Perempuan Berdaya, Majulah Bangsa

Kekuatan suatu negara salah satunya dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana peringkat IPM Indonesia adalah ke 110 dari 187 negara. Indikator-indikator yang menentukan IPM suatu negara diantaranya adalah angka harapan hidup, harapan tahun bersekolah, lama waktu bersekolah yang sudah dijalani oleh orang usia berusia 25 tahun, dan pendapatan nasional bruto.

Dalam peningkatan IPM membutuhkan partisipasi dari seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya bagi gender tertentu. Setiap gender memiliki keunikan sendiri, terutama terkait jenis kelaminnya, sehingga cara meningkatkan partisipasi mereka pun berbeda. Keunikan perempuan adalah ia menjadi peran kunci dalam siklus hidup manusia karena dialah satu-satunya jenis kelamin yang dapat melahirkan.

Sejak terlahir di dunia, perempuan memiliki tanggungjawab bagi keturunannya, yaitu melalui peran ibu yang mendidiknya dimulai dari ruh ditiupkan dalam kandungan hingga sepanjang hidupnya. Perempuan membutuhkan lingkungan yang mendukung bagi pendidikannya. Dukungan tersebut dapat diinisiasi dari keluarga dengan cara tidak membeda-bedakan antar gender siapa yang lebih berhak mendapatkan pendidikan lebih tinggi.

Perempuan yang berpendidikan tinggi memiliki akses informasi dan lebih berdaya dalam mengurus keluarga. Mereka akan mengusahakan asupan gizi terbaik, menjadi ‘sekolah pertama dan terbaik’ bagi anak-anaknya, dan lebih peka terhadap kebutuhan keluarga serta dirinya sendiri. Misal, saat kehamilan, dimana kondisi ini memerlukan perhatian khusus.

Kehamilan merupakan suatu kondisi yang dihasilkan dari peristiwa konsepsi pada perempuan. Selama kehamilan tubuh mengalami banyak perubahan secara anatomis dan fisiologis. Perkembangan janin di rahim ditentukan oleh bagaimana seorang perempuan merawat kehamilannya.

Perempuan berpendidikan tinggi dan berdaya cenderung lebih pro aktif terhadap segala perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan akan memanfaatkan kemudahan akses informasi untuk menggali berbagai pengetahuan terkait kesehatan janin dan dirinya serta mampu membuat keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan. Hal-hal tersebut menjamin kehidupan generasi yang lebih berkualitas di masa depan.

Kondisi yang berkebalikan pada perempuan yang tidak mendapatkan pendidikan yang adekuat sejak kecil dan mengalami subordinasi di lingkungan tempat tinggal. Rendahnya pendidikan perempuan membuat mereka lebih sulit untuk berdaya dan bersikap pro aktif. Ketidakberdayaan inilah yang nantinya akan berpengharuh terhadap pemeliharaan keluarganya. Mereka cenderung lebih bergantung terhadap suami atau keluarganya sehingga sulit membuat keputusan-keputusan yang menyangkut kesehatan dirinya.

Hal tersebut termasuk pada masa kehamilan. Mereka yang kurang pengetahuan akan menjadi kurang peduli terhadap kondisi tubuh dan janinnya. Tidak rutin periksa hamil dan tidak mengonsumsi makanan bergizi adalah perilaku-perilaku yang dapat muncul dari ketidaktahuan mereka. Padahal dampak dari perilaku-perilaku tersebut dapat berupa pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat sehingga generasi yang lahir menjadi tidak berkualitas, dan yang terburuk adalah terjadinya kematian ibu dan bayi. Apabila terjadi pada sebagaian besar perempuan di Indonesia, tentu kondisi ini akan menghambat kenaikan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia.

Negara perlu meningkatkan harapan bersekolah bagi perempuan hingga minimal sembilan tahun masa sekolah dengan cara memperbanyak beasiswa bagi yang tidak mampu serta mencerdaskan keluarga mereka tentang kesadaran gender, pentingnya pendidikan dan kesehatan untuk kesejahteraan bangsa. Dengan demikian, akan terciptalah generasi berkualitas yang memajukan bangsa di masa depan.

Oleh : Syahri Choirrini (Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI)