Madrid/Barcelona – Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy mengatakan, ia tidak mengesampingkan kekuasaan konstitusional cabut status otonomi Katalunya jika kawasan itu mengklaim kemerdekaan. Sementara, puluhan ribu orang turun ke jalan menyerukan pembicaraan mengenai langkah politik tersebut.
Katalunya, kawasan kaya di bagian timur laut Spanyol, yang memiliiki bahasa dan budaya sendiri, mengadakan referendum mengenai kemerdekaan pada 1 Oktober. Mahkamah Konstitusi Spanyol telah menyatakan pemungutan suara itu ilegal.
Hingga kini, Rajoy masih belum jelas apakah dia akan mengambil tindakan sesuai dengan pasal 155, yang disebut opsi nuklir, dari konstitusi itu. Berdasarkan pasal itu ia bisa memecat pemerintah regional dan menyerukan pemilihan lokal yang baru.
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Spanyol, El Pais, Rajoy ditanya apakah ia siap menggunakan pasal 155 konstitusi Spanyol, dan mengatakan,”Saya sama sekali tidak mengesampingkan apapun sesuai undang-undang. Idealnya, tak perlu melaksanakan solusi ekstrim tetapi jangan sampai ada hal-hal terjadi yang akan diubah.” Ribuan orang berkumpul di Madrid dan Barcelona pada Sabtu dan banyak yang berpakaian putih, sementara Katalunya siap menyatakan kemerdekaan.
Mereka menyerukan pembicaraan untuk mengatasi krisis politik terburuk Spanyol selama bertahun-tahun. Penguasa Katalunya menyatakan, mayoritas mereka atau 90 persen memberikan suara mendukung pemisahan dari Spanyol, yang Madrid katakan ilegal berdasarkan konstitusi negara itu pada 1978. Krisis politik itu memecah negara tersebut, menyebabkan bank dan perusahaan memindahkan kantor pusatnya keluar Katalunya dan menggoyahkan kepercayaan pasar dalam ekonomi Spanyol.
Melihat perkembangan tersebut, Komisi Eropa menyerukan pemimpin Catalonia dan Spanyol untuk mencari solusi politik. “Saya telah datang karena saya sangat merasa sebagai orang Spanyol dan membuat saya sangat sedih atas apa yang yang telah terjadi,” kata Rosa Barras, 47, yang turut serta dalam aksi tersebut di bagian tengah Madrid.
Borras, yang memakai stiker bertuliskan, “Katalunya, kami cinta kamu, dan dikerumini ribuan orang yang mengibarkan bendera-bendera Spanyol, menambahkan,”Saya ingin berada di sini demi persatuan, karena saya juga merasa orang Katalunya. Keluarga saya tinggal di Katalunya.” Mediasi Sementara pemimpin Katalunya Carles Puigdemont telah mengatakan ia terbuka untuk melakukan mediasi, PM Rajoy tetap mendesak kawasan itu agar tidak memerdekakan diri. Keinginan Katalunya untuk merdeka makin menguat selama krisis ekonomi yang berlangsung hampir enam tahun sebelum PM itu duduk untuk berunding.
Pemerintahan Rajoy memobilisasi ribuan polisi nasional untuk menghentikan pemungutan suara Ahad, menimbulkan bentrokan-bentrokan dengan orang-orang yang akan memberikan suara sementara mereka berusaha menutup tempat-tempat pemungutan suara di sekolah-sekolah dan mengambil kotak-kotak suara.
Kekerasan polisi mengundang kecaman keras dan memaksa pemerintah mengeluarkan permohionan maaf pada Jumat walaupun ketegangan terus meningkat setelah ada laporan bahwa rencana deklarasi kemerdekaan sepihak akan diserahkan kepada parlemen Katalunya pada Selasa. (Ant)



































