Mensos Lantik ASN Penyandang Disabilitas Menjadi Pejabat Tinggi Pratama Kemensos

Jakarta, – Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmitamelantik Pejabat PimpinanTinggi Pratama di lingkungan Kementerian Sosial dimana salah satunyaadalah penyandang disabilitas sebagai wujud komitmen dalam memberiruang kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) disabilitas dengan kemampuan kerja yang baik. Senin (26/08/2019)

“Ibu Eva kami tetapkan sebagai Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama bukan karena beliau
disabilitas. Tidak ada hubungannya dengan kondisi beliau tapi karena memang menurut
Panitia Seleksi (Pansel) Lelang Jabatan beliau memiliki nilai atau scoring yang
tertinggi,” kata Mensos kepada wartawan usai pelantikan yang berlangsung di Ruang
Rapat Utama Gedung Kemensos RI di Jakarta, Senin.

Eva Rahmi Kasim hari ini dilantik menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial. Eva adalah satu-satunya perempuan yang
dilantik dan merupakan penyandang disabilitas pertama di Indonesia menduduki
jabatan eselon 2. Sebelumnya ia menjabat sebagai Fungsional Analisis Kebijakan
Madya, Biro Perencanaan Kemensos.

Kelima pejabat yang lain yang dilantik hari ini adalah Sanusi sebagai Kepala Biro
Hukum, Laode Taufik Nuryadin sebagai Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat
Terpencil, Muhamad Safii Nasution sebagai Direktur Perlindungan Sosial Korban
Bencana Sosial, Hasim sebagai Kepala Pusat Penyuluhan Sosial, dan Beni Sujanto
sebagai Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial.

Dihadapan Menteri Sosial, Pejabat Tinggi Madya dan Pejabat Tinggi Madya yang
menyaksikan pelantikan, Eva membaca dengand lantang Pakta Integritas.

“Saya ingin menyampaikan pesan untuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas
bahwa tidak ada limit atau batasan bagi mereka untuk mengabdi kepada bangsa dan
negara, tidak ada batasan untuk memberikan kontribusi,” terang Mensos.

Pelantikan ini, lanjut Menteri, juga sejalan dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun
2016 tentang Penyandang Disabilitas pasal 11 huruf G yakni penyandang disabilitas
mempunyai hak memperoleh kesempatan dalam mengembangkan jenjang karir serta
segala hal normatif yang melekat di dalamnya.

“Saya berharap hal ini bisa menginspirasi para ASN penyandang disabilitas di seluruh
tanah air bahwa tak ada limit bagi mereka untuk bermimpi menempati menempati
jabatan atau posisi tertentu. Contohnya Ibu Eva yang meraih nilai terbaik berdasarkan
hasil seleksi terbuka dan terbukti kompeten di bidang yang beliau tekuni,” tegas
Mensos.

Sementara itu Eva Rahmi Kasim ditemui usai pelantikan mengaku senang sekaligus
bersyukur atas amanah dan kepercayaan yang diberikan.

“Bersyukur sekali karena mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa
mengaktualisasikan diri dan kesempatan yang sama untuk bekerja. Ini menunjukkan
bahwa kita semua setara. Bapak Mensos tadi juga menyampaikan bahwa penyandang
disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk menempati jabatan berdasarkan
kemampuan dan kompetensi masing-masing,” terangnya dengan mata berbinar-binar.

Ia juga menuturkan proses seleksi jabatan dilaluinya sama seperti peserta yang lain.
Dimulai dari proses seleksi administrasi, penyampaian makalah, seleksi kompetensi
hingga proses wawancara.

“Ke depannya sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo dan Menteri Sosial, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial akan menghasilkan riset-riset
yang dapat menjadi bahan pertimbangan pembuatan keputusan dan kebijakan untuk
mengatasi berbagai masalah-masalah sosial. Jadi setiap masalah-masalah sosial
diatasi berdasarkan riset atau penelitian,” ujar Eva.

Eva Rahmi Kasim, lahir pada tanggal 23 Juli. Ia mendapatkan penghargaan Lencana
Karya Satya dari Presiden RI pada tahun 2019 atas pengabdiannya selama 20 tahun
sebagai ASN. Ia pernah menerima Australian Alumni Award dari Pemerintah Australia
untuk kategori Tokoh Inspirasional. Ia juga menulis berbagai artikel tentang isu
disabilitas yang diterbitkan oleh berbagai media nasional.

Eva merupakan alumni S-1 Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Indonesia (UI)
kemudian melanjutkan S-2 di jurusan Ilmu Disabilitas, Deakin University, Melbourne,
Australia. (Adv)