan mengonsumsi kental manis. Dampak selain dari ketagihan juga membuat nafsu makan anak menjadi menurun.
Menurut dr. Osa, menghentikan kebiasaan anak mengonsumsi susu kental manis tidak harus dilakukan secara tiba-tiba. Perubahan yang mendadak justru berpotensi membuat anak menolak sehingga orang tua dianjurkan mengganti kebiasaan tersebut secara bertahap.
Sebagai langkah awal, ia menyarankan orang tua mengganti minuman atau camilan manis dengan pilihan yang lebih sehat, seperti air putih, buah segar, atau pisang. Cara ini dinilai membantu anak tetap mendapatkan rasa manis yang disukai tanpa bergantung pada produk dengan kandungan gula tinggi.
Pendekatan bertahap juga sejalan dengan anjuran Kementerian Kesehatan yang mendorong orang tua membiasakan anak mengonsumsi makanan dan minuman bergizi seimbang sejak usia dini. Selain mencukupi kebutuhan zat gizi, kebiasaan tersebut dapat membantu membentuk pola makan sehat hingga anak beranjak dewasa.
Selain itu, dr. Osa menilai peran orang tua sangat menentukan keberhasilan perubahan kebiasaan makan anak. Karena itu, proses penggantian susu kental manis sebaiknya dilakukan secara konsisten tanpa paksaan agar anak dapat menerima pilihan makanan dan minuman yang lebih sehat.
“Ganti bertahap dengan misalnya air putih, pisang, buah potong, dan seterusnya. Intinya yang manis-manis coba kita kenalkan pengganti yang manis. Tapi pelan-pelan tentu saja,” ujar dr. Osa. (Red)
































