Jakarta – Pemerintah Jepang akan memberangkatkan sebanyak 30 pemuda-pemudi yang berasal dari pesantren dan organisasi masyarakat Islam Indonesia ke Jepang dengan tujuan untuk saling memperdalam pemahaman antara warga Jepang dan masyarakat Islam di Indonesia.

“Pertukaran warga antara kedua negara juga penting dan sedang dikembangkan sebagai dasar kerja sama. Sebagai salah satu upaya, pemerintah Jepang mengundang 30 orang Indonesia ke Jepang, yang terdiri dari 10 orang guru/pemimpin pesantren, 10 orang dari Nahdlatul Ulama dan 10 orang dari Muhammadiyah,” kata Wakil Duta Besar Jepang di Indonesia Kozo Honsei dalam acara pelepasan bersama para peserta di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta, Senin.

Para peserta tersebut tergabung dalam dua program berbeda yakni Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang yang diadakan setiap tahun sejak 2004, dan program JENESYS yang diselenggarakan sejak 2016.

Dalam Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang pada 2017, pemerintah Jepang akan mengundang sembilan guru/kepala sekolah dari pesantren dan satu orang pendamping Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM-UIN) ke Jepang selama 3-12 Oktober 2017.

Sedangkan melalui program JENESYS, Jepang akan mengundang 20 orang pemuda-pemudi dari organisasi masyarakat Islam yang terdiri dari 10 orang dari Nahdlatul Ulama (NU) dan 10 orang dari Muhammadiyah selama 3-10 Oktober 2017.

Sejak 2004 hingga saat ini, sebanyak 148 pimpinan dan guru pesantren melalui Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang sudah diberangkatkan oleh pemerintah Jepang untuk berkunjung ke negara itu. “Program ini terus berlanjut sampai sekarang karena saya berupaya mempertahankan anggaran untuk program ini,” tutur Kozo Honsei.

Sementara sejak 2016 sebanyak 20 orang yang terdiri dari 10 orang dari Nahdlatul Ulama dan 10 orang dari Muhammadiyah telah diberangkatkan ke Jepang melalui program JENESYS. “Program ini memiliki tujuan untuk mempererat pengertian satu sama lain antara masyarakat Jepang dan masyarakat muslim di Indonesia,” ujarnya.

Dia menuturkan selama di Jepang, para peserta berkesempatan berkunjung ke tempat yang berkaitan dengan pemerintahan, industri, agama, pendidikan dan sebagainya. Mereka juga akan mendapatkan pengalaman menginap dan tinggal bersama warga Jepang di rumah warga setempat sehingga dapat memperdalam pengetahuan dan pengertian tentang masyarakat Jepang baik tradisi dan kehidupan Jepang.

“Peserta dapat berinteraksi dengan warga Jepang secara aktif,” ucapnya.

Sebaliknya, masyarakat Jepang juga bisa memperoleh pengetahuan dan pengertian tentang Indonesia khususnya tradisi dan pemikiran sekarang di Indonesia. “Pengalaman baru dengan melihat, mendengar dan menyaksikan sesuatu yang belum pernah dilihat dan dirasakan sebelumnya,” tuturnya.

Dia menambahkan pada 2018, hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang genap berusia 60 tahun. Dia berharap hubungan bilateral dan kerja sama kedua negara semakin erat dan ditingkatkan.”Kami ingin meningkatkan kerja sama dan pertukaran warga kedua negara,” katanya.

Hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang dibuka pada April 1958 dengan Penandatanganan Perjanjian Perdamaian antara Jepang dan Indonesia. Sedangkan untuk pembukaan jalur penerbangan antara Jepang dan Indonesia diadakan pada 1963.

Ketua rombongan Muhammadiyah Wachid Ridwan mengatakan program tersebut akan mendorong hubungan yang semakin akrab antara Indonesia dan masyarakat Jepang. Dia menuturkan sepulangnya dari Jepang, para peserta akan membagikan pengalaman dan pengetahuan yang didapat selama tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat Jepang, termasuk nilai-nilai yang dipelajari selama kunjungan.

Sementara itu, ketua rombongan NU Imam Pituduh menuturkan pihaknya mengirimkan putra-putri Indonesia terbaik untuk pergi ke Jepang setelah melewati seleksi. “Mereka adalah ujung tombak bagaimana Jepang dan Indonesia bersinergi untuk membangun peradaban Jepang dan Indonesia mendatang,” ujarnya.

Dia mengharapakan hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang terus berlanjut, dan suatu saat NU dapat mengundang warga Jepang untuk datang ke Indonesia. “Yang kami kirimkan adalah mereka yang memiliki unsur prestasi dan pengabdian,” katanya.

Ketua rombongan PPIM UIN Laifa Hendarmin mengatakan program pertukaran warga tersebut sangat penting untuk memperdalam hubungan Indonesia dan Jepang.

“Selama ‘homestay’, semoga masyarakat Jepang juga belajar Islam dari Indonesia, dan orang Indonesia belajar dari budaya dan pendidikan Jepang di mana Jepang maju tapi tidak meninggalkan akar budayanya serta belajar kedisiplinan,” ujarnya. (Ant)