Kualitas pendidikan anak di tengah pandemi

Jakarta, Sahabatrakyat.com – Mempertanyakan seberapa jauh kualitas pendidikan yang diterima anak yang terpaksa bersekolah secara daring selama pandemi menjadi bagian keseharian orang tua saat ini.

Banyak orang tua tak puas dengan kondisi dan cara belajar daring yang diberikan guru dan sekolah di masa pandemi COVID-19. Namun, sebagian yang lain mengaku tak ingin memberikan beban berlebihan kepada anak di saat ini.

Anak-anak sudah cukup depresi dengan keadaan ketika mereka harus terkurung di rumah, dibatasi gerakannya, hingga tak boleh datang ke sekolah secara fisik. Itu sudah cukup mendatangkan rasa frustrasi tersendiri bagi anak.

Mau tidak mau mereka terpaksa belajar di tengah keterbatasan secara daring dan hampir dipastikan tak bisa seoptimal mendapatkan materi belajar dibandingkan hari-hari biasa.

Alasan keamanan dan kesehatan menjadi faktor utama yang menyebabkan sebagian besar anak-anak di Indonesia masih harus bertahan belajar daring sampai saat ini. Terlebih banyak daerah di Indonesia yang kini kembali mengalami peningkatan angka pasien yang terjangkit COVID-19.

Oleh karena itu, di tengah pandemi COVID-19 tampaknya bukan waktu yang ideal untuk mempertanyakan kualitas materi pendidikan yang diterima anak dari guru dan sekolahnya. Sebab tidak layak menuntut sesuatu yang ideal di tengah keterbatasan yang jauh dari kata ideal untuk mencapainya.

Psikolog dan peneliti mindful parenting Dewi Kumalasari mengatakan orang tua harus belajar menanamkan dalam diri bahwa belajar dari rumah secara daring ini bukan hanya tentang memenuhi tuntutan sekolah atau akademik tetapi kesempatan berharga untuk membentuk kemandirian belajar anak.

“Proses belajar selalu jauh lebih berharga dari hasil belajar,” kata psikolog yang juga dosen di Universitas Yarsi itu.

Ia menyarankan orang tua agar tetap menanamkan kebahagiaan dan mengajak anak membuat jadwal rutinitas harian yang konsisten dan fleksibel.

“Yang penting untuk mengatur waktu yang cukup untuk bersenang-senang, berolahraga, dan bersosialisasi. Membentuk kebiasaan belajar mandiri seperti meletakkan jadwal belajar atau rencana pembelajaran di tempat yang terlihat agar mudah diikuti,” katanya.

Gotong royong

Berbagai cara tetap ditempuh untuk menemukan jalan terbaik dalam upaya meningkatkan mutu dan prestasi anak di tengah pandemi.

Faktanya memang dunia pendidikan dihadapkan pada masa-masa sulit sejak awal pandemi COVID-19 merebak di tanah air. Pemerintah pun sejatinya telah menyusun strategi semaksimal mungkin agar proses belajar mengajar tidak terganggu bahkan tetap bisa maksimal meski dilakukan secara daring.

Hingga saat ini sudah sembilan bulan kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara daring dengan segala keterbatasan baik yang dirasakan siswa maupun para pengajar dan guru.

Keharusan memiliki telepon selular (ponsel) atau laptop (komputer) menjadi hambatan tersendiri bagi siswa yang selama ini ada yang tidak mengandalkan dua jenis gawai tersebut sebagai pendukung Belajar dari Rumah (BDR).

Hal ini juga berkaitan dengan kuota internet yang harus selalu terisi selama belajar daring, yang kadang menjadi kendala terbesar bagi siswa dan orang tuanya.

Dalam belajar daring diperlukan penerapan sejumlah aplikasi yang menjadi sarana pengajar untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.

Media penyampaian materi BDR bisa melalui platform online seperti youtube, google classroom, google meeting, zoom, ruang guru, quipper, dan aplikasi virtual lainnya cukup menguras kuota. Ini yang menjadi hambatan lain bagi siswa dalam mengikuti BDR.

Semua hambatan itu dialami juga oleh siswa dan orang tua siswa misalnya di SMAN 5 Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Dengan segala keterbatasan, siswa diupayakan tetap bisa mengikuti BDR. Dan sebanyak 891 siswa di SMAN 5 Tambun Selatan saat ini masih terus giat mengikuti BDR.

Kegiatan ini diperkirakan masih akan berlanjut, dan semua belum mengetahui sampai kapan hal ini harus dilakukan. Sejumlah orang tua siswa SMAN 5 Tambun Selatan memiliki pemikiran dan kepedulian pada kondisi ini dan tentu akan mempengaruhi kualitas dan prestasi siswa.

Melihat kondisi ini, orang tua siswa mengambil inisiatif secara swadaya dan bergotong royong (materi, pikiran, waktu, dan tenaga) untuk membantu mengatasi keterbatasan siswa dalam KBM.

Sarana multimedia

Aksi gotong royong orang tua siswa di sejumlah sekolah berwujud diantaranya dengan penyediaan sarana multimedia di sekolah yang tujuannya memudahkan proses BDR saat pembelajaran jarak jauh dan penyiaran kegiatan sekolah.

Selain itu gotong royong juga dilakukan untuk membenahi sarana dan prasarana sekolah lainnya seperti penataan taman sekolah, memperbaiki sarana olahraga sekolah yakni lapangan basket, futsal, serta lapangan voli.

Manfaat yang dirasakan saat kondisi pandemi yaitu peran aktif orang tua dalam proses BDR serta meningkatnya komunikasi yang baik antara pihak orang tua dengan sekolah (guru mata pelajaran dan wali kelas).

Terbukti dalam tiga bulan terakhir misalnya siswa SMA 5 Tambun dapat meraih prestasi akademik dan olahraga tingkat nasional diantaranya Olimpiade Nasional Fisika yang digelar Universitas Airlangga Surabaya, siswa kelas XII Ramandha Auryl menjadi juara I kemudian siswa kelas XI M. Faqih Maulana terpilih sebagai anggota tim Garuda Select U16 dan berkesempatan berlatih di Inggris dan Italia.

Kepala SMAN 5 Tambun Selatan, Ir. Hj. Sri Anarusi, M.P, pun mengapresiasi inisiatif orang tua siswa.

“Kami sangat bangga dan mengapresiasi seluruh daya upaya gotong royong orang tua siswa SMAN 5 Tambun Selatan,” ungkap Kepala SMAN 5 Tambun Selatan, Ir. Hj. Sri Anarusi, M.P.

Sinergi orang tua siswa dan guru SMA 5 Tambun ini diharapkan dapat memaksimalkan proses KBM yang mengalami perubahan sistem saat pandemi.

“Kami berusaha membuat yang terbaik untuk anak-anak kami saat ini dan mutu serta prestasi SMAN 5 Tambun Selatan ke depannya agar bersaing dengan sekolah-sekolah lain,” ujar Koordinator Orangtua Siswa Kelas X Jajat Sudrajat, S.E.

Upaya mempertahankan mutu atau kualitas pendidikan selayaknya bukan semata tanggung jawab sekolah atau guru. Dan bukan semata tuntutan satu arah dari orang tua ke guru.

Sebab orang tua bukan sekadar berkewajiban membayar SPP melainkan bersinergi menciptakan iklim belajar yang mendukung mutu pendidikan bukan hanya di sekolah tapi juga di rumah. Itu karena pendidikan bagi anak bukan semata tanggung jawab guru melainkan semua. (Ant)