Stigma dan Diskriminasi Terhadap ODHA

Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang Yang Hidup Dengan HIV/AIDS) masih menjadi hambatan utama. Stigma berasal dari pikiran seorang individu atau masyarakat yang mepercayai bahwa HIV/AIDS merupakan akibat dari perilaku tidak bermoral dan tidak dapat diterima oleh masyarakat. Rentannya terhadap stigma dan diskriminasi menimbulkan ketakutan maka membuat mereka enggan untuk melakukan tes HIV/AIDS, rasa malu untuk memulai pengobatan, dan dalam beberapa hal, keengganan untuk menerima pendidikan tentang HIV. Stigma muncul karena tidak tahunya masyarakat tentang informasi HIV yang benar dan lengkap, khususnya dalam mekanisme penularan HIV, kelompok orang berisiko tertular HIV dan cara pencegahannya termasuk penggunaan kondom. Stigma merupakan penghalang terbesar dalam pencegahan penularan dan pengobatan HIV.

Stigma dan Diskriminasi
Isolasi sosial, penyebarluasan status HIV dan penolakan dalam berbagai lingkup kegiatan kemasyarakatan seperti dunia pendidikan, dunia kerja, dan layanan kesehatan merupakan bentuk stigma dan diskriminasi yang banyak terjadi. Stigma terhadap ODHA memiliki dampak yang besar bagi program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS termasuk kualitas hidup ODHA. Populasi berisiko akan merasa takut untuk melakukan tes HIV karena apabila terungkap hasilnya reaktif akan menyebabkan mereka dikucilkan. Orang dengan HIV positif merasa takut mengungkapkan status HIV dan memutuskan menunda untuk berobat apabila menderita sakit, yang akan berdampak pada semakin menurunnya tingkat kesehatan mereka dan penularan HIV tidak dapat dikontrol. Dampak stigma dan diskriminasi pada perempuan ODHA yang hamil akan lebih besar ketika mereka tidak mau berobat untuk mencegah penularan ke bayinya.

Penanggulangan
Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA muncul berkaitan dengan tidak tahunya seseorang tentang mekanisme penularan HIV. Kesalahpahaman atau kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS sering kali berdampak pada ketakutan masyarakat terhadap ODHA, sehingga memunculkan penolakan terhadap ODHA. Pemberian informasi lengkap, baik melalui penyuluhan, konseling maupun sosialisasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat berperan penting untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.

Keluarga merupakan lingkungan terdekat yang berinteraksi dengan ODHA. Stigma terhadap ODHA disebabkan karena keluarga merasa malu apabila mengetahui salah satu anggota keluarga adalah seorang penderita HIV sehingga ODHA mendapatkan tindakan diskriminasi dengan dikucilkan dari keluarga.

Tetangga merupakan seseorang yang secara hubungan sosial dekat dengan ODHA. Sikap seorang tetangga sangat penting terkait dengan pemberian stigma terhadap ODHA, karena dapat memengaruhi sikap orang lain terhadap ODHA. Stigma tersebut muncul karena tetangga beranggapan bahwa orang dengan HIV/AIDS membawa penyakit infeksi yang dapat menularkan ke orang lain dan penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan.

Dukungan sosial membuat penderita HIV/AIDS tidak merasa sendiri, merasa disayangi dan mereka lebih berpeluang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh ODHA memungkinkan peningkatan pengetahuan, saling berbagi informasi terkait HIV/AIDS serta meningkatkan kepatuhan terapi antiretroviral (ARV). Keterbukaan dan rasa nyaman yang dirasakan ODHA membuat mereka lebih mudah untuk menerima informasi.

Penulis : Aulia Rahma Litahayu (Mahasiswa FKM UI 2014)