Jakarta – Pemerintah melengkapi implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) dengan meluncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring sebagai panduan bagi orang tua untuk mengajak anak beralih dari gawai ke aktivitas fisik dan permainan tradisional.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (KemKomdigi) bersama Kementerian Kebudayaan dan sejumlah mitra meluncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menjelaskan buku tersebut memuat 100 permainan dan aktivitas yang dapat menjadi referensi bagi orang tua untuk mengisi waktu anak setelah penggunaan gawai dibatasi.
“Ini merupakan pegangan bagi orang tua agar memiliki banyak pilihan aktivitas, baik permainan tradisional maupun permainan sederhana lainnya yang dapat mengurangi risiko anak terpapar kecanduan gawai, konten berbahaya, maupun komunikasi dengan orang yang tidak dikenal,” kata Meutya, dalam Festival Generasi Berani Exploring dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 di Cibis Park, Sabtu (25/7/2026).
Ia menambahkan, isi buku akan terus diperbarui seiring pendataan permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menambahkan Indonesia memiliki kekayaan budaya berupa lebih dari 2.500 permainan tradisional yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
Menurutnya, sebagian besar permainan tersebut mulai ditinggalkan seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital oleh anak-anak. Melalui momentum PP Tunas, pemerintah ingin memperkenalkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari anak Indonesia.
“Kita ingin permainan tradisional kembali dimainkan di rumah, sekolah, maupun komunitas. Selain menyehatkan, permainan ini juga mengandung nilai budaya dan membangun karakter anak,” ujar Fadli.
Ia menambahkan, promosi permainan tradisional akan dilakukan secara lebih sistematis melalui museum, situs budaya, kawasan cagar budaya, serta berbagai platform digital agar semakin dikenal generasi muda.
Meutya mengatakan gerakan tersebut tidak berhenti pada peluncuran buku saku, tetapi akan diperluas ke berbagai daerah melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta. Distribusi buku saku juga akan dilakukan secara bertahap, baik dalam bentuk cetak maupun digital, sehingga dapat dimanfaatkan lebih luas oleh keluarga Indonesia. “Gerakan ini akan terus berjalan. Kami akan menentukan daerah-daerah prioritas agar semakin banyak keluarga memperoleh alternatif aktivitas yang sehat bagi anak-anak,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Meutya mengajak anak-anak Indonesia untuk berani mencoba hal baru, tidak takut menghadapi kegagalan, serta terus mencintai budaya bangsa. “Belajar berani adalah bekal penting untuk menghadapi kehidupan. Jangan takut jatuh, karena setiap kali jatuh kita harus bangkit lagi. Terus maju dan cintai budaya Indonesia, termasuk permainan tradisional yang menjadi bagian dari jati diri bangsa,” pungkasnya. (Red)
































