Indonesia Bisa Terancam Krisis Energi

Palembang – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan upaya mencari sumber minyak dan gas bumi baru dalam kondisi sekarang ini tidak sesuai dengan target yang diharapkan.

Target pencarian sumur migas baru berdasarkan data per Juli 2017 baru terealisasi 24 persen atau hanya 34 sumur dari 134 sumur baru yang ditetapkan.

Rendahnya realisasi target pencarian sumur migas pada tahun ini salah satunya dipengaruhi iklim investasi sektor migas yang kurang baik.

Berdasarkan kondisi tersebut, Humas SKK Migas Dian Sulistiawan pada saat membuka acara media gathering, seminar hulu migas, dan media kompetisi 2017, di Belitung, akhir Agustus 2017 mengatakan, pihaknya berupaya melakukan berbagai upaya memperbaiki iklim investasi agar bisa menarik investor menanamkan modalnya pada sektor migas sehingga target pencarian sumur migas baru bisa terpenuhi.

Jika iklim investasi sektor migas tidak segera diperbaiki, negara yang memilki potensi minyak dan gas bumi cukup besar ini terancam krisis energi.

Seandainya target pencarian sumur migas baru yang ditetapkan setiap tahun tidak terpenuhi, cadangan minyak dari sumur yang ada sekarang ini hanya cukup untuk 11 tahun ke depan.

Ancaman itu merupakan tantangan yang perlu diatasi dengan cepat sehingga Indonesia yang disebut-sebut sebagai negara yang memiliki potensi migas cukup besar bisa terhindar dari krisis energi, katanya.

Menurut dia, untuk menghadapi ancaman krisis energi, selain berupaya memperbaiki iklim investasi sektor migas sebagai upaya mencari cadangan baru, pihaknya juga berupaya mendorong masyarakat hemat dalam penggunaan energi migas.

Dalam kondisi sekarang ini, kemampuan produksi dalam negeri tidak bisa ditingkatkan untuk mengimbangi tingkat konsumsi yang trennya terus naik.

“Tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional mencapai 1,6 juta barel per hari sedangkan kemampuan produksi hanya 834 ribu barel/hari,” ujar Dian.

Untuk mengatasi tingginya konsumsi BBM produksi energi konvensional atau energi dari fosil, sekarang ini pihaknya mengatasinya dengan cara melakukan impor.

Jika tingkat konsumsi BBM masyarakat tidak berkurang, impor bahan bakar tersebut akan semakin besar dan membebani keuangan negara, katanya.

Maksimalkan Potensi Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berupaya memaksimalkan potensi energi yang ada di daerah setempat untuk mengatasi krisis energi, meningkatkan pendapatan asli daerah dan mensejahterakan masyarakat.

“Potensi energi provinsi ini tersedia cukup besar, namun hingga kini belum dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal, kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah yang bisa meningkatkan pemanfaatan potensi tersebut,” kata Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.

Provinsi yang memiliki 17 kabupaten dan kota ini kaya akan potensi daerah terutama energi seperti minyak, gas bumi, panas bumi, dan batu bara.

Guna memanfaatkan potensi daerah itu secara maskimal, pihaknya terus berupaya melakukan promosi ke berbagai negara potensial guna menarik investor datang dan menanamkan modalnya ke daerah ini.

Untuk mempromosikan potensi daerah tersebut, pihaknya berupaya melakukan kegiatan pameran di berbagai acara tingkat nasional dan internasional.

Sebagai upaya menarik minat investor untuk menanamkan modalnya ke provinsi ini, pihaknya juga berupaya bersinergi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait melakukan promosi potensi daerah dan memberikan kemudahan dalam memproes perizinan, ujar Gubernur.

Energi Baru Terbarukan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengajak investor mencari sumur atau sumber cadangan minyak dan gas baru.

Pejabat Humas SKK Migas Dian Sulistiawan mengatakan jika tidak dilakukan kegiatan pencarian sumur migas baru secara maksimal, negara yang memiliki potensi migas cukup besar tersebut terancam krisis energi dan bisa bergantung pada luar negeri.

Untuk mencegah terjadinya krisis energi, terutama bahan bakar minyak, selain mengupayakan kegiatan penemuan cadangan migas baru, pihaknya juga berupaya mengimbau masyarakat untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT).

Energi alternatif atau EBT merupakan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan murah. Energi alternatif itu mudah ditemukan masyarakat seperti tenaga surya, tenaga air, tenaga angin, dan gas metan dari sampah, katanya.

Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Dr Budhi M Suyitno mengatakan pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi untuk menyediakan cadangan energi dengan harga terjangkau dan dalam waktu panjang.

“Kita harus siap dengan cadangan energi yang kita miliki dari segala gempuran bencana alam, aksi terorisme dan juga permasalahan ekonomi,” ujarnya.

Saat ini cadangan energi baru disediakan oleh PT Pertamina, sedangkan energi yang bernilai “strategic research” belum banyak dikembangkan, padahal di negara-negara lain sudah dimanfaatkan.

“Negara-negara lain sudah bisa bertahan dari kecukupan energi dari 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan kita hanya mampu bertahan selama 3 minggu,” jelasnya.

Kondisi tersebut sudah harus mendapat penanganan segera, karena dengan ketahanan energi maka bisa menjadi pemicu ketahanan lainnya misalnya ketahanan pangan.

Sementara peneliti dari pusat penelitian internasional “Center for Internasional Forestry Research” (Cifor) Himlal Baral mengatakan, Sumatera Selatan kaya akan potensi EBT seperti bioenergi.

Daerah ini banyak terdapat potensi energi alternatif atau EBT yang merupakan sumber energi ramah lingkungan, murah, dan mudah ditemukan, sehingga keberadaannya harus dimanfaatkan dan dikembangkan secara maksimal, kata Himlal.

Sementara Sekda Palembag Harobin Mastofa menambahkan pihaknya berupaya memanfaatkan sampah menjadi energi pembangkit listrik.

Pemerintah Kota Palembang sekarang ini berupaya menjadikan sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai sumber tenaga pembangkit listrik.

Pengelolaan sampah dengan memanfatkan gas metan menjadi sumber EBT untuk pembangkit listrik itu dilaksanakan di tempat pembuangan akhir sampah Sukawinatan.

Pemanfaatan gas metan dari sampah di TPA Sukawinatan menjadi tenaga pembangkit listrik tersebut untuk sementara ini masih dalam skala kecil berkapasitas 0,5 Megawatt, dan segera ditingkatkan kapasitasnya dengan membangun insenerator 20 MW, ujar Harobin.

Ancaman krisis energi sepertinya disikapi positif oleh masyarakat dan berbagai pihak dengan mencoba memaksimlkan potensi migas dan memanfaatkan energi baru terbarukan.

Semoga kondisi bayang-bayang krisis energi bisa menjadi motivasi masyarakat dan berbagai pihak untuk mencari solusi terbaik dengan memaksimalkan pemanfaatan potensi migas dan EBT yang selama ini terabaikan. (Ant)