Jakarta – Anggota DPR RI Rahmad Handoyo mendukung apa pun kebijakan pemerintah dalam upaya mencegah kasus COVID-19 meningkat pascalibur panjang akhir tahun.

Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo di Jakarta, Rabu, berpendapat bahwa Pemerintah melakukan apa pun demi melindungi rakyat Indonesia.

“Apa pun langkah, apa pun keputusan yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka untuk melindungi rakyat, pengendalian COVID-19, saya support, saya dukung,” katanya dalam keterangannya.

Terlebih, lanjut dia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan agar tetap waspada karena masih banyak warga yang belum disuntik vaksin COVID-19.

Rahmad Handoyo juga mengingatkan akan pengalaman sebelumnya bahwa kasus COVID-19 meningkat pascalibur panjang.

“Untuk itu, saya sangat mendukung sekali, sependapat sekali langkah pemerintah untuk pengendalian liburan panjang guna menekan COVID-19,” katanya.

Menurut dia, masyarakat tidak boleh abai protokol kesehatan walaupun pandemi saat ini relatif terkendali. Namun, kasus COVID-19 bisa meledak sewaktu-waktu.

Ia lantas menyarankan Pemerintah mengatur libur dan cuti bersama akhir tahun agar potensi lonjakan COVID-19 tidak terjadi.

Pada prinsipnya, kata Rahmad Handoyo, DPR mendukung sepenuhnya langkah pemerintah dalam upaya menekan dan mengendalikan COVID-19.

“Pengendaliannya sudah bagus ini untuk dipertahankan dan makin baik lagi pengendaliannya,” katanya.

Rahmad melihat euforia sebagian masyarakat saat ini cukup tinggi. Aktivitas dan mobilitas masyarakat yang meningkat harus diimbangi dengan aturan dan sosialisasi.

Ia juga mengakui vaksinasi menjadi salah satu senjata dalam pengendalian COVID-19. Oleh karena itu, protokol kesehatan yang ketat juga harus dibarengi dengan vaksinasi.

Menyinggung soal target 70 persen penduduk Indonesia telah divaksinasi di akhir tahun ini, dia yakin bisa tercapai karena tingginya antusiasme masyarakat.

Namun, dia mendorong agar stok vaksin di daerah bisa tercukupi untuk mencapai target tersebut.

Rahmad juga memandang perlu kerja keras dan dukungan masyarakat untuk bisa mencapai target itu.

Ia lantas mencontohkan Amerika Serikat dan Singapura mengalami ledakan kasus COVID-19 walaupun tingkat vaksinasi di negara itu cukup tinggi.

Menurut dia, ledakan gelombang ketiga COVID-19 bisa terjadi di Indonesia jika vaksinasi tidak diimbangi dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Nah, untuk itu tetap waspada, tetap ekstra terhadap kemungkinan gelombang ketiga, ya, dengan tidak boleh diangggap enteng, 5M atau protokol kesehatan itu harga mati yang tidak boleh ditawar,” katanya.

Selain itu, dia meminta agar jangan pernah menganggap bahwa COVID-19 itu sudah tidak ada karena kasus positifnya kini sudah landai.

“Ya, silakan beraktivitas tetapi tetap menghindari kerumunan yang padat, dan hindari ancaman gelombang ketiga itu dengan tetap protokol kesehatan ketat,” ujarnya. (Ant)