BUMDES dan Padat Karya Tunai Berperan Turunkan Kemiskinan Desa

Palembang – Peranan Dana Desa untuk menumbuhkan aktivitas ekonomi di desa mulai membuahkan hasil. Tingkat kemiskinan mulai menurun dalam empat tahun terakhir ini.

“Kami ada data 2015-2018, awal Maret 2015 yaitu awal program Dana Desa tingkat kemiskinan 14,12%, sekarang 13%. Ini juga membuat indeks kemiskinan kita saat ini berkurang dari 11,22% sekarang 9,66%,” ujar Sekjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Anwar Sanusi.

Demikian disampaikan Anwar Sanusi dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pembangunan Desa di Sumatra Selatan”, bertempat di Pendopo Griya Agung, Palembang, Sumatra Selatan, Senin (4/2/2019).

Anwar Sanusi menunjukkan sejak Dana Desa digulirkan secara efektif pada 2015 tingkat pengangguran di perdesaan turun menjadi 3,72%. “Program dana desa mampu memberikan kesempatam orang2 di desa untuk bekerja lebih lama, dan urbanisasi akan kita turunkan. Mereka hanya bersandar ke pekerjaan paruh waktu,” urai Sekjen Kemendes PDTT.

Dijelaskan, ada aspek yang didorong oleh kebijakan Dana Desa yakni menunjang aktivitas ekonomi masyarakat desa dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

Oleh karena itu, pihak Kemendes dengan dukungan kementerian/lembaga dan BUMN mendorong pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Sejak tahyn 2014 dari hanya 1.022 BUMDES sampai Desember 2018 sudah terbentuk 45.549. Padahal target di Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 hanya mendirikan 5 ribu BUMDES. Tenaga kerja yang terserap dalam kegiatan BUMDES mencapai lebih dari 1 juta orang. “Omzetnya kini sudah mencapai Rp1,16 triliun. Ini potensi BUMDES menjadi pilar ekonomi perdesaan. Sudah ada 145 BUMDES yang omsetnya sudah di atas 1 miliar,” jelas Sekjen Kemendes PDTT.

Sebanyak 89% BUMDES itu bergerak di bidang keuangan sisanya perdagangan dan wisata alam. Seperti salah satu BUMDES di Kabupaten Sleman, Yogyakarta yang memanfaatkan tanah desa untuk lokasi wisata. “Ternyata setelah dikelola 3 bulan omzetnya bisa mencapai Rp500 juta, karena setelah dikelola orang-orang datang dari berbagai daerah ke tempat wisata itu,” jelas Anwar Sanusi.

Tahun 2018 ini adalah satu momentum pemerintah mendorong Dana Desa untuk kegiatan Padat Karya Tunai. Menurut Anwar Sanusi, program Padat Karya Tunai tersebut didorong bukan sekadar untuk membukalapangan pekerjaan. “Program ini mendorong mindset masyarakat dari tangan di bawah menjadi tangan di atas atau budaya kerja,” jelasnya.

Dari total anggaran Dana Desa, alokasi Padat Karya Tunai dianggarkan Rp34,43 triliun. Sampai tahun 2018 ini telah disalurkan Rp9 triliun lebih dan melibatkan 8,8 juta orang.

Hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 hasil kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kantor Staf Presiden kali ini antara lain Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Mawardi Yahya dan Rektor Universitas Sriwijaya, Anis Saggaf. (Prwr/Jpp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here