SAHABAT RAKYAT, Probolinggo – Program Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) kian menunjukkan dampak nyata sebagai instrumen pemerataan pendidikan, dengan menghadirkan akses belajar berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera sekaligus membangun generasi berdaya saing.
Dampak tersebut tercermin dari perjalanan dua siswa SRT 7 Kota Probolinggo, Riski Aulia dan Elang Khoirul Ramadan, yang mampu mengubah keterbatasan ekonomi menjadi energi untuk berprestasi dan menata masa depan.
Riski Aulia, siswa kelas VII, mengaku sempat dihadapkan pada pilihan sulit saat hendak melanjutkan pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga—dengan ayah bekerja serabutan dan ibu di usaha laundry—membuatnya ragu menentukan langkah.
Ia bahkan telah diterima di salah satu SMP negeri di Kota Probolinggo sebelum akhirnya memilih Sekolah Rakyat setelah mendapatkan informasi dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Awalnya saya tidak tahu Sekolah Rakyat itu apa. Saya sudah diterima di sekolah lain, tapi kemudian ditawari untuk masuk ke sini,” ujar Riski, di Probolinggo, Kamis (16/4/2026)
Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan dari keluarga karena harus tinggal jauh dari orang tua. Namun, pertimbangan keberlanjutan pendidikan menjadi alasan utama Riski mengambil pilihan tersebut.
“Saya berpikir, kalau tidak mengambil kesempatan ini, kondisi ekonomi keluarga bisa menjadi hambatan untuk sekolah ke depan,” ungkapnya.
Di SRT, Riski merasakan perubahan signifikan. Sistem pendidikan berasrama dengan fasilitas lengkap membuatnya dapat fokus belajar tanpa terbebani biaya hidup, sekaligus mengembangkan minat baru seperti bahasa Jepang dan teknologi digital.
“Belajar jadi lebih tenang, kebutuhan terpenuhi, dan saya bisa mencoba hal baru seperti coding dan bahasa Jepang,” katanya.
Sementara itu, Elang Khoirul Ramadan, siswa kelas VII berusia 13 tahun, menunjukkan capaian berbeda dengan meraih juara Olimpiade IPA tingkat kota dan kabupaten.
Elang yang sebelumnya tinggal bersama neneknya yang berprofesi sebagai penjual gorengan, mengaku lingkungan disiplin di Sekolah Rakyat menjadi titik balik dalam membentuk karakter dan meningkatkan motivasi belajar.
“Sejak masuk, saya lebih disiplin, rajin beribadah, dan semangat belajar. Di asrama, pembelajaran berlanjut dengan pendampingan,” ujarnya.
Prestasi yang diraih Elang tidak lepas dari pembinaan intensif guru, termasuk pelatihan khusus menghadapi kompetisi. Ia pun kini menargetkan cita-cita menjadi prajurit TNI sebagai bentuk pengabdian sekaligus upaya mengangkat derajat keluarga.
Model pendidikan berasrama yang diterapkan SRT dinilai memberikan nilai tambah dibanding sekolah reguler, karena tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian.
Meski harus beradaptasi dengan kehidupan jauh dari keluarga, dukungan emosional tetap terjaga melalui komunikasi rutin dan kunjungan berkala.
Kisah Riski dan Elang menjadi bukti bahwa intervensi pendidikan yang tepat sasaran mampu memutus rantai kemiskinan dan membuka peluang baru bagi generasi muda.
Dengan pendekatan terintegrasi antara pendidikan, pembinaan karakter, serta pemenuhan kebutuhan dasar, Sekolah Rakyat Terintegrasi terus didorong sebagai model pembangunan sumber daya manusia yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. (Red)
































