Oleh : Novi Mulya, dkk

Siapapun yang telah mengenal ibu kota pasti akan menghindar pergi pada saat rush hours. Apalagi jika berpergian menggunakan kereta commuter line maka bersiap–siaplah tergencet. Jika pertama kali merasakannya pasti hanya merasa lucu dan tertawa karena bagaimana bisa manusia saling gencet-gencetan di dalam kereta. Namun, setelah beberapa hari pergi dan pulang dengan kondisi yang sama, apalagi jika ada hal-hal mendesak yang harus dikejar, maka tidak ada toleransi menunggu hingga rush hours berakhir. Bisa masuk gerbong kereta saja sudah syukur, entah di dalam jadi “penyet” ataupun “pecel” itu urusan belakangan. Masuk gerbong kereta commuter line dalam kondisi rush hours itu merupakan suatu pencapaian yang luar biasa.

Commuter line atau yang dikenal dengan KRL (Kereta Rel Listrik) merupakan salah satu pilihan transportasi masal bagi masyarakat yang menghubungkan DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. KRL merupakan salah satu alternatif kendaraan yang banyak dipilih masyarakat terutama di waktu berangkat dan pulang bekerja karena harga tiket yang terjangkau dan dapat meminimalisir keterlambatan (Jakarta, 2017).

Pertama kali kereta api di Jakarta direncanakan oleh para pakar dari perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang bernama Staats Spoorwegen(SS), dibangun pada tahun 1917 untuk lintas Tanjung Priok- Meester Cornelis (Jatinegara) yang diresmikan pada April 1925. Kemudian dikembangkan untuk lintas Jakarta Kota dan berkembang hingga sekarang ke wilayah barat Jakarta dan wilayah timur Jakarta. KRL sempat berhenti beroperasi selama sekitar satu tahun, pada akhir tahun 1955 dan kembali beroperasi pada November 1996 (Koten, 2017).

Perkembangan KRL dapat terlihat dari kondisinya yang dulu kotor, kumuh, banyak penjual kaki lima berkeliaran di stasiun dan dalam kereta, panas ditambah lagi pengamen serta jumlah penumpang yang berdesak – desakan hingga ada juga yang mengambil resiko duduk di atap kereta. Saat ini dapat kita lihat transformasi besar – besaran yang dilakukan PT KAI untuk meningkatkan pelayanan (Iskandar, 2017).

Hal ini dapat kita lihat dengan fasilitas commuter line yang ada saat ini selain sudah menggunakan AC, kebersihannya pun dijaga selain itu pada gerbong wanita di siapkan petugas pengamanan yang selalu siap membantu.

Hingga Agustus 2017, rata-rata jumlah pengguna KRL per hari mencapai 993.804 orang pada hari kerja, dengan rekor jumlah pengguna terbanyak yang dilayani dalam satu hari adalah 1.065.522 orang. DKI Jakarta merupakan gambaran daerah yang memiliki tingkat kemacetan yang tinggi.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2016, Jakarta mengalami peningkatan pada jumlah kendaraan yang melintas setiap harinya pada periode 2014-2015, dengan rata-rata peningkatan sebesar 9,93% per tahun. Data pengguna transportasi di DKI Jakarta menunjukan pada tahun 2015 penggunaan Tansjakarta/Busway sebanyak 102.950.384 orang per tahun, Sedangkan Kereta Api mengalami peningkatan secara signifikan sebesar 10,75 % per tahun dengan pengguna sebesar 257.530.185 orang per tahunnya (BPS Provinsi DKI Jakarta, 2016). Dengan demikian commuter line masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat Jabodetabek.

Selain mampu mengangkut penumpang yang banyak, commuter line juga mampu mengangkut barang dalam jumlah besar secara cepat, aman dan relatif murah. Namun, dampak adanya commuter line tentu saja mempengaruhi kepadatan lalulintas disekitar pintu kereta sehingga menimbulkan kemacetan yang cukup panjang.

Penggunaan kereta sebagai pilihan utama masyarakat Jabodetabek, jika dibandingkan dengan kota besar di negara Singapura dapat kita lihat MRT yang merupakan angkutan umum paling efisien selain murah, namun tidak berdesak-desakan seperti di Indonesia khususnya DKI Jakarta (Han, 2017).

