Pemerintah Terbitkan “Global Bond” Tenor 50 tahun untuk Pertama Kalinya

Potret Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sumber: Istimewa

Jakarta – Pemerintah menerbitkan surat utang berdenominasi dolar AS (global bond) dengan tenor selama 50 tahun untuk pertama kali sepanjang sejarah. Hal itu dimaksudkan untuk mendukung APBN menuntaskan pandemi virus corona baru (COVID-19).

“Penerbitan tenor terpanjang yang pernah dilakukan oleh pemerintah ini secara implisit menggambarkan kredibilitas dan kepercayaan investor,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam jumpa pers melalui streaming di Jakarta, Selasa.

Sri Mulyani mengatakan surat utang seri RI0470 ini mempunyai tanggal jatuh tempo 15 April 2070 dengan nominal penerbitan satu miliar dolar AS serta imbal hasil 4,5 persen dan dilakukan secara elektronik tanpa adanya pertemuan fisik dan tatap muka dengan calon investor.

Penerbitan obligasi valas ini juga merupakan pertama kali yang dilakukan negara Asia Tenggara atau negara berkembang Asia sejak adanya pandemi COVID-19 meski saat ini sedang terjadi volatilitas di pasar keuangan dunia dan tantangan dari lingkungan global.

“Kita memang memanfaatkan tenor 50 tahun ini karena preferensi investor global terhadap bond jangka panjang cukup kuat, sehingga kita bisa melakukan penekanan dan mendapatkan yield cukup baik serta merefleksikan risiko dan appetitte investor,” ujarnya.

Dari sisi imbal hasil yang ditetapkan 4,5 persen, Sri Mulyani juga mengatakan yield ini lebih rendah dari global bond dengan tenor 10 tahun yang terbit pada 2018, yang memperlihatkan adanya kepercayaan dari investor atas reputasi Indonesia dalam mengelola pembiayaan.

“Kita juga menggunakan tenor 50 tahun untuk memanfaatkan kurva tenor jangka panjang yang cenderung flat. Ini artinya bahwa dalam jangka panjang tidak ada perubahan yield yang terlalu besar, sehingga risiko dan biaya tidak akan terlalu meningkat,” katanya.

Ia menambahkan penerbitan surat utang berjangka panjang 50 tahun ini juga bertujuan untuk menciptakan acuan tenor baru bagi Indonesia dan menyeimbangkan rata-rata profil jatuh tempo Surat Utang Negara (SUN) mengingat rata-rata permintaan pasar domestik pada tenor jangka pendek.

Selain menerbitkan RI0470, pemerintah pada saat yang bersamaan juga menerbitkan RI1030 dan RI1050 dengan masing-masing nominal sebesar 1,65 miliar dolar AS. Dengan demikian dari penerbitan tiga seri global bond ini maka pemerintah memperoleh pembiayaan 4,3 miliar dolar AS.

Seri RI1030 mempunyai tenor 10,5 tahun dengan tanggal jatuh tempo pada 15 Oktober 2030 serta mempunyai imbal hasil 3,9 persen. Sedangkan seri RI1050 mempunyai tenor 30,5 tahun dengan tanggal jatuh tempo pada 15 Oktober 2050 serta imbal hasil 4,25 persen.

“Kita menerbitkan ini untuk menjaga pembiayaan secara aman dan sekaligus menambah cadangan devisa bagi Indonesia. Pemanfaatan pembiayaan dari penerbitan ini sangat positif di tengah terjadinya turbulensi,” kata Sri Mulyani.