Tolak WTPM, BEM IM FKM UI Akan Kampanye Damai

Depok – Rencananya, Badan Eksekutif Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (BEM IM FKM UI) akan melaksanakan kampanye damai saat car free day di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (24/04/2016). Aksi damai dilaksanakan terkait pelaksanaan Pameran bertajuk World Tobacco Process anda Machinery (WTPM) yang akan dilaksanakan di Jakarta.

Dalam keterangannya kepada sahabatrakyat.com, Ketua BEM IM FKM UI, Fauzan Budi Prasetya menjelaskan bahwa kampanye damai tolak WTPM dilaksanakan saat car free day adalah agar seluruh lapisan masyarakat Indonesia, termasuk Presiden Jokowi , tahu mengenai WTPM dan akhirnya mendukung penolakan ini.
“Kita ingin masyarakat indonesia, termasuk Presiden Jokowi , tahu mengenai WTPM dan akhirnya mendukung penolakan ini.” Ujar Fauzan.

“Kita juga menargetkan, WTPM atau sejenisnya angkat kaki dari tanah air kami dan tak akan kembali lagi kesini.” Ujarnya lagi.

Selanjutnya, Fauzan menjelaskan bahwa BEM IM FKM UI menolak WTPM karena cinta Indonesia.
”Kami cinta masyarakat Indonesia dan tak mau masyarakat kita semakin sakit karena rokok. Kami cinta bangsa ini karena karena kami tidak tahan bangsa ini diinjak – injak harga dirinya oleh industri rokok asing dengan memasarkan mesin produksi rokok mereka disini. Padahal, dinegara lain pelaksanaannya ditolak. Kami cinta generasi muda Indonesia karena kami tak rela generasi penerus kehidupan bangsa puluhan tahun yang akan datang, produktivitasnya rendah karena sakit degeneratif akibat asap rokok aktif maupun pasif.” Ujar Fauzan lagi dengan gaya khas mahasiswa.

Untuk diketahui, World Tobacco Process and Machinery (WTPM) adalah suatu acara pameran mesin rokok sedunia yang akan diselenggarakan di Jakarta International Expo Centre (JIExpo) Jakarta pada Rabu dan Kamis tanggal 27 – 28 April 2016. Acara yang hampir sama WTPM pernah juga dilaksanakan di Indonesia yaitu pada tahun 2012 di Jakarta dengan Tema World Tobacco Asia (WTA). Pada saat itu, WTA mendapatkan kecaman keras dari para aktivis dan mahasiswa sehingga saat itu Colin Case (Panitia Pelaksana) berjanji kepada mahasiswa bahwa mereka tidak akan kembali ke Indonesia untuk melaksanakan kegiatan yang sama. (A1)