Transportasi umum seperti KRL memang sangat membantu masyarakat, khususnya yang tak mau menggunakan kendaraan pribadi, menuju tempat tujuan. Tapi, apakah commuter line yang disediakan oleh PT KAI sudah dikatakan cukup? Baik dari segi pelayanan maupun jumlah kereta yang beroperasi setiap hari. PT KAI Indonesia menjelaskan bahwa mereka tetap melakukan perbaikan pelayanan baik ticketing, jumlah kereta yang beroperasi, hingga perluasan wilayah cakupan. Harapannya agar masyarakat dapat dengan nyaman menggunakan commuter line dan mampu menampung lebih banyak penumpang dari sebelumnya.

Bayangkan saja pengguna commuter line Indonesia yang kerap disebut sebagai anker (anak kereta, red) begitu anarkis antar sesama penumpang. Tidak peduli dengan penumpang turun. Kejadian – kejadian yang sering terjadi di dalam kereta mulai dari adu mulut sesama penumpang, penumpang yang mengejar pintu sebelum yang akan ditutup, penumpang membawa anak kecil yang tidak mendapatkan tempat, belum lagi kaki atau tangan anak kecil yang terjepit di sela pintu KRL, pekerja yang tidur sambil berdiri, atau satu pegangan tangan yang dipakai oleh 4 hingga 5 orang, hingga bawaan penumpang lain yang menjepit penumpang lain. Entah sadar atau tidak, commuter line menimbulkan stres bagi penggunanya.

Menurut penelitian Evans & Wener (2006), keadaan padat penuh sesak dapat mempengaruhi tekanan psikologis dan keadaan itulah yang terjadi di commuter line ketika pagi dan sore hari. Menurut Saworno (1995), dampak psikologis akibat kepadatan dapat menimbulkan reaksi fisiologi, emosi, dan sosial.

Hubungan antara stres dan konsekuensi fisiologis merupakan hal yang kompleks dan dapat secara potensial menimbulkan hal yang serius bagi kesehatan individu yang tidak dapat atau tidak mengatasi stresor yang memancing stress. (Sarwono, 1995)

Dengan adanya stres dalam perjalanan menuju tempat kerja yang dialami terus menerus dapat mendorong timbulnya stres kerja. Bagaimana tidak? Stres yang dialami ketika terhimpit dan berdesak – desakan dengan orang di dalam kereta tidak akan serta merta hilang ketika anda turun dari gerbong. Karena terkadang yang terjadi ketika penumpang akan turun pun, banyak penumpang lain yang akan naik mendesak masuk ke dalam kereta sebelum mereka turun. Sehingga tidak jarang peningkatan emosi yang terjadi selama perjalanan di kereta terbawa sampai ke tempat kerja.

Dalam buku Asnawi, Schult & Schult mengatakan bahwa stres kerja merupakan gejala psikologis yang dirasakan mengganggu dalam pelaksanaan tugas sehingga dapat mengancam eksistensi diri dan kesejahteraannya (Mahfud, 1999). Sumber stres dan kapasita diri yang menentukan, apakah respon bersifat positif ataukah negatif. Maka secara tidak langsung stres dalam perjalanan dapat mempengaruhi produktivitas kerja seseorang, seperti performa di kantor, hasil usaha, dan prestasi akan menurun. Lambat laun dampak stres ini dapat merugikan pihak perusahaan tempat orang tersebut bekerja.

Pendirian Commuter line sebenarnya berawal dari keinginan para stakeholdernya untuk lebih fokus dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dan menjadi bagian dari solusi masalah transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Namun masih terdapat kendala dalam pemberian kualitas layanannya terutama mengenai kepadatan penumpang disaat Rush Hour. Hal ini menimbulkan stres bagi pengguna commuter line terutama pengguna yang bekerja. Tidak heran jika pengguna commuter line pada jam sibuk menjadi lebih agresif, cepat marah, dan rasa untuk menolongnya lebih berkurang misalnya, tidak adanya kesadaran pada penumpang untuk memberikan kesempatan duduk secara bergantian pada penumpang prioritas ketika rush hour.

Solusi yang ditawarkan atas permasalahan tersebut dapat berupa penambahan jumlah gerbong sehingga kepadatan penumpang dapat dikurangi, dan juga penambahan jadwal dengan menambahkan jadwal keberangkatan commuter line akan membantu mengurangi jumlah penumpang yang menaiki commuter line di rush hour. Melakukan problem-focused coping dilakukan dengan mempelajari keterampilan – keterampilan atau cara – cara baru mengatasi stres seperti liburan, memelihara binatang/tanaman, dll (Mahfud, 1999). Bagi pengguna jalan raya dengan lewatnya kereta akan menimbulkan kemacetan sehingga perlu dilakukan pembenahan insfrastruktur jalan yang melewati pintu kereta seperti ditambahkannya flyover atau underpass untuk menghindari pintu kereta.