Pendidikan Kewirausahaan Sangat Penting Dimasukkan Ke Kurikulum

Jakarta, – Akademisi dari sekolah bisnis dan teknologi Universitas Gloucestershire Inggris Prof Neil Towers mengatakan pendidikan kewirausahaan sangat penting dimasukkan ke dalam kurikulum di perguruan tinggi.

“Sangat penting sekali untuk memasukkan pendidikan kewirausahaan ke dalam kurikulum universitas, dan menilai apa saja tantangan yang muncul dalam menerapkan strategi tersebut secara kelembagaan,” ujar Neil dalam diskusi di Jakarta, Kamis (20/6).

Dia menambahkan perguruan tinggi perlu membuat ekosistem kewirausahaan sehingga begitu lulus kuliah, mahasiswa bisa menjadi pengusaha. Sama seperti perguruan tinggi di luar negeri contohnya Babson College, Amerika Serikat, yang mana mahasiswanya begitu lulus kuliah langsung membuka usaha sendiri.

Neil yang juga Ketua Proyek “Growing Indonesia-a-Triangular Approach” (GITA) mengharapkan dengan adanya konsorsium itu mempermudah kampus menciptakan iklim kewirausahaan. Melalui proyek GITA, tujuh perguruan tinggi di Indonesia tersebut akan menjadi “growth hub”, yakni sebagai tempat bagi akademisi, mahasiswa, alumni, perusahaan rintisan dan perusahaan-perusahaan untuk berkumpul, berbagi ide dan berkolaborasi.

Proyek GITA juga akan melibatkan kalangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang akan berbagi pengalaman tentang kewirausahaan.

Melalui cara-cara itu, “growth hub” yang diperkuat dengan jaringan pembelajaran, sebuah platform online yang bersifat terbuka bisa menjadi sarana untuk mengembangkan kapasitas kewirausahaan para pemangku kepentingan.

Pada tahap awal, konten jaringan pembelajaran disediakan untuk mereka yang tergabung dalam jejaring “growth hub” dari tujuh perguruan tinggi di Indonesia tersebut. Namun, di masa mendatang, jaringan pembelajaran yang lintas lembaga tersebut dapat berkembang hingga tingkat nasional.

Bahkan bisa menjangkau perguruan-perguruan tinggi lainnya, terutama yang ingin mengadopsi pendekatan triangular. Adanya growth hub yang berupa ruang fisik maupun virtual tersebut memungkinkan terciptanya kolaborasi antarperguruan tinggi dengan para pemangku kepentingan lainnya secara berkelanjutan.

“Maka akan terjadi dialog yang berkelanjutan tentang kurikulum, efektivitas pembelajaran, metodologi pengajaran, manfaat yang diperoleh oleh para pemangku kepentingan, peluang untuk berinovasi serta peningkatan kinerja ‘growth hub’ dan jaringan pembelajaran,” tambah dia.

Melalui proyek GITA untuk membuat tujuh perguruan tinggi di Indonesia bisa menjadi kampus kewirausahaan. Tujuh kampus itu yakni President University, Universitas Padjajaran, Universitas Negeri Semarang, Universitas Islam Indonesia (Yogyakarta), Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Brawijaya, dan STIE Malangkucecwar. (Ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here