Mensos: Kesetiakawanan Sosial Menyelesaikan Persoalan Bangsa

Gorontalo – Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kesetiakawanan sosial harus terus diperkuat sebagai modal dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan perbedaan yang dihadapi bangsa Indonesia dapat saat ini.

“Yang kita hadapi saat ini dan ke depan adalah berbagai masalah sosial seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, bencana sosial, bencana alam, dan masalah lain yang terkait dengan kesejahteraan sosial. Masalah tersebut dapat terselesaikan dengan semangat kebersamaan, kesetiakawanan sosial,” tuturnya saat menyampaikan sambutan pada Acara Puncak Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2018 di di Sport Center David-Tonny, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Kamis.

Mensos mengatakan kesetiakawanan sosial bertumpu pada dua hal, yaitu cinta dan kesetiaan. Cinta akan meluruhkan konflik dan menyatukan perbedaan. Bangsa yang majemuk bangsa normalnya penuh dengan konflik, tetapi cinta rakyat Indonesia terhadap tanah air dan sesama anak bangsa telah menyatukan ragam bangsa, budaya, dan agama dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“There is only one happiness in this life, to love and be loved,” tuturnya.

Menurut Menteri Agus, cinta menyatukan bangsa Indonesia untuk mencapai tujuan kehidupan bersama yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Faktor pendukung terpeliharanya tujuan kehidupan bersama tersebut adalah kesetiaan terhadap apa yang telah menjadi kesepakatan bersama, yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

“Kita telah menyaksikan bagaimana kesetiakawanan sosial dapat diandalkan dalam penanganan bencana di NTB dan Sulawesi Tengah. Semua pihak bahu-membahu membantu, baik masyarakat, NGO, dunia usaha, perusahaan swasta, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat,” terangnya.

Demikian halnya, lanjut Menteri, dengan berbagai capaian prestasi seperti penurunan angka kemiskinan.

“Angka kemiskinan, yang pertama kali dalam sejarah perjalanan bangsa dapat ditekan hingga satu digit, merupakan implementasi nilai kesetiakawanan sosial dalam pelaksanaan program-program penanganan kemiskinan,” kata pria berkaca mata ini.

Di sisi lain, lanjutnya, bangsa ini dihadapkan pada tantangan era globalisasi, era di mana interaksi dan komunikasi antarbelahan dunia dalam satu waktu sangat dimungkinkan terjadi. Manusia dengan segala macam budaya dan ideologi semakin terkoneksi.

“Secara positif, dampak globalisasi mendorong pertumbuhan dan pembangunan di berbagai bidang di Indonesia. Namun, globalisasi telah memungkinkan terjadinya penetrasi dan penjajahan kultur global terhadap kultur lokal masyarakat Indonesia,” katanya.

Globalisasi juga menjadi pintu masuk bagi ideologi-ideologi seperti fundamentalisme, radikalisme, separatisme, dan ideologi lain yang berseberangan dengan visi kesatuan dan nilai kesetiakawanan sosial yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Ideologi-ideologi tersebut secara tak terbendung masuk dengan cepat ke benak pikiran dan ruang-ruang privat anak bangsa melalui berbagai media, utamanya media digital.

Menurut dia, dampak arus globalisasi semakin kuat seiring dengan semakin majunya teknologi informasi digital. Teknologi menggeser aktivitas masyarakat dari dunia fisik ke dunia serba maya.

Ada kecenderungan anak-anak bangsa menjadi asosial karena interaksi, komunikasi, dan hubungan sosial dilakukan melalui perangkat-perangkat digital. Sementara sikap hidup instan kian mengikis ‘budaya berkeringat dan berproses’ dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, ulet, dan telaten yang merupakan wujud kebersahajaan dan kejujuran digerus oleh sikap pragmatis, oportunistik, dan serba cepat.

“Di tengah kekhawatiran terhadap makin lunturnya nilai-nilai sosial budaya akibat arus globalisasi, kita sebagai bangsa Indonesia patut bersyukur bahwa hingga saat ini nilai-nilai kesetiakawanan sosial masih cukup kental di masyarakat Indonesia,” terang Agus.

Dalam pandangan Menteri, bangsa Indonesia tetap bersatu di tengah kemajemukan suku, agama, dan budaya. Tingkat kepedulian dan kesetiakawanan dipandang masih baik.

“Baru-baru ini Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia berdasarkan laporan World Giving Index 2018. Selain itu, hasil penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Yogyakarta menemukan bahwa indeks kesetiakawanan sosial di Indonesia masih tinggi,” terangnya bangga.

Ia menyebutkan parameter kesetiakawanan sosial seperti tenggang rasa, gotong royong, toleransi, dan partisipasi sosial dinilai masih sangat baik.

Tema HKSN tahun 2018 “Kesetiakawanan Sosial Harmoni Indonesia”. Filosofi Kesetiakawanan Sosial adalah kepekaan rasa ingin menjadi bagian atau terlibat dari suatu keadaan sehingga muncul keinginan untuk menolong secara sukarela atau tanpa pamrih.

Esensi dari Peringatan HKSN adalah untuk menggugah perasaan, empati terhadap kesulitan orang lain secara bersama-sama melalui aksi nyata (togetherness for willingness/ menggugah kesadaran bersama untuk kebaikan semua).

Kegiatan memeringati HKSN 2018 telah dimulai dengan kegiatan Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (LBKS) yang dipusatkan di Provinsi Gorontalo. LBKS dilaksanakan di enam etape secara estafet dimulai pada 14 Desember hingga 19 Desember 2018. Menempuh rute Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Boalemo, Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Bone Bolango.

Berbagai kegiatan dilakukan di setiap titik di antaranya penyaluran bantuan sosialberupa sembako, perlengkapan sekolah, pemberian hak-hak sipil (akta nikah dan akta lahir), bingkisan mainan untuk anak-anak, alat bantu disabilitas, alat bantu lansia, solar panel, rehabilitasi rumah tinggal layak huni, bantuan sarana dan lingkungan, permodalan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), kendaraan Dapur Umum Lapangan (Dumlap), bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), pengobatan masyarakat, operasi katarak, donor darah, dan pelatihan tata boga bagi anak putus sekolah