Jakarta – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)A Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dinilai layak diperhitungkan dalam pertarungan politik di Pemilu Presiden 2019.
Ketua Pandu Indonesia M Rodli Kaelani mengatakan, walaupun masih ramai kontestasi pada konfigurasi untuk posisi cawapres, nama Cak Imin termasuk sangat layak diperhitungkan sebagai Cawapres pada Pilpres 2019.
Ia berpandangan, Cak Imin merupakan pemimpin yang berjiwa nasionalis religius terbukti dengan latar belakang beliau sebagai santri, memiliki kepedulian terhadap isu kebangsaan yang selalu diaktualisasikan, memiliki basis massa yang kuat dimayoritas elemen masyarakat Indonesia dan bervisi Indonesia masa depan mewakili generasi pascareformasi.
“Dan yang utama Cak Imin juga ketua umum partai politik sebagai modal awal bertarung di Pilpres 2019,” katanya dalam diskusi Poros Pemuda Indonesia (PPI) dengan tema ‘Matematika Pilpres 2019 di Mata Pemuda’.
Selain itu, kata dia, Cak Imin sebagai seorang politisi yang berlatar belakang aktivis dan sebagai pemimpin organisasi umat Nahdliyin, menjadikannya telah memiliki basis massa yang kuat di berbagai kalangan masyarakat Indonesia, dari kalangan pemuda/pemudi, pemerintah, pengusaha, politisi, akademisi dan petani.
“Sehingga dapat diprediksi bahwa Cak Imin memiliki nilai jual dibandingkan bakal cawapres lainnya yang akan muncul di Pilpres 2019 nantinya,” kata Rodli.
Cak Imin juga memiliki modal 11 juta suara PKB pada pemilu 2014. Suara itu bisa menjadi kontribusi untuk memenuhi ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) sebesar 25 persen. Cak Imin sudah memiliki syarat kuat di basis massa seluruh elemen masyarakat Indonesia.
“Siapapun yang menggandeng Cak Imin akan dapat suara masyarakat Indonesia pada Pilpres 2019,” tuturnya.
Rodli menjelaskan ada beberapa indikator yang dapat digunakan dalam menilai dan menentukan figur publik yang layak dalam memimpin NKRI melalui momentum Pilpres 2019 yaitu pertama, rekam jejak secara pribadi maupun relasi sosialnya, kedua figur yang reprensentatif mewakili visi generasi dan kaum muda Indonesia di masa depan.
Ketiga, sosok yang nasionalis religius; dan keempat, memiliki basis sosial yang kuat diseluruh elemen masyarakat Indonesia Berdasarkan hal tersebut, ujar pria yang akrab disapa Bang Odie ini, dinamika di lapangan mengerucutkan beberapa yang reprensentatif menjadi baik capres termasuk Jokowi.
Komisioner ORI La Ode Ida mengatakan, bahwa kepemimpinan 2019 akan sangat ditentukan empat faktor. Pertama, komposisi nasionalis religius. Komposisi ini masih sangat relevan karena Muslim sangat mendominasi, bahkan kalau umat Islam bersatu, siapapun calonnya akan menang.
Kedua, mempunyai basis massa yang solid. Dalam hal ini pimpinan parpol sangat menentukan karena punya basis massa yang ril. Ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah juga sangat menentukan.
“Ketiga, momentum isu dan ke empat, adalah tidak punya masalah hukum,” katanya.
Sementara itu, anggota DPR dari Fraksi Demokrat Khatibul Umam Wiranu mengatakan Indonesia harus melahirkan pemimpin muda, misalkan politisi yang masih muda seperti Cak Imin, Romahurmuziy, Agus Harimuti Yudhoyono, dan Sohibul Iman.
“Bila bersatu untuk melahirkan pemimpin muda saya kira akan sangat kuat,” katanya. (Ant)






























