Jenewa – Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menerangkan penggunaan kata pandemi untuk menggambarkan wabah corona sekarang telah diperhitungkan secara matang.
Tedros menyatakan kata itu ditujukan untuk menjelaskan perkembangan wabah corona sejelas-jelasnya, bukan untuk membuat kepanikan. Pandemi sebagai definisinya ditujukan untuk menjelaskan kondisi di mana penyakit menjadi wabah yang mengedar dalam cakupan geografi yang luas.
“Pandemi bukanlah kata untuk digunakan dengan ringan atau sembrono. Ini adalah kata yang, jika disalahgunakan, dapat menyebabkan ketakutan yang tidak masuk akal, atau penerimaan yang tidak dapat dibenarkan bahwa pertarungan telah berakhir, yang mengarah pada penderitaan dan kematian yang tidak perlu.”, terang Tedros dalam konferensi pers di Jenewa pada Rabu (11/3/20).
Dilansir dari Worldometer hingga kamis (12/3/20) jumlah kasus corona telah mencapai 126,367 dari 118 negara.
Tedros mengatakan angka itu memang benar besar adanya. Namun, tidak sepenuhnya menggambarkan realita di lapangan
“Seperti yang saya katakan pada hari Senin, jika hanya melihat jumlah kasus dan negara yang terkena dampak tidak menceritakan kisah selengkapnya karena 90% kasus itu hanya terdapat dalam 4 negara, dua di antaranya Tiongkok dan Korea Selatan – itu pun kedua negara tersebut memiliki epidemi yang menurun secara signifikan.”, tambah tedros.
Lebih lanjut, Worldometer juga melaporkan bahwa jumlah angka penyembuhan atas kematian virus corona juga lebih besar, yaitu 68,304 berbanding 4,633.
Tedros dan seluruh jajaran WHO pun yakin dengan pernyataan pandemi yang dikeluarkan sebab mereka rasa telah melakukan hal yang benar dan perlu.
“Kami bersama ini, untuk melakukan hal yang benar dengan tenang dalam melindungi warga dunia. Itu bisa dilakukan.”, pungkas Tedros. (Bonny)


































