Beijing – Jajaran pejabat Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian melakukan studi banding di China sebelum berubah menjadi Universitas Keamanan.
“Jadi dengan berbagai pertimbangan, kami memilih RRT ini untuk mengembangkan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian menjadi suatu universitas,” kata Ketua STIK Inspektur Jenderal Polisi Dr Sigid Tri Hardjanto.
Dalam kunjungannya ke China hingga 3 November 2017, pimpinan STIK akan melakukan diskusi dengan pimpinan Bejing Police Academy, People’s Public Security University of China (PPSUC) dan Kementerian Keamanan Publik China.
“Dengan PPSUC nanti, kami akan diskusi kira-kira program-program studi apa saja yang selaras dengan yang bisa kami kembangkan di universitas nanti,” ujarnya saat ditemui di Kedutaan Besar RI di Beijing.
Setelah melaksanakan studi banding, lanjut Sigit, diharapkan dalam satu atau dua tahun ke depan Universitas Keamanan tersebut sudah terbentuk.
Menurut dia, dengan berubahnya status dari sekolah tinggi menjadi universitas, memberikan peluang kepada masyarakat umum untuk melanjutkan pendidikan di lembaga tersebut.
“Ada beberapa program studi yang khusus untuk polisi dan ada juga program studi untuk masyarakat umum. Sekarang S2 dan S3 sudah ada. Nanti dikembangkan menjadi satu universitas,” katanya.
Sementara itu, Wakil Dubes RI untuk China Listyowati menyambut baik kunjungan civitas akademika STIK itu. “Mereka memang perlu mempelajari lembaga pendidikan kepolisian di sini bagaimana cara mendidik kadet atau siswanya,” katanya.
Saat menerima pimpinan STIK, Listyowati menjelaskan hubungan Indonesia-China dan beberapa program kerja sama yang dicapai oleh kepolisian kedua negara. (Ant)



